BALIEXPRESS.ID– Tumpukan koran bekas yang bagi banyak orang hanyalah sampah, di tangan Luh Rusmiati menjadi karya bernilai jual.
Perempuan asal Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Kabupaten Buleleng ini membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan dapat mengubah limbah menjadi sumber penghidupan.
Perjalanan Rusmiati dimulai pada 2016. Saat itu ia melihat setumpuk koran bekas di rumah saudaranya dan tergerak untuk memanfaatkannya.
Baca Juga: Menantu Gasak Uang dan Perhiasan di Rumah Mertua, Puntung Rokok Jadi Kunci Pengungkapan
Tanpa bekal pendidikan khusus di bidang kerajinan, ia belajar secara mandiri mengolah kertas bekas menjadi berbagai produk.
“Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral. Setelah ada saudara yang tertarik dan meminta dibuatkan, akhirnya berkembang dan ada yang meminta dibuatkan produk lain seperti bokor,” tuturnya belum lama ini.
Dari percobaan sederhana itu lahirlah usaha kerajinan bernama ‘Gegaen Lima Craft’.
Baca Juga: MasNya ATR/BPN, Tanya Layanan Pertanahan Lewat TikTok
Kini Rusmiati menghasilkan beragam produk, mulai dari anyaman, tempat pensil, nampan, tatakan gelas, dan gantungan kunci hingga perabotan berukuran besar seperti meja dan kursi, semuanya berbahan kertas bekas.
Untuk bahan baku, koran bekas sebagian ia beli, sedangkan jenis kertas lain diperoleh dari donasi teman-temannya.
Baca Juga: Dirjen Agraria: RUU Reforma Agraria Disiapkan Atasi Konflik Agraria
Ada pula sistem barter. Para penyumbang memberikan kertas, lalu Rusmiati membalasnya dengan hasil kerajinan seperti tempat pensil atau nampan kecil.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Produknya tidak hanya dipasarkan di lingkungan sekitar, tetapi juga menembus pasar luar negeri.
Pada 2017, ia bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar, dan tatakan gelas serta nampan buatannya dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.
Wisatawan yang menginap di homestay sekitar tempat usahanya juga kerap membeli produknya sebagai suvenir.
Dari usaha ini, Rusmiati memperkirakan omzetnya bisa mencapai sekitar Rp5 juta per bulan, meski jumlahnya berubah-ubah.
Harga produknya beragam. Gantungan kunci dijual mulai sekitar Rp 5 ribu per buah, sedangkan meja dan kursi dijual dalam bentuk set dengan harga menyesuaikan jenis dan ukuran.
Bagi Rusmiati, usaha ini bukan sekadar soal penghasilan. Ia berharap orang-orang di sekitarnya mau ikut mengembangkan usaha ini bersama-sama sehingga manfaatnya lebih luas.
“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi orang-orang di sekitar,” ungkapnya.
Upaya Rusmiati mendapat perhatian pemerintah. Ia beberapa kali dilibatkan dalam pameran dan promosi produk lokal, seperti Lovina Festival, Buleleng Festival, serta kegiatan tingkat kecamatan.
Menurutnya, kesempatan itu sangat membantu memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas.
Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan, mengapresiasi semangat para pelaku UMKM di desanya, termasuk Rusmiati yang mampu mengubah limbah kertas menjadi karya seni bernilai ekonomi. Menurutnya, produk tersebut berpeluang menjangkau pasar nasional hingga internasional.
“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujarnya.
Fajar menambahkan, pemerintah desa berupaya membantu mengatasi kendala pelaku UMKM, terutama soal permodalan dan pemasaran, melalui motivasi, pembinaan, dan pembangunan jejaring dengan berbagai pihak.
Ia berharap dukungan bagi UMKM terus menguat agar kesejahteraan masyarakat meningkat. (*)
Editor : I Made Mertawan