BALIEXPRESS.ID-Sepintas, entil mungkin terlihat seperti lontong pada umumnya. Bentuknya pipih memanjang, dibungkus daun, kemudian direbus hingga matang. Namun, ketika dibuka dan disantap, makanan tradisional yang satu ini memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar urusan rasa.
Di sejumlah wilayah Kabupaten Tabanan, khususnya Kecamatan Pupuan dan Kecamatan Penebel, entil sudah lama dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat. Salah satu daerah yang masih mempertahankan keberadaan makanan ini adalah Desa Sanda, Kecamatan Pupuan.
Entil dibuat dari beras lokal yang biasanya dicampur dengan beras merah. Beras tersebut kemudian dibungkus menggunakan daun kalingidi atau talingidi, sejenis tanaman yang secara bentuk menyerupai pohon kunyit. Setelah dibungkus dan diikat menggunakan tali bambu, entil direbus selama kurang lebih lima jam.
Tokoh Adat Sanda, Wayan Sutana, mengatakan, entil memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Tidak hanya menjadi makanan sehari-hari, entil juga berkaitan dengan pelaksanaan ritual keagamaan masyarakat.
“Entil ini merupakan makanan tradisional yang sudah mengakar di masyarakat. Di Pupuan, entil juga digunakan sebagai salah satu sarana upacara ulihan yang dilaksanakan setiap 210 hari, tepatnya pada Minggu Wage Wuku Kuningan, enam hari sebelum Hari Raya Kuningan,” kata Sutana.
Menurutnya, keberadaan entil tidak bisa dilepaskan dari lingkungan alam masyarakat di sekitar lereng Gunung Batukaru. Hampir seluruh bahan yang digunakan dalam pembuatannya dapat ditemukan di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh di Tengah Modernisasi Bersama Holding Ultra Mikro BRI Group
Beras menjadi bahan utama. Biasanya digunakan beras lokal hasil pertanian masyarakat yang dicampur dengan beras merah. Daun kalingidi digunakan sebagai pembungkus, sedangkan tali bambu digunakan untuk mengikat. Garam menjadi penambah rasa, sementara air digunakan dalam proses perebusan.
Kesederhanaan bahan tersebut justru menjadi salah satu kekuatan entil. Masyarakat tidak membutuhkan bahan yang sulit ditemukan untuk membuat makanan ini.
“Bahan-bahannya sederhana. Beras ada dari hasil pertanian, daun kalingidi juga tumbuh di sekitar wilayah kaki Gunung Batukaru. Tali bambu juga tersedia. Jadi memang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sampai sekarang memang belum ditemukan bukti tertulis yang secara pasti menjelaskan kapan pertama kali entil dibuat. Karena itu, sejarah awal makanan ini masih menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Secara etimologis, entil kemungkinan berkaitan dengan istilah buntil atau bebuntilan yang berarti barang bawaan atau bekal. Dugaan tersebut menarik karena entil memang mempunyai karakter yang memungkinkan makanan ini dibawa dalam perjalanan.
Proses perebusan yang lama membuat entil relatif lebih awet dibandingkan nasi biasa. Kondisi tersebut sangat mungkin berkaitan dengan kehidupan masyarakat masa lalu yang melakukan perjalanan jauh.
Masyarakat di sekitar lereng Gunung Batukaru pada masa lampau tidak hanya hidup dari aktivitas pertanian. Mereka juga melakukan perjalanan menuju kawasan hutan untuk merabas hutan maupun membawa hasil bumi ke pusat-pusat kerajaan. Dalam perjalanan seperti itu, makanan yang tahan lebih lama tentu memiliki nilai praktis.
Baca Juga: Prabowo Perketat Tata Kelola Ekspor SDA, Devisa dan Hilirisasi Jadi Fokus
“Kalau melihat sifatnya, entil memang cocok sebagai bekal. Setelah direbus lama, entil lebih tahan dibandingkan nasi biasa. Jadi sangat mungkin sejak dahulu makanan ini dibawa ketika masyarakat melakukan perjalanan,” tutur Sutana.
Dari perspektif teknologi pangan tradisional, entil juga menunjukkan pengetahuan masyarakat dalam mengawetkan makanan. Tidak menggunakan teknologi modern, masyarakat memanfaatkan proses perebusan dalam waktu lama agar makanan menjadi lebih tahan.
Bahkan, kemungkinan keberadaan entil dapat dikaitkan dengan berkembangnya budaya bercocok tanam padi di Bali. Beras merupakan bahan utama makanan ini. Sementara itu, sejarah pertanian padi di Bali sendiri sudah dikenal sejak masa Bali Kuno.
Dalam Prasasti Sukawana A1 yang bertarikh 882 Masehi, misalnya, terdapat istilah huma yang berarti sawah. Berbagai prasasti Bali Kuno juga mencatat istilah berkaitan dengan sistem pertanian dan pengelolaan air, seperti kasuwakan yang berkaitan dengan wilayah subak dan undagi pangarung, yakni orang yang memiliki keahlian membuat terowongan air.
Catatan-catatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bali telah mengenal sistem pertanian padi dan pemanfaatan beras sebagai bahan pangan sejak masa lampau. Namun, belum dapat dipastikan bahwa entil telah ada pada masa tersebut. Hubungan itu lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan perkembangan olahan beras seiring dengan berkembangnya budaya pertanian masyarakat Bali.
Untuk membuat entil, beras terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Setelah itu direndam sekitar dua jam kemudian ditiriskan. Beras selanjutnya dicampur dengan sedikit garam agar memiliki rasa gurih.
Beras yang telah disiapkan kemudian diletakkan di atas selembar daun kalingidi. Takaran yang digunakan kira-kira satu sendok makan. Beras diratakan kemudian daun dilipat. Bagian kanan dilipat terlebih dahulu, disusul bagian kiri. Setelah itu sisi atas dan bawah dilipat ke bagian dalam hingga membentuk bungkusan pipih memanjang.
Agar tidak terbuka ketika direbus, bungkusan tersebut diikat menggunakan tali bambu. Biasanya dua buah entil ditempel dan diikat menjadi satu dengan bagian lipatan menghadap ke dalam.
Entil yang masih mentah kemudian direndam sekitar 15 hingga 30 menit sambil menunggu air mendidih. Setelah air mendidih, entil dimasukkan satu per satu.
Baca Juga: Tujuh Pemuda Ditangkap Usai Tawuran Antargeng di Surabaya, Korban Ditempel ke Knalpot
Di sinilah kesabaran pembuat entil diuji. Makanan ini tidak bisa dibuat secara terburu-buru. Entil harus direbus sekitar lima jam. Api juga harus dijaga agar tetap stabil.
Penggunaan kayu bakar dipercaya memberikan aroma tersendiri. Panas api yang terlalu besar dapat membuat air cepat habis dan menyebabkan entil gosong. Sebaliknya, api yang terlalu kecil atau bahkan mati dapat memengaruhi kualitas dan membuat entil lebih cepat basi.
Setelah matang, entil diangkat dan ditiriskan menggunakan ngiu atau nyiru. Ketika mulai dingin, teksturnya menjadi lebih padat dan mengeras.
Cara menyantapnya pun berkembang. Pada masa lalu, entil dapat disajikan bersama urutan atau sosis tradisional Bali, dedeng, kerupuk babi, tum daun ubi, kacang tanah goreng, kacang hijau, maupun kacang kedelai.
Kini penyajiannya lebih beragam. Entil dapat dinikmati bersama be siap sisit atau ayam suwir, jukut paku urab, telur pindang, kuah santan, emba atau bawang goreng, hingga peyek atau kerupuk talas. Bagi pencinta makanan pedas, sambal cabai rawit menjadi pelengkap yang hampir tidak boleh dilewatkan.
“Sekarang penyajiannya sudah berkembang. Ada ayam suwir, jukut urab, kuah santan, telur pindang, sampai peyek talas. Jadi kalau disajikan lengkap, entil bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga memiliki banyak rasa,” kata Sutana.
Baca Juga: Motor Rental Digelapkan, Perempuan Asal Bangkalan Ditangkap Polisi
Menariknya, entil yang dahulu lebih dikenal dalam lingkup masyarakat tertentu mulai mendapatkan ruang lebih luas sebagai kuliner tradisional Tabanan. Salah satu momentum penting terjadi pada 2016 ketika Taman Teknologi Pertanian di Desa Sanda diresmikan.
Saat itu masyarakat Desa Sanda diminta menyiapkan makanan tradisional yang dianggap khas dan sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat setempat. Dari sinilah muncul gagasan untuk memperkenalkan entil kepada masyarakat yang lebih luas.
Sebelumnya, entil memang relatif terbatas dikenal masyarakat Desa Sanda serta wilayah Pupuan dan Penebel. Makanan ini lebih banyak dibuat pada waktu-waktu tertentu, terutama berkaitan dengan ritual ulihan.
Momentum tersebut kemudian membuka jalan bagi entil untuk tidak hanya dipandang sebagai makanan ritual dan makanan rumahan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas kuliner masyarakat Sanda.
Bagi Sutana, perkembangan tersebut penting selama tidak menghilangkan akar budaya entil.
“Yang paling penting jangan sampai hanya makanannya yang dikenal, tetapi sejarah dan cara pembuatannya juga ikut dilestarikan. Karena entil ini bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada pengetahuan masyarakat tentang beras, tanaman, cara mengolah makanan, sampai hubungan dengan upacara,” ujarnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika