JUDUL kolom ini sengaja dipilih kata “kacung” dengan niat amat kentara hanya untuk menarik perhatian semata. Padahal, untuk membahas soal pembantu dengan segala peran dan kiprahnya, bisa saja saya pilih judul dengan kata “punakawan”, “parekan”, “panyeroan”, atau “jongos” atau “babu”. Tapi karena kata “kacung” sedang ngetop-ngetopnya di media sosial, maka saya pilih kata itu. Siapa tahu ikut ngetop.
Ini cerita jujur. Jauh-jauh hari sesungguhnya saya ingin menulis tentang seni teater tradisional Bali pada masa pandemi Covid-19. Terutama menulis tentang drama gong, arja, primbon dan topeng. Kesenian itu bukan hanya langka, tapi sepertinya sudah berda di pintu gerbang kematian. Pesta Kesenian Bali atau PKB sempat memberi urip pada drama gong, tapi justru PKB tak bisa digelar akibat wabah yang tak kunjung sudah.
Lalu, menjamurlah seni virtual. Orang berlomba-lomba bikin video untuk diunggah di kanal media sosial, bahkan Pemprov Bali lewat Dinas Kebudayaan Bali juga turut memfasilitasi komunitas seni untuk membuat video, baik untuk seni tradisional maupun modern. Saat itulah saya tiba-tiba ingat kembali pada drama gong dan kesenian-kesenian lain yang sudah lama meninggal. Saya ingat justru karena tak saya temukan ada seniman yang punya pikiran mulia untuk membuat video drama gong, atau arja, tetap dengan unsur-unsur virtual, tapi dengan tokoh-tokoh yang lengkap, juga cerita yang utuh dan total, dari awal sampai akhir.
Yang banyak saya tonton adalah video-video pendek, sebagain besar berbahasa Bali, dan kebanyakan berisi cerita-cerita lucu. Kelucuannya kadang dengan mengandalkan bahasa kasar dan cabul. Artinya, yang dikejar bukan cerita, tapi efek lucu, dan orang-orang yang menonton bisa terhibur. Nah, saat itulah saya terkagum-kagum dengan punakawan, yakni peran pembantu alias jongos, alias kacung, dalam seni teater tradisional.
Saya ingat Dadab, punakawan lucu dalam Drama Gong Kerthi Buana yang ngetop tahun 1980-an. Saya ingat Petruk dan Dolar. Saya ingat Cenk-Blonk, Sangut-Delem, Merdah-Tualen, dalam pentas wayang kulit. Saya ingat Punta dan Wijil dalam seni arja dan primbon. Semua nama-nama itu adalah punakawan atau parekan atau jongos alias kacung, atau pembantu, dalam teater tradisional.
Saya ingat Wayan Tarma, seniman dari Bangli yang terkenal dengan nama Dolar. Dan saya pikir, meski Dolar sudah meninggal akibat stroke sekitar Juli 2012, namun nama Dolar tetap hidup hingga kini. Selewat tahun 2000, ketika pamor drama gong redup, nama Dolar sebenarnya tetap moncer. Dalam sejumlah pementasan drama gong di arena PKB misalnya, puluhan ribuan penonton awalnya memang memadati tribun Ardha Candra. Mereka sebenarnya hanya menunggu keluarnya Dolar dan pasangannya Petruk (Wayan Subrata).
Usai Dolar membanyol, sebagian besar penonton tanpa malu-malu angkat pantat dan meninggalkan tribun. Penonton tak peduli lagi kelanjutan cerita, tak hirau petatah-petitih raja dan permaisuri pada adegan persidangan yang membosankan, tak terharu lagi mendengar tangis sedih putri yang ditinggalkan suaminya karena kepincut galuh ajeng.
Penonton hanya tahu Dolar. Maka ketika drama gong sekarat tak ada yang ngupah, Dolar secara solo masih tetap di-bon atau dipinjam sejumlah grup kesenian (di luar drama gong) sebagai daya tarik pementasan.
Kepergian Dolar yang berasal dari Banjar Sema Siladan, Desa Tamanbali, Bangli, ini diratapi banyak penggemarnya. Ucapan dukacita dan doa bertebaran di media sosial seperti facebook . Dolar memang termasuk salah satu pelawak Bali yang banyak penggemar. Ia pelawak berkarakter, bukan semata dari riasannya, tapi dari cara dia membangun materi lawak di atas panggung. Saat berpasangan dengan Petruk di drama gong, Dolar selalu bertahan dengan gaya bodoh-bodoh pintar.
Dulu, pada masa keemasannya drama gong bukan hanya digemari karena lawakannya, tapi diidolakan secara utuh dan total. Ceritanya disimak dari awal hingga akhir, putrinya dinantikan karena bisa mengharu-biru penonton, raja buduh dan galuh ajeng dikangeni karena bikin gemes penonton. Patih agung dan patih anom disukai karena kerap memberi pelajaran tentang olah vocal dan “bahasa tengkar” yang mengesankan. Gamelannya pun didengar, terutama sulingnya, bahkan nada-nadanya bisa terbawa hingga tidur.
Tapi, kini dalam seni virtual, sisa-sisa napas teater tradisional semacam drama gong masih tampak dalam video-video pendek yang disebar di media sosial. Tapi yang tersisa lebih banyak karakter kacung, alias punakawan alias karakter parekan. Parekan dengan bahasa Bali yang bebas, kadang kasar dan menggemaskan, dengan segala kostum kerakyatan, dan dengan berbagai jenis kelucuan. Daya tarik lucunya kadang tetap meniru punakawan atau kacung dalam drama gong dan arja di masa lalu, misalnya lucu dari segi fisik. Satu tokoh gemuk, satu tokoh kurus kering. Yang gemuk sok pintar, yang kurus sok bijak. Yang satu pintar-pintar bodoh, yang satu bodoh-bodoh pintar.
Kenapa yang tertinggal dari teater-teater tradisional kita hanya karakter kacung, eh, karakter punakawan dengan segala kelucuannya? Orang bisa saja berkata , bahwa masyarakat zaman sekarang lebih suka hiburan ketimbang asupan batin, mereka lebih suka tertawa ketimbang berpikir. Jawaban itu mungkin benar, mungkin juga keliru. Tapi yang jelas, punakawan dalam teater tradisional akan belajar lebih keras misalnya dibanding dengan peran raja. Orang yang berperan sebagai punakawan selalu berpikir keras untuk menemukan materi baru agar lawakannya tetap segar dan orisinal.
Karakter punakawan bisa bertahan hingga kini, justru karena ia tak punya pakem pasti di atas panggung. Yang penting lucu. Punakawan bisa bergerak dan berbicara lebih bebas, bahkan antilogika, atau kadang bicara kasar terhadap raja. Punakawan adalah cermin dari pikiran merdeka, bahkan dalam cerita-cerita pewayangan mereka dianggap sebagai tukang kritik terhadap raja-raja mereka. Mungkin karena karakternya yang bebas, merdeka, kritis, dan lucu, maka karakter punakawan dalam seni pertunjukan tetap bertahan dan bermutasi hingga kini. Buktinya, seni topeng kini lebih banyak tertinggal bebondresannya.
Nah, dalam teater tradisional, bukankah menjadi kacung, eh, jadi punakawan itu merupakan peran yang vital dan sungguh susah? Ia harus lengkap, sebagai cerminan rakyat yang patuh dan penuh pengabdian, sekaligus ia harus bermain bebas, merdeka dan juga penuh ekspresi, sekaligus juga harus lucu. Jadi, kacung dan sikap kritis itu sebenarnya dua hal yang tidak perlu dipertentangkan. Keduanya lebur dalam satu karakter, agar dunia menjadi bersih sekaligus menyenangkan. Dan hal itu sepertinya hanya ada dalam teater tradisional, semacam drama gong atau wayang kulit. Tak tahulah saya di dunia nyata. (*)
Editor : I Putu Suyatra