Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Antrean Pasien BPJS Kesehatan Membludak di RS Prof Ngoerah Denpasar, Sistem BPJS Dinilai Bermasalah

Rika Riyanti • Rabu, 24 April 2024 | 21:39 WIB
Layanan anjungan pendaftaran mandiri khusus pasien BPJS di RS Prof Ngoerah Denpasar, Bali terlihat berjubel hingga di pintu masuk poliklinik, Rabu, 24 April 2024.
Layanan anjungan pendaftaran mandiri khusus pasien BPJS di RS Prof Ngoerah Denpasar, Bali terlihat berjubel hingga di pintu masuk poliklinik, Rabu, 24 April 2024.

DENPASAR, BALI EXPRESS - Belum lama ini, pelayanan di RS I.G.N.G Ngoerah (RS Prof Ngoerah), Denpasar, Bali menjadi sorotan jagat maya. Khususnya pelayanan BPJS Kesehatan.

Dalam video yang viral, anjungan pendaftaran mandiri khusus pasien BPJS Kesehatan di RS Prof Ngoerah terlihat begitu ramai antrean pasien. Mereka berjubel hingga pintu masuk poliklinik.

Pasien BPJS Kesehatan diwajibkan melakukan absen sidik jari sebelum mendapatkan pelayanan pemeriksaan.

Bahkan, pasien yang sedang terbaring di kasur, hingga pasien berkursi roda juga wajib absen sidik jari sebelum diperiksa.

Dari pantauan di lokasi, pada Rabu, 24 April 2024, antrean anjungan pendaftaran mandiri cukup ramai lancar karena di setiap anjungan telah didampingi petugas untuk membantu pasien.

Direktur Layanan Operasional RS I.G.N.G Ngoerah, I Gusti Ngurah Ketut Suka Darma mengatakan kejadian pasien berjubel seperti dalam video yang viral di media sosial terjadi usai libur Lebaran.

Ngurah Ketut yang didampingi bagian IT mengungkapkan kekroditan terjadi karena sistem dari BPJS yang bermasalah.

Absen sidik jari itu bertujuan untuk mendapatkan surat elegabilitas pasien (SEP) supaya mendapatkan informasi mengenai rujukan dan berkaitan dengan premi. 

“Untuk penerbitan ini butuh tanda tangan BPJS melalui sidik jari pasien. Jadi pasien BPJS itu yang datang wajib menggunakan sidik jari untuk memastikan bahwa peserta yang itu memang benar yang bersangkutan,” jelasnya.

Ngurah Suka Darma menambahkan, pihaknya mencari solusi menangani antrean pasien. Apakah dengan menerima terlebih dahulu dan mengurus terakhir SEP. Namun, kata Ngurah Suka Darma berkaitan dengan klaim premi, misalkan ternyata status BPJS tidak aktif atau belum bayar premi.  

 “Hal-hal seperti tadi yang bahwa dia belum bayar premi, kemudian apa rujukan tidak bawa. Nah itu akan hilang. Otomatis tagihan tidak akan bisa diklaim ke bpjs. Lost begitu. Ini yang kemungkinan ini. Apakah itu akan kita ambil salah satunya harus dipikirkan kebijakan itu,” paparnya.

Karena itu, pihaknya menyampaikan agar pasien atau masyarakat dapat mendapat secara online untuk mengurangi kerumunan.

Diakui pasien yang sudah dapat online dan mendapat jadwal sial tetap datang pagi hari dengan harapan dapat lebih dulu diperiksa.

“Paling tidak begini bisa mengedukasi masyarakat mengurangi kerumunan. Pendaftaran online berharap datang sesuai dengan jamnya. Jangan khawatir mereka tidak mendapatkan layanan,” ucapnya.

Di sisi lain, tingginya trafik lalu-lalang atau pelayanan di RS Prof Ngoerah menyebabkan minimnya lahan parkir.

Hal inipun menjadi keluhan. Pasalnya, terbatasnya lahan parkir motor membuat yang datang kesulitan mencari parkir. 

Menanggapi tentang lahan parkir, menurut Ngurah Suka Darma, saat ini manajemen rumah sakit sudah membangun berapa gedung salah satunya gedung poliklinik yang sudah termasuk basemen parkir setiap gedung.

“Setiap bangunan kita bangun ada basement. Basemen diperuntukkan parkir roda empat dua. Poliklinik ini di basement bisa menampung 700 sampai 800 motor. Semua kendaraan masyarakat bisa ditaruh di basemen,” ungkapnya.

Lebih lanjut, karyawan nantinya akan khusus memiliki tempat parkir di lahan yang disewa dari warga sekitar.

Ditarget pada Mei, basemen di gedung poliklinik bisa digunakan untuk parkir. Untuk jumlah orang setiap hari ke rumah sakit tertua di Bali ini sekitar 7.000 hingga 8.000 orang.

Jumlah itu sudah termasuk pasien, tenaga kesehatan beserta mahasiswa yang belajar. Khusus pasien poliklinik setiap rata-rata 1.500 hingga 1.700 orang. 

“Rata-rata 1.500 pasien yang ke poliklinik dan saat krodit itu 1.700. Belum lagi pasien yang ke IGD,” sebutnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #bpjs kesehatan #denpasar