Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Persoalan Sampah di Bali Dibicarakan dalam Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art

I Made Mertawan • Senin, 15 Juni 2026 | 17:31 WIB
Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency secara resmi dibuka pada Minggu (13/6/2026). (Ist)
Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency  dibuka pada Minggu (13/6/2026). (Ist)

BALIEXPRESS.ID- Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency secara resmi dibuka pada Minggu (13/6/2026).

Sebuah bangunan indah yang menyandang Art Hub dan Residency ini berada di salah satu pusat pariwisata Kabupeten Badung, yakni di Desa Tibubeneng.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan malam dan kemeriahan pariwisata di Canggu area, kehadiran Wija Reksa Quoriena  Art Hub & Residency seperti memberikan angin segar bagi perkembangan dunia kreativitas di Bali, khususnya  seni dan budaya, serta  lingkungan.

Baca Juga: Pelaku Pembuangan Bayi di Denpasar Barat Ditangkap, Ternyata Sang Ibu, Malu Pacar Enggan Tanggung Jawab

Daniel Ginting beserta istrinya Quoriena Ginting yang menggagas berdirinya Wija Reksa Quoriena  Art Hub & Residency,  sedari awal memang ingin mendedikasikan ruang kreatif di Tibubeneng bagi para senimanan, budayawan, kaum intelektual dan masyarakat kreatif Bali, khususnya masyarakat Tibubeneng dan sekitarnya, sampai masyarakat dunia.

Dalam pernyataannya selaku founder of Ginting Institute dan kolektor seni, Daniel Ginting sangat percaya bahwa seni tidak boleh berhenti di ruang pamer saja.

“Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” katanya.

Baca Juga: BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia

Hal senada juga didukung oleh pendapatistrinya  Quoriena Ginting yang juga sebagai salah satu kolektor penting wastra nusantara Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Quorien ini mengatakan bahwa seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan sebenarnya bukan sekadar sebuah tampilan yang mengejar keindahan, tapi ada tanda atau alarm yang menuntut untuk bangun, sadar dan bertindak.

Baca Juga: Wujudkan Kepedulian Sesama, Astra Motor Bali Gelar Aksi Donor Darah   

Dalam kemeriahan pembukaan pameran Tibubeneng Sustainable Art, tampak hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi mewakili Bupati badung, Camat Kuta Utara I Putu Eka Parmana dan Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya beserta jajarannya.

Acara Pembukaan pameran seni Tibubeneng Sustainable Art sekaligus menandai grand opening WRQ Art Hub & Residency.

Bertempat di wantilan WRQ, karya seniman cilik dari SD se-Tibubeneng benar-benar hadir menyihir pengunjung.

Bagaimana tidak, banyak pengunjung tidak mengira bahwa kesemuanya itu adalah hasil kreasi anak SD.

“Memang sebelumnya, para siswa SD yang memiliki bakat melukis telah ikut workshop plasticology terlebih dahulu bersama seniman Made Bayak. Kesempatan dan pengalaman itulah yang menjadikan anak-anak memiliki kemampuan atau teknis melukis daur ulang plastik menjadi karya yang menghasilkan visual yang sangat bagus,” ujar Quorina Ginting.

Di tempat terpisah, yakni di ruang galeri WRQ setidaknya karya-karya dari ada 10 seniman lintas genre yang dipamerkan berkaitan dengan isu lingkungan.

Para seniman yang terlibat dalam pameran Tibubeneng Sustainable Art dari perupa di antaranya Made Wianta (alm), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan.

Karya-karya dari para kartunis diantaranya Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, dan Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Sedangkan dari fotography menampilkan karya fotografer Andang Iskandar dan Tjandra Hutama.

Yudha Bantono selaku  kurator pameran mengatakan bahwa pameran Tibubeneng Sustainable Art adalah sebuah inisiatif kolaboratif yang menyatukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan demi masa depan bumi yang terbaik.

Lebih lanjut menurut pria yang memiliki pengalaman secara aktif mengikuti dan membuat event seni baik skala nasional dan internasional, bahwa pameran ini hadir sebagai ruang dialog kreatif antara anak-anak usia sekolah dasar, seniman, warga desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran, aksi, dan solusi nyata terhadap tantangan lingkungan saat ini dan di masa depan.

“Konsep dan tujuan Tibubeneng Sustainable Art dirancang untuk menampilkan bagaimana seni dapat menjadi media transformasi sosial dan lingkungan. Dengan menampilkan karya-karya yang menggunakan bahan ramah lingkungan, bahan daur ulang, dan teknik yang kesemuanya mampu memberikan penyadaran bagi masyarakat,” tambah Yudha.

Melihat karya-karya yang dipamerkan, Kepala Desa Tibubeneng  I Made Kamajaya mengatakan, bahwa pameran seni Tibubeneng Sustainable Art adalah bagian dari bukti nyata adanya  kolaborasi pihak yang peduli dengan permasalahan lingkungan di desanya, khususnya sampah yang dalam hal ini Ginting Institute. 

Lebih lanjut menurut Kamajaya, melalui praktik kegiatan seni, budaya dan lingkungan dipastikan dapat memperkuat upaya Desa Tibubeneng dalam merealisasikan aksi penanganan persoalan sampah dan lingkungan secara berkelanjutan.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art menampilkan lebih dari 20 karya seni. Baik lukisan, kartun, instalasi seni, dan fotografi akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 mendatang.

Pameran seni terbuka untuk umum, untuk alamat Wija Reska Quoriena Art Hub & Residency berada di Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #pameran #persoalan sampah