Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

PKB: Wahana Pewarisan Nilai Budaya dan Pendidikan Karakter

Nyoman Suarna • Sabtu, 29 Juni 2019 | 15:51 WIB
PKB: Wahana Pewarisan Nilai Budaya dan Pendidikan Karakter
PKB: Wahana Pewarisan Nilai Budaya dan Pendidikan Karakter


PEMERINTAH dan masyarakat Bali tengah menyelenggaraakan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2019. PKB telah menjadi ajang tahunan untuk merawat, melestarikan sekaligus mengembangan khasanah seni budaya masyarakat Bali. Ajang kolosal dalam mengekpresikan seni budaya Bali ini, juga sebagai wahana pewarisan nilai budaya dan pendidikan karakter bagi generasi milenial Bali.


 


Pewarisan Nilai Budaya


Sebagai kegiatan tahuan, PKB telah menjadi ajang kreativitas seni-budaya Bali. Beragam seni-budaya sengaja ditampilkan. Baik seni rupa, seni pertunjukan maupun seni hiburan. Seniman dari sembilan kabupaten dan kota unjuk gigi, memeriahkan pesta seni kolosal yang menopang upaya pelestarian dan pengembangan seni-budaya Bali ini.


Pentas seni-budaya yang dipentaskan dalam PKB ini juga sebagai bentuk


perlawananan (couter culture) terhadap hegemoni seni-game modern saat ini. Potensi seni-budaya masyarakat Bali sengaja dihadirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni aneka budaya populer yang disuguhkan melalui cybermedia (internet). Diakui atau tidak, anak-anak generasi melenial Bali kini cenderung terperangkap menjadi konsumen akut game-game modern online yang mudah diakses, kapanpun dan dimanapun. Tanpa didasari, game-game online yang bisa diakses melalui hanphone pribadi saat ini, sebagian anak-anak Indonesia kehilangan waktu belajar produktifnya.


Game-game online itu justru sedang mengajarkan dan membesarkan anak-anak Indonesia menjadi manusia individualistik, saling cuek, terasing di tengah-tengah keramaian. Tanpa disadari, anak-anak kita diajari pola hidup mekanistik, sikap tak peduli terhadap sesama, dan kehilangan kepekaan sosialnya. Bisa jadi anak-anak kita menjadi orang lain, karena telah tercerabut dari akar budaya yang melahirkannya. Dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan seni budaya, pengaruh negatif game online yang telah menyandera waktu belajar anak-anak kini bisa direduksi.


Disamping sebagai ajang untuk ekspresi seni-budaya Bali, PKB secara langsung maupun tidak langsung, juga sebagai wahana untuk pewarisan seni-budaya Bali ke generasi penerus. Secara langsung juga PKB menjadi media transformsi pengetahuan dan skill terkait seni budaya dari generasi terdahulu ke generasi muda, sehingga kesinambungan tradisi dan seni budaya Bali bisa tetap terjaga.


Seni-budaya masyarakat Hindu Bali relatif ajeg, lestari, karena adanya proses pewarisan budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Ada proses pembelajaran antar generasi, baik secara formal maupun informal. Proses pembelajaran formal berlangsung sejak anak-anak di bangku PAUD sampai perguruan tinggi (PT). Sedangkan proses pendidikan informal berlangsung melalui enkulturasi (pembudayaan) dan sosialisasi di lingkungan keluarga. Sejak dini anak-anak Bali mewarisi bakat seni-budaya dari para orang tua mereka.


Watak kepribadian masyarakat Bali yang ekspresif terpola secara turun-temurun. Pembentukan watak kepribadian masyarakat Bali yang ekpresif ini disamping dipengaruhi oleh unsur-unsur bio-psikologi, juga ditentukan oleh kondisi lingungan sosial budayanya yang berproses melalui pola pengasuhan, pembelajaran, peniruan, dan penyesuaian perilaku anak yang diwariskan dari para orang tuanya. Sehingga potensi seni-budaya Bali bisa terus eksis dan dinamis.


 


Pendidikan Karakter Generasi Milenial


PKB menjadi media yang efektif untuk pendidikan karakter generasi milenial Bali. Pendidikan karakter adalah proses menanamkan karakter tertentu, sekaligus memberi benih bagi pertumbuhan karakter dan jati diri generasi penerus. Anak-anak sebagai generasi milenial, kini tidak hanya memahami pendidikan sebagai bentuk pengetahuan, namun juga menjadikan sebagai bagian dari hidup dan secara sadar hidup berdasarkan pada nilai tersebut. Adapun nilai-nilai yang perlu dihayati dan diamalkan oleh generasi penerus antara lain adalah: religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, persahabat/komunikatif, cinta damai, senang membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab.


Nilai-nilai yang perlu ditanamkan pada generasi milenial tersebut sesuai dengan kebutuhan era revolusi industri 4.0 saat ini. Disamping ditandai dengan digitalisasi dan otomatisasi, generasi milenial era revolusi industri 4.0 ini dituntut mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Generasi melenial Indonesia perlu memiliki keunggulan dalam persaingan (competitive advantage) hidup. Mereka juga harus mempersiapkan skill, memiliki perilaku yang baik (behavioral attitude), meningkatkan kompetensi diri agar mampu eksis dan bersaing dengan bangsa-bangsa maju lainnya.


Generasi melenial Bali harus pandai menata diri dan siap berkompetisi secara global. Mereka juga harus mengambil peran aktif, menjadi pemain (subjek) sesuai minat dan bakat masing-masing, termasuk turut dalam pengembangan seni – budaya Bali yang melahirkannya. (*)


*) Penulis adalah Dosen pada Fakultas Pendidikan Agama dan Seni, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar

Editor : Nyoman Suarna
#pkb