Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah I Nyoman Sungada, Wakili Indonesia Lomba Patung Es di Cina dan Jepang

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 22 Juni 2025 | 21:08 WIB

Pematung es, I Nyoman Sungada.
Pematung es, I Nyoman Sungada.

BALIEXPRESS.ID - Karya seni patung umumnya sangat banyak ditemukan di Bali.

Ternyata ada juga patung dari bahan es dan salju yang dibuat oleh seniman Bali. Karya-karya ini pun sempat dipamerkan di Harbin, Cina dan Sapporo, Jepang.

Bahkan ada 9 karya seni berupa patung es dan salju dari tangan-tangan kreatif seniman asal Bali yang mewakili Indonesia.

Baca Juga: Kisah Nyoman Dolpin, Pahlawan Lingkungan di Balik Gemerlap Kuta: Dari Hutan Mangrove Rusak dan Sungai Sampah Jadi Kawasan Emas Kalpataru!

Salah satu pematung tersebut adalah, I Nyoman Sungada yang merupakan warga asal Banjar Tengah, Desa Pecatu, Kuta Selatan.

Menariknya karya seni yang dihasilkan merupakan hasil dari belajar secara otodidak.

Sebab Sungada bukan lulusan institut seni melainkan hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD).

Baca Juga: Mengenal Pura Alang Sanja, Tonggak Sejarah Perjuangan Puputan Nyalian Tahun 1780

Kepada Koran Bali Express Jawapos Grup, Sungada mengaku, dirinya belajar membuat patung sekitar tahun 1970-an.

Saat itu dirinya tertarik dengan patung tanah liat yang dibuat oleh siswa SMP dari tugas sekolah.

Dari ketertarikan tersebut, ia mencoba belajar dan berhasil membuat patung Rama.

Baca Juga: Profil Dewa Mangku Setiawan : Ngayah Tanpa Batas, Mantan GM Hotel Ini Kini Menjadi Pemangku Kawitan MGTH

Sungada pun terus mengasah kemampuannya, dirinya belajar dari banyak kenalan.

Setidaknya ada dua seniman di Denpasar yang memberinya pembelajaran.

Tak hanya itu, Ayah dari dua anak ini pun memperluas ilmu dari seni ukir sekitar tahun 1981.

“Awalnya saya sebagai pematung kayu, kemudian terjun ke ukiran. Setelah bekerja di hotel baru mengembangkan inspirasi dengan permintaan membuat patung sterofom, patung es, buah, coklat, mentega, dan gula,” ujar Sungada.

Keahliannya ini pun membuahkan hasil manis, sebab dalam sebuah kesempatan dirinya mengikuti lima lomba sekaligus.

Lomba patung antar hotel ini pun menggunakan lima bahan dasar.

Bahkan dari kelima lomba tersebut Sungada meraih juara I.

“Itu lombanya Ice Carving, fruit carving, patung mentega, patung coklat, dan patung gula,” ucap pria asal Banjar Tengah, Desa Pecatu, Kuta Selatan tersebut.

Dari kepiawaiannya tersebut, Sungada dilirik oleh sesorang dari Jakarta untuk mengikuti lomba di luar negeri.

Bahkan ia tidak menyangka akan dipilih untuk mewakili Indonesia di kancah yang lebih tinggi.

“Awalnya sebelum ditunjuk saya bermimpi memiliki rumah yang besar berlantai tiga, dan ruangannya bagus. Begitu saya bangun saya coba tanyakan arti mimpi itu, ternyata sorenya jam 3 saya ditelpon untuk mewakili Indonesia untuk lomba patung es di Sapporo, Jepang,” ungkap pria kelahiran 11 Desember 1961 tersebut.

Ia pun sangat bergembira dan langsung menyanggupi hal tersebut.

Namun sebelum terbang ke Jepang, ia diminta mengikuti lomba di Harbin, Cina.

Beruntungnya saat dua kali lomba di tahun 2013 tersebut, dirinya bersama tim meraih juara tiga.

“Keduanya saya dapat juara tiga. Patung pertama itu menceritakan pertarungan Garuda dan Naga di Harbin. Yang di Jepang saya buat patung tari oleg tamulilingan yang dibelakangnya ada candi bentar,” tutur pria yang kini berusia 63 tahun.

Dari tahun 2013, hingga saat ini Sungada mengaku setidaknya telah 9 kali berkarya di Harbin, Cina dan Sapporo, Jepang.

Kebanyakan ongkos berangkat hingga pulang dari luar negeri tersebut menggunakan dana sendiri dan bantuan sponsor.

Dalam setiap lomba dirinya mengajak tiga hingga empat orang teman, ditambah satu fofografer.

“Setiap tahun karena di Jakarta kesulitan mencari sponsor, kami mengupayakan di Bali. Sehingga lambat laun kesusahan mencari dana, saya membentuk himpunan seni, kemudian saya ajukan, dan dapat dana dua kali saja (dari Pemkab Badung),” terang Sungada yang kini merupakan Ketua Himpunan Seniman Pecatu.

Baginya berkarya itu adalah kesenangan dalam diri. Bahkan dulunya dirinya jarang mematok harga dari karya patungnya.

Namun ternyata hasil mengasah kemampuannya membuahkan hasil nyata.

“Sebelum saya kerja di hotel, jarang sekali menghargakan karya. Yang penting dapat berkarya dan ada yang mau memakai, masalah makan itu nomor dua, karena dulu juga belum berkeluarga,” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#cina #bali #patung #jepang #seniman bali