BALIEXPRESS.ID – Pukul 16.30 Wita matahari mulai turun perlahan. Cahaya sore menyentuh permukaan pasir di pesisir Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
Di antara aktivitas warga yang mulai berkurang, seorang nenek berjalan menuju tepian pantai. Namanya Kadek Santi.
Di tangannya tidak ada peralatan khusus. Ia hanya membawa sebuah ember cat berukuran kecil dan pecahan batok kelapa.
Baca Juga: 158 Budaya Bali Sudah Berstatus WBTB, Jadi Dasar Legitimasi agar Tak Diklaim Daerah Lain
Bersama cucunya, Santi menyusuri hamparan pasir. Mencari remis untuk dijadikan lauk. Remis adalah kerang dara berukuran kecil yang biasanya berada di bawah pasir. Warga sekitar biasanya menyebutnya remis.
Begitu menemukan lokasi yang dianggap banyak menyimpan remis, Santi langsung berjongkok. Pecahan batok kelapa berada di genggamannya. Pasir mulai digaruk perlahan.
Sekilas, kegiatan itu terlihat sederhana. Namun untuk mendapatkan remis, Santi harus cukup telaten.
Baca Juga: Bali Jadi Percontohan Layanan Darurat 112, Integrasi Nasional Ditarget Rampung Dua Tahun
Remis tidak selalu berada di permukaan. Santi harus mengorek pasir sedikit demi sedikit. Jarinya menyibak pasir, sementara pecahan batok kelapa digunakan untuk membantu menggali.
“Kalau tidak digaruk (digali) ya tidak dapat apa-apa. Kan remis adanya di dalam pasir,” ujarnya sambil tetap mengeruk pasir di pantai berbatu itu, Kamis (24/9/2026) sore.
Baca Juga: Bali Jadi Percontohan Layanan Darurat 112, Integrasi Nasional Ditarget Rampung Dua Tahun
Goresan demi goresan dilakukan pada titik yang sama. Kadang tidak ada apa-apa. Santi kemudian berpindah beberapa sentimeter dan kembali menggaruk pasir.
Tak lama, sebuah remis ditemukan. Benda kecil itu segera diambil dan dimasukkan ke dalam ember. Kemudian pencarian dilanjutkan. Begitu seterusnya.
Mencari remis bukan pekerjaan yang perlu terburu-buru bagi Santi. Ia sudah terbiasa dengan medan pasir dan tahu bahwa hasil yang didapat tidak selalu sebanding dengan banyaknya pasir yang dikorek.
Sore itu, cucunya ikut menemani. Keduanya sama-sama memperhatikan pasir di hadapan mereka.
Sesekali sang cucu ikut mencari, sementara Santi tetap tekun mengorek bagian pasir yang dianggap menyimpan remis.
Ada satu hal yang menarik dari aktivitas tersebut. Di bawah pasir, bukan hanya remis yang ditemukan.
Ketika tangannya mengorek lebih dalam, Santi kadang menemukan biota laut lainnya. Salah satunya cacing laut.
Tubuhnya cukup gemuk dan menggeliat ketika pasir terbuka. Hewan itu bergerak melewati sela-sela jari Santi.
“Kalau yang ini tidak bisa dimakan,” imbuhnya lalu menghempas cacing it uke sisi kirinya.
Pemandangan tersebut mungkin membuat geli sebagian orang. Apalagi ketika cacing laut tiba-tiba muncul dari balik pasir dan menggeliat di antara jemari.
Namun Santi tidak demikian. Ia tidak buru-buru menarik tangannya. Tidak pula menunjukkan rasa jijik.
Cacing itu hanya dibiarkan pergi, sementara pencarian remis dilanjutkan. Tangannya kembali mengorek pasir.
“Tidak geli,” begitu kira-kira sikap Santi setiap kali menemukan penghuni pasir selain remis.
Cacing laut bukan sesuatu yang perlu ditakuti Santi. Sudah menjadi bagian dari lingkungan tempat ia mencari lauk.
Yang lebih penting adalah remis yang bisa dibawa pulang. Perlahan, isi ember mulai bertambah. Tidak langsung penuh. Satu per satu. Sedikit demi sedikit. Ukurannya pun kecil-kecil. Santi tahu, jika terkumpul cukup banyak, hasilnya bisa menjadi lauk untuk keluarga.
“Ini harus penuh. Kalau tidak penuh saat diolah jadinya sedikit. Tidak cukup,” ungkapnya.
Satu ember cat kecil remis yang dibawa pulang nantinya akan melalui beberapa proses. Remis direbus terlebih dahulu.
Setelah itu, dagingnya dikeluarkan dari cangkang dan dibersihkan. Setelah semua proses selesai, remis sebanyak satu ember kecil itu kurang lebih menjadi sepiring kerang remis.
Sepiring. Jumlah yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tetapi memiliki arti tersendiri bagi Santi.
Sebab, sepiring remis itu didapat bukan dengan berbelanja ke pasar. Lauk tersebut diperoleh dari pasir pantai, dari tangan yang mengorek pasir sore demi sore.
Ada waktu yang harus diberikan. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada kesabaran yang dibutuhkan.
Semuanya dimulai dari sebuah ember kecil serta pecahan batok kelapa. Mencari remis sudah menjadi aktivitas yang dilakukan secara rutin. Ia berangkat sekitar pukul 16.30 Wita ketika panas matahari mulai mereda.
Waktu tersebut dipilih karena mencari di bawah terik matahari tentu tidak mudah. Sore membuat suasana di pesisir lebih nyaman. Angin mulai berembus dan cahaya matahari tidak lagi menyengat seperti siang hari.
Bersama cucunya, Santi kemudian menghabiskan waktu di pasir. Tidak ada target yang muluk-muluk.
Tidak ada peralatan mahal. Tidak pula ada kepastian berapa banyak remis yang akan ditemukan. Yang ada hanya harapan agar ember terisi dan ada lauk yang bisa dibawa pulang.
Kadang hasilnya cukup banyak. Kadang tidak seberapa. Namun Santi tetap menjalani rutinitas tersebut.
Ia terus mengorek pasir, mencari tanda-tanda keberadaan remis. Setiap menemukan satu, ia masukkan ke ember. Kemudian kembali mencari. Tangannya bekerja sementara matanya terus mengamati.
Pemandangan itu tidak hanya dilakukan oleh Santi. Supri pemuda yang tingga di area pesisir juga kerap memanfaatkan laut sebagai sumber lauknya.
Laut tidak selalu harus menghasilkan tangkapan besar untuk memberi manfaat. Di bawah pasir pun ada rezeki.
Remis yang ukurannya kecil, dikumpulkan satu per satu, kemudian berubah menjadi lauk di meja makan.
“Ini lumayan juga kalau dapat. Tidak perlu ke pasar belanja banyak lauk. Di sini (laut) sudah ada. Tapi harus lelah dulu, panas. Karena kan tidak instan,” kata Supri.
Menjelang petang, pencarian Santi berakhir. Ember kecil yang sebelumnya kosong kini berisi remis hasil buruannya.
Begitu pula dengan Supri. Hasil buruannya dengan cepat diboyongnya pulang untuk diberikan kepada ibunya.
“Nanti biar Mak yang proses. Mau dikuah atau diapakan, saya suka saja,” ujar Supri.
Besok atau sore berikutnya, aktivitas serupa mungkin akan kembali dilakukan. Pukul 16.30 Wita, ember kecil atau kantong-kantong kecil kembali dibawa. Pasir dikorek dan remis akan kembali tersaji di meja makan warga pesisir. (*)
Editor : I Made Mertawan