Akan tetapi berbeda halnya dengan gadis muda asal desa Alasangker, Buleleng, Komang Redi Astini. Usia yang tergolong muda, namun ia telah menekuni Joged selama satu tahun. Gadis 22 tahun yang hobinya menari Bali ini, sangat menyukai tari Joged.
Ia menekuni Joged karena ingin melestarikan pakem Joged, sekaligus ingin meluruskan bahwa tarian Joged tidak mesti mengumbar aurat hingga memperlihatkan bagian tubuh tertentu.
Perjalanannya sebagai penari joged juga didukung kedua orang tuanya. Komang Redi Astini bahkan masuk dalam sekaa Joged di desanya. "Saya awalnya tidak ingin jadi Joged. Tapi setelah dipikir-pikir saya juga gregetan melihat tari Joged yang keluar jalur. Jadi saya coba untuk menari Joged sesuai dengan pakem Joged Bali," terangnya saat ditemui, Minggu (13/11) siang.
Sejak menekuni tari Joged, ia telah menginjakkan kaki di seluruh tanah Bali. Bahkan tak hanya Bali, bersama sekaa Jogednya, ia juga kupahan (disewa) untuk menari di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
"Saya sudah keliling Bali menari joged. Dan sudah sampai ke Jawa. Waktu itu ada orang yang masesangi (bernazar), jadi kami diundang ke sana untuk menari. Setelah sepakat, kami berangkat ke sana," tuturnya.
Komang Redi Astini mengakui tantangan menjadi Joged sangat berat. Terlebih dengan banyaknya permintaan agar ia menari lebih agresif lagi. Penolakan secara halus pun terkadang dilontarkannya agar tidak menyinggung perasaan. Tidak hanya itu, ia juga tak jarang mendapat sentuhan usil dari pangibing (penyawer) saat ikut menari.
Ditanya soal tarif menari tergolong mahal. Komang Redi Astini mematok harga dari Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta bila menari tunggal tanpa sekaa. Tetapi jika lengkap dengan sekaa tarifnya bisa sampai Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.