Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Harga Minyak Turun setelah Pembebasan Sandera dari Amerika oleh Hamas 

I Putu Suyatra • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 16:43 WIB
ilustrasi
ilustrasi

BENGALURU, BALI EXPRESS - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) setelah Hamas melepaskan dua sandera asal AS dari Gaza, yang menimbulkan harapan bahwa konflik Israel-Palestina akan mereda tanpa mengganggu pasokan minyak di wilayah Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent turun 22 sen atau 0,2 persen, berada di posisi 92,16 dolar AS per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November juga turun 62 sen atau 0,7 persen, menjadi 88,75 dolar AS per barel, sementara kontrak WTI untuk Desember yang lebih aktif turun 29 sen menjadi 88,08 dolar AS per barel.

Sebelumnya, harga minyak meningkat lebih dari satu dolar per barel selama sesi-sesi ketika ada tanda-tanda eskalasi konflik.

Hamas melepaskan dua sandera asal AS dari Gaza, seorang ibu dan anak perempuannya, dengan alasan kemanusiaan sebagai respons terhadap upaya mediasi Qatar dalam perang dengan Israel, kata Juru Bicara Hamas Abu Ubaida pada Jumat (20/10).

Analis Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan bahwa kabar pembebasan sandera tersebut sedikit meredakan kekhawatiran di pasar.

"Pelaku pasar memulai hari dengan sedikit harapan dan melihat tanda-tanda kemungkinan adanya jalan untuk keluar dari krisis ini," ujar Phil.

Pada Kamis (19/10), Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan kepada pasukan di perbatasan Gaza bahwa mereka akan segera melihat enklave Palestina "dari dalam."

Sementara itu, Pentagon menyatakan bahwa AS berhasil mencegat rudal yang ditembakkan dari Yaman ke Israel.

"Timur Tengah masih menjadi fokus utama pasar karena ketakutan akan meluasnya konflik di wilayah tersebut, yang kemungkinan besar akan menyebabkan gangguan pasokan," kata partner Again Capital, John Kilduff.

Menurut Kilduff, kemungkinan terjadinya disrupsi pasokan saat ini lebih kecil, namun pasar tidak bisa mengabaikannya, terutama menjelang akhir pekan di mana segala sesuatu bisa berubah dengan cepat, dan tidak ada perdagangan.

Perkiraan pasar yang ketat pada kuartal keempat, setelah produsen minyak utama Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pemangkasan produksi hingga akhir tahun, juga mendorong peningkatan harga minyak.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan bahwa penarikan persediaan dalam jumlah besar, sebagian besar di AS, mendukung tesis tentang berkurangnya pasokan di pasar.

Staunovo memperkirakan bahwa harga minyak Brent akan diperdagangkan di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel dalam sesi-sesi selanjutnya.

Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka AS (CFTC) menyatakan pada Jumat (20/10) bahwa perusahaan-perusahaan manajer keuangan telah memangkas posisi net long minyak mentah di AS dan posisi opsi sebesar 56.850 kontrak, menjadi 183.351 kontrak dalam minggu yang berakhir pada 17 Oktober. (*)

Editor : I Putu Suyatra
#sandera #minyak #amerika serikat #hamas