Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Galungan, Hajatan Pilkada dan Kemenangan Mengekang Ego

I Putu Mardika • Selasa, 24 September 2024 | 05:47 WIB

Dr. I Putu Mardika, S.Pd, M.Si, Dosen Antropologi Budaya Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Dr. I Putu Mardika, S.Pd, M.Si, Dosen Antropologi Budaya Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja
BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Galungan kembali diperingati, pada Buda Kliwon Wuku Dunggulan, yang jatuh pada 25 September 2024. Galungan pada hari ini tergolong Istimewa, karena bersamaan dengan ditabuhnya gong Masa Kampanye Pilkada Serentak 2024.

Ya, berdasarkan Peraturan KPU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Tahapan dan Jadwal Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota, tahapan kampanye dimulai pada 25 September 2024 sampai dengan 23 November 2024.

Lalu apa hubungan Galungan dengan Pilkada Serentak? Sudah menjadi pemahaman yang mendasar, jika Galungan dimaknai sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kebatilan).

Kemenangan dalam Galungan ini disimbolkan dengan pemasangan penjor. Selain simbol kemenangan, Penjor juga dimaknai sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang dianalogikan sebagai Gunung maupun Naga Basuki. Sungguh makna yang sangat mulia dan luhur.

Di Bali, di tengah tensi politik yang kian memanas menjelang hajatan Pilkada serentak, saling senggol antar pendukung Calon Bupati dan Wakil Bupati, Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang bertarung dalam hajatan pilkada tak terhindarkan.

Baca Juga: Cakra Yadnya saat Galungan, Cara Ampuh Memutar Ekonomi, Gunakan Buah Lokal

Saling serang, saling ejek, antar pendukung sudah menjadi pemandangan umum. Bongkar borok rekam jejak seolah menjadi penanda jika Pilkada jika sudah dekat. Membosankan, mengkhawatirkan dan tentu memicu residu yang dapat memecah belah. Sungguh jauh dari kesan pemilu yang beretika.

Dengan menunjukkan sisi kelemahan lawan, tentu diharapkan mencari simpati, dukungan mengalir, dan berujung kemenangan. Sesederhana itu. Semua seolah larut dalam pertarungan di dunia maya. Riuh dan gaduh. Hujat menghujat. Ancam mengancam.

Spirit Menyamabraya begitu mudah tergadaikan, hanya demi hasrat kekuasaan semata. Persahabatan tak jarang dibuat renggang hanya karena beda pilihan, beda warna dan beda dukungan.

Baca Juga: Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat Badung, Adicipta Tawarkan Politik Santun Saling Rangkul

Jika melihat fenomena itu, tentu tidak fair hanya melihat demokrasi dari sisi yang negative. Ada banyak hal yang bisa dilihat dari sisi positif sebuah demokrasi. Seperti harapan yang tidak pernah putus kepada pemimpin yang baru.

Semua calon yang berkontestasi dalam hajatan politik tentu memiliki niat baik untuk membangun daerah tanah kelahirannya. Dengan visi misi terbaik. Dengan tujuan yang baik, dan tentu dengan cara-cara yang baik.

Niat mensejahterakan rakyat. Niat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Program diadu dan diuji, dalam ruang-ruang terbuka. Masyarakat menimbang dan menilai, siapa yang terbaik menjadi pelayannya.

Itulah gelanggang politik. Tidak seru jika landai-landai saja. Tidak asyik jika tak ada calon saling cubit. Penuh intrik. Saling colong-colongan, siasat menyiasati.

Benang merahnya, tentu momentum Galungan dan Kuningan sebagai perayaan kemenangan dharma atas adharma. Menangnya kebaikan atas keburukan. Menangnya sikap Daiwi Sampad (sikap kedewataan) atas Asuri Sampad (sikap keraksasaan).

Kemenangan mengekang ego. Kemenangan mengendalikan diri. Tidak mencaci, tidak memaki, tidak mengejek, tidak mendiskreditkan hak-hak politik orang lain, dalam hajatan Pilkada.

Baca Juga: Badung Angelus Buana, Bupati Giri Prasta Serahkan Hibah dan BKK di Gianyar

Perbedaaan pilihan menjadi hal yang wajar dan lazim dalam berdemokrasi. Ibarat sebuah taman, akan terlihat indah jika dipenuhi dengan bunga-bungan beragam jenis dan berwarna-warni.

Demikianlah dalam hajatan politik. Menghargai perbedaan pilihan adalah kemenangan dalam mengekang ego. Mengekang hawa nafsu. Mengendalikan sifat sad ripu, yang merupakan enam musuh dalam diri manusia.

Dalam kekawin Ramayana Sargah I disebutkan: “Ragadi musuh maparo, ri hati ya tonggwania tan madoh ri awak, yeka tan hana ri sira, prawira wihian sireng niti"

Artinya, Kama (nafsu) keinginan adalah sejenis musuh yang dekat dihatilah tempatnya tidak jauh dari badan, itu tidak pada Prabu Dasarata, pemberani dan bijaksana sebagai raja.

Mengingat musuh-musuh tersebut tempatnya tidak jauh dari kita sendiri atau berada dalam diri kita sendiri, maka kita harus waspada tidak boleh lengah, karena musuh-musuh tersebut akan menyerang kita pada saat kita lemah dan lalai.

Baca Juga: Jadi Sarana penting saat Galungan dan Kuningan, Ini Makna Lamak dan Simbolnya

Musuh dalam diri tidak dapat dikalahkan dengan senjata canggih apapun, karena musuh-musuh itu tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Sad Ripu itu hanya dapat ditundukkan dengan mengendalikan diri atau mengekang diri (indria iraga).

Maka pada momen Galungan dan Kuningan di tengah perhelatan Pilkada inilah dijadikan sebagai kesempatan untuk mengendalikan diri, menjaga etika dalam ruang tuang public, menghargai pilihan orang lain, tanpa harus merendahkan.

Pilkada yang damai, adalah harapan semua orang. Pemimpin yang dipilih dengan hati nurani tentu akan memberikan tanggung jawab moral untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat yang memilihnya. Sejahtera dan Makmur, layaknya simbol kemenangan Penjor Galungan dan Kuningan. Astungkara. (*)

 

Oleh Dr. I Putu Mardika, S.Pd, M.Si

Dosen Antropologi Budaya Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Editor : I Putu Mardika
#bali #pilkada #mengekang #ego #hindu #serentak #galungan #kuningan