Salah satu ikon dalam film ini adalah sosok lelembut penunggu desa tersebut bernama "Badarawuhi" atau "Bhadrawuhi". Perempuan lelembut siluman ular ini menarik perhatian karena ada beberapa hal yang cukup unik untuk diulas mengenai tokoh ini.
Dikutif dari Yeremia Satria Yasobam Elprinda, perempuan lelembut ini ialah siluman ular yang memiliki paras cantik, tubuh proporsional dan sangat cocok dengan ciri penari pada masa kerajaan-kerajaan klasik Hindu-Buddha hingga masa Islam masa lalu.
Dari beberapa ulasan yang dibaca, jelasnya, perempuan lelembut ini sebenarnya seorang penari yang seringkali menari dari desa ke desa dan banyak dikagumi oleh para kaum adam. Konon, perempuan ini hidup pada masa pemerintahan Dharmmawańsa Airlangga dari Kêdaton Mdang Kahuripan (1006/7-1049 M).
Salah satu musuh besar Śrī Dharmmawańsa Airlangga (1006/7-1049 M) ialah "Ratu perkasa bagaikan 'raseksi' dari selatan" yang dikalahkannya pada tahun 954 Śaka/1032 M menurut pemberitaan dari Prasasti Pucangan dwibahasa (Sanskerta 959 Śaka/1037 M, dan Jawa Kuna 963 Śaka/1041 M). Dalam naskah Sêrat "Calwan Arang", diketahui bahwa ratu perkasa bagaikan raseksi dari selatan itu dikenal sebagai "Nyi Ratu Rangda Nathing Girah" atau "Ratu Rangda Nathing Girah Calwan Arang". Calwan Arang ialah mantan isteri Mpu Kuthuran yang menganut masab Tantra Durga Bhairawi aliran pangiwa.
Badarawuhi adalah sosok perempuan yang merupakan sisa-sisa dari pasukan stri-nya ratu perkasa bagaikan 'raseksi' dari selatan (Nyi Ratu Rangda Nathing Girah "Calwan Arang") yang berhasil lolos dari gempuran serangan pasukan Mdang Kahuripan pimpinan Dharmmawańsa Airlangga. Perempuan itu sendiri seorang penganut Tantra Bhairawi Durga. Ia kemudian menyamar menjadi seorang penari tayub dari satu desa ke desa lain dan seringkali memikat banyak kaum adam untuk sekedar bersanggama dengannya. Penggambaran perempuan penari ini menjadi “bias” manakala disamaratakan dengan Nyi Blorong, saudari Kanjeng Ratu Kidul dari Pantai Selatan. Editor : Nyoman Suarna