BALI EXPRESS- Sebuah video menjadi sorotan di media sosial lantaran Ritual Daratan atau biasa disebut dengan Ritual Narat diikuti oleh seorang bule cantik.
Video bule ikut ritual Narat pertama kali dibagikan oleh akun Facebook Luh Tu Ardhani pada Selasa (26/03).
Dalam video yang dibagikan terlihat seorang bule cantik dengan menggunakan kebaya berwarna hijau tua menari sambil menghujamkan keris ke bagian dada.
Dengan mata terpejam, bule cantik itu terlihat beberapa kali menancapkan keris ke dada tanpa ada luka sedikit pun.
Seorang pria terlihat juga memegangi selendang bule Wanita itu.
Tak hanya bule itu, terlihat juga beberapa warga lokal ikut narat dalam kegiatan agama itu.
Pemilik akun Luh Tu Ardhani menyebut tradisi Narat sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Seraya, Pemuteran Kecamatan Gerokgak, Buleleng Barat.
Biasanya tradisi Narat akan dilakukan ketika ada upacara keagamaan seperti potong gigi, Ngenteglinggih, pernikahan, Ngaben dan juga tiga bulanan.
Baca Juga: Siap Bergabung di HCB, Komunitas Honda Stylo 160 Resmi Terbentuk
Menurut pemilik akun, tradisi Narat yang diikuti oleh bule Wanita itu saat ada acara tiga bulanan dan prosesi Ngenteg Linggih di Seraya.
Luh Putu Ardhani menyebut jika bule tersebut sudah lama tinggal di Bali dan sudah bisa Bahasa Bali sedikit.
Hal ini lantaran si bule berpacaran dengan pria lokal di Seraya.
“Bule ini sudah biasa diajak maturan ke pura-pura termasuk ke mrajan pacarnya. Mungkin karena itu bule itu percaya dan yakin dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkapnya kepada Koran Bali Express.
Pihaknya percaya jika bule yang mengikuti tradisi Narat tersebut memang berada dibawah alam sadar karena ia menyaksikan sendiri tarian tersebut.
Baca Juga: KEREN! Viral di Medsos; Transaksi Dana Punia di Pura Kini Pakai Qris
“Ini karena tyang menyaksikan sendiri tariannya, lain halnya kalau bule in inari kayak orang kesurupa tidak pakai keris, mungkin saya tidak akan percaya,” pungkasnya.
Sontak video tersebut memicu beragam komentar warganet di media sosial. Ada komentar pro dan juga kontra.
Editor : Wiwin Meliana