Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mimpi Loloh Cemcem Saingi Coca-Cola di Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 23 Februari 2019 | 14:37 WIB
Mimpi Loloh Cemcem Saingi Coca-Cola di Bali
Mimpi Loloh Cemcem Saingi Coca-Cola di Bali

 

DARI segi nama, cemcem dan coca-cola miri-mirip. Setidaknya huruf awal yang diulang sama-sama C. Namun bisakah loloh cemcem menyaingi minuman bertaraf internasional itu di Bali sebagai minuman yang digemari dan menjadi raja di meja-meja warung dan restoran?

 

Saya punya keyakinan yang aneh, bahwa loloh cemcem bisa saja bersaing dengan berbagai minuman merk terkenal, dan menjadi penguasa di pasar minuman ringan di Pulau Dewata. Mungkin dalam waktu yang cepat, mungkin nanti-nanti setelah ada momentum yang tepat.

 

Loloh cemcem muncul sebagai sebuah jenis minuman kemasan secara mengejutkan sejak sekitar lima tahun, padahal sesungguhnya minuman itu sudah ada sejak zaman kolonial. Saya pernah dengar dari seorang veteran pejuang di kampung saya, pada saat gerilya melawan NICA para pejuang kita biasa membuat berbagai loloh daun-daunan di tengah hutan. Salah satunya, bahkan paling pavorit, adalah loloh daun cemcem yang pohonnya biasa tumbuh liar di kebun dan tepi hutan.

 

Waktu kecil, sekitar tahun 1970-an, saya biasa dibuatkan loloh cemcem oleh ibu saya, selain sebagai obat panas dalam, juga sekadar sebagai pelepas dahaga. Di warung-warung saat itu belum ada minuman dalam botol kaca, kecuali temulawak dan sari sirsak dengan warna khas: kuning melencing yang saya ingat hingga sekarang. Minuman merk luar negeri semacam Coca-Cola, 7-Up, Sprite, dan Fanta, mulai masuk warung di kampung sekitar akhir 1970-an atau awal tahun 1980-an.

 

Dan, loloh cemcem tak pernah masuk warung. Bahkan di warung yang paling sederhana sekali pun, loloh cemcem tak pernah dijual. Jika ingin minum loloh cemcem, atau loloh jenis apa pun, kita memang harus membikin sendiri di rumah. Saat itu, loloh cemcem tak pernah menjadi minuman industri, bahkan dalam skala industri paling cilik sekali pun.   

 

Itulah yang mengejutkan ketika saya menemukan loloh cemcem yang dikemas dalam botol plastik tiba-tiba menjadi semacam minuman favorit, mungkin sejak lima tahun. Saya temukan pertama ketika Pesta Kesenian Bali (PKB) di Taman Budaya Denpasar. Dan sebagai pelepas kenangan masa kecil, saya langsung menikmatinya.

 

Ini yang menggelikan; dalam setengah hari berada di acara PKB, saya pernah membeli lima botol loloh cemcem dan meneguknya botol per botol hingga tandas. Dan malam hingga besoknya berkali-kali saya harus ke toilet karena sakit perut seperti over dosis vitamin C. Tapi saya sangat menikmatinya, bukan hanya menikmati sensai lolohnya, melainkan juga sensasi regular dan panjang di toilet.

 

Selain di PKB, loloh cemcem amat mudah ditemui kemudian dalam sejumlah festival dan acara-acara besar. Minuman itu seakan menjadi sebuah keharusan untuk ada dalam sebuah festival, apalagi festival kuliner. Loloh cemcem seakan-akan disimbolkan sebagai kesuksesan dalam upaya besar melestarikan warisan leluhur Bali.

 

Dan, saya pikir, di situlah letak soalnya. Loloh cemcem sepertinya hanya dijadikan simbol semata dari wacana besar pelestarian nilai-nilai tradisional di bidang minuman dan makanan. Ia tak pernah serius disulap menjadi barang industri dengan sistem produksi, pemasaran, dan promosi sebagaimana dilakukan oleh orang-orang industri.

 

Loloh cemcem sepertinya hanya cukup sebagai minuman tradisional bagi orang-orang tradisional. Ia jarang diupayakan, misalnya dengan perangkat regulasi dan infrastruktur, untuk bisa naik kelas menjadi minuman industri yang sebenar-benarnya. Ia sepertinya dibiarkan dengan ketradisionalannya dan hanya cukup sebagai industri rumahan, lalu diakui sebagai kesuksesan sebuah program dalam meningkatkan pendapatan ibu rumah tangga dan warga kecil. Bahkan kadang ia dianggap sebagai simbol kesuksesan dari sebuah program untuk mengentaskan kemiskinan.

 

Di luar acara besar semacam PKB  dan festival-festivalan, kita memang kerap menemukan loloh cemcem dalam kemasan botol tersedia di warung-warung, bahkan beberapa di warung berkelas dan restoran. Di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, yang dianggap sebagai sentra produksi loloh cemcem paling produktif, juga dengan mudah ditemukan minuman itu.

 

Namun tampaknya “status sosial” loloh cemcem tak pernah berubah. Ia tetap terpencil sebagai minuman tradisional yang kadang ada kadang kosong, yang dibeli saat ada, tanpa pernah dikejar-kejar oleh penikmatnya, misalnya sebagai minuman berkhasiat atau minuman sakti penambah tenaga, atau sekadar sebagai minuman bergaya yang harus selalu tersedia di dalam kulkas dan bisa disuguhkan dengan gagah bagi tamu yang singgah di rumah.              

 

Sebagai penikmat setia loloh cemcem yang tinggal di Singaraja, saya selalu kesulitan mendapatkan loloh kesukaan saya itu saban hari. Ada beberapa warung nasi memajang loloh cemcem sebagai pelengkap menu utama, namun rasanya lebih sering kosong. Tentu karena warung itu hanya menunggu kiriman dari produsennya di Bangli, dan kiriman itu hanya datang seminggu sekali. Jika loloh habis dalam sehari, maka kita harus menunggu kiriman seminggu kemudian. Kondisi yang serupa saya dapati juga di sejumlah warung di tepi jalan Singaraja-Denpasar, tempat saya biasanya wara-wiri. 

 

Itu artinya minuman tradisional itu memang masih dikelola secara tradisional. Dan dibiarkan selalu menjadi tradisional. Kelompok yang memproduksinya tak pernah punya ambisi menjadi pengusaha loloh cemcem yang besar dan masuk dalam pusaran industri minuman yang bersaing di tingkat dunia. Jangankan bermimpi punya cabang di setiap negara di dunia sebagaimana industri Coca-Cola dan industri sejenisnya, bahkan membangun cabang di setiap kabupaten di Bali pun tampaknya tak ada niat.

 

Jika ditanya kenapa tak ada niat sebesar itu? Jawaban produsen loloh bisa ditebak. Ini soal modal, investasi, daya tahan minuman, regulasi, izin edar, sertifikasi kesehatan, dan banyak hal lain. Dan seluruh jawaban itu terdengar seperti kata menyerah, padahal jika tak ada investor yang bersedia mengembangkan minuman tradisional itu, maka pemerintah bisa jadi investor, bagaimana pun caranya.

 

Jika loloh cemcem dianggap minuman kesehatan, semacam jamu di Jawa, maka ia bisa dikembangkan secara lebih serius sebagai minuman kesehatan. Saya pernah membaca hasil penelitian tentang zat-zat baik yang dikandung dalam loloh cem-cem. Namun saya tak tahu apakah hasil penelitian itu hanya sekadar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, atau memang benar-benar dilakukan untuk mengembangkan loloh cemcem sebagai minuman yang berkhasiat dan dibutuhkan banyak orang.

 

Padahal zat-zat sehat yang dikandung dalam loloh itu bisa dikelola dengan baik dan diperkenalkan dengan pola serius kepada konsumen. Jika loloh dianggap minuman pelepas dahaga, ia sebaiknya dipromosikan dengan baik selayaknya minuman pelepas dahaga bagi orang-orang modern atau orang-orang sok modern. Lihatlah, air kelapa dikemas dengan mewah, bisa masuk swalayan dan dibeli dengan gaya dan gengsi tinggi oleh penggemarnya padahal tak diketahui dengan benar apakah di dalam kemasan itu benar-benar air kelapa atau hanya air bening saja dengan perasa air kelapa.

 

Jika saja loloh cemcem benar-benar dikelola sebagai industri minuman khas Bali, maka suatu saat kita bisa melihat kantor cabang loloh cemcem di setiap kabupaten, dan kita akan sering berpapasan dengan mobil boks yang pada dinding boks berisi tulisan kapital: “LOLOH CEM-CEM – Segar, Berkhasiat, Pelepas Dahaga”. Pada saat itulah loloh cemcem jadi tuan rumah di Bali dan bisa bersaing dengan minuman merk impor semacam Coca-Cola.

Editor : I Putu Suyatra