Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan, sektor ini memegang peran krusial dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, tantangan seperti akses pembiayaan, manajemen usaha, dan adopsi teknologi masih menjadi hambatan utama bagi UMKM untuk berkembang. Dalam menghadapi tantangan ini, dukungan dari perguruan tinggi menjadi faktor kunci untuk mendorong daya saing UMKM di tingkat nasional dan global.
Seminar Nasional: Sinergi Perguruan Tinggi dan UMKM
Salah satu langkah konkret akademisi dalam mendukung UMKM adalah penyelenggaraan seminar nasional bertema “Peran BPK dalam Meningkatkan Transparansi Pengelolaan Keuangan serta Upaya Mendorong Keberlanjutan UMKM” yang diadakan oleh Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Seminar ini menjadi wadah diskusi penting untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi UMKM dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis mereka.
Rektor Universitas Moestopo, Dr. FX. Sugiyanto, menekankan bahwa salah satu tantangan utama UMKM di Indonesia adalah belum adanya pemisahan yang jelas antara modal usaha dan kebutuhan rumah tangga. Tanpa manajemen keuangan yang baik, pertumbuhan UMKM akan sulit optimal. Hal ini menunjukkan pentingnya pendampingan akademisi dalam memberikan edukasi keuangan bagi pelaku usaha.
UMKM: Pilar Ekonomi yang Butuh Inovasi dan Digitalisasi
Direktur Pascasarjana Universitas Moestopo, Prof. Dr. Ir. Triyuni Soemartono, mengungkapkan bahwa UMKM menyumbang 90% dari total bisnis global dan menyerap lebih dari 50% tenaga kerja dunia. Di Indonesia, jumlah UMKM terus meningkat dari 59,26 juta unit pada 2015 menjadi 64,2 juta unit pada 2020. Namun, mayoritas UMKM (99,62%) masih berada pada skala mikro dengan omzet tahunan di bawah Rp2 miliar. Selain itu, kesenjangan pembiayaan masih menjadi kendala utama yang menghambat pertumbuhan UMKM.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM mengalami perlambatan. Hingga September 2024, pertumbuhan kredit perbankan untuk UMKM hanya mencapai 5,04% secara tahunan, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8,34%. Selain itu, rasio Non-Performing Loan (NPL) sektor UMKM meningkat dari 3,88% pada 2023 menjadi 4% pada 2024. Tingginya risiko kredit ini menyebabkan perbankan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan, sehingga diperlukan kebijakan yang lebih efektif untuk membantu UMKM.
Kepala Subauditorat II.C.2 Auditorat Keuangan Negara II BPK RI, Indra Kumbara Wedha, merekomendasikan revisi kebijakan subsidi bunga atau margin UMKM Non-KUR agar lebih tepat sasaran. Selain itu, validasi data usaha mikro juga perlu ditingkatkan guna memastikan kebijakan yang diterapkan benar-benar bermanfaat bagi UMKM.
Digitalisasi: Solusi Strategis untuk UMKM Naik Kelas
Transformasi digital menjadi solusi utama yang diusulkan akademisi untuk membantu UMKM berkembang. Darto, dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, menyoroti pentingnya digitalisasi dalam membuka akses pasar dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan adopsi teknologi, UMKM dapat menjangkau pasar yang lebih luas serta meningkatkan produktivitas dan daya saing mereka.
Selain digitalisasi, pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan dan konsep factory sharing berbasis rantai nilai juga menjadi strategi penting dalam memperkuat UMKM. Akses terhadap pembiayaan bersubsidi yang lebih terjangkau juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan sektor ini.
Universitas Indonesia (UI) turut serta dalam mendukung UMKM melalui kerja sama dengan Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) Southeast Asia. J-PAL, yang berpusat di MIT, adalah jaringan profesor global yang melakukan evaluasi acak untuk menemukan solusi berbasis data dalam memerangi kemiskinan. Di Indonesia, J-PAL SEA telah melakukan lebih dari 20 evaluasi acak terkait sektor keuangan, perlindungan sosial, pendidikan, dan UMKM. Kolaborasi ini memberikan wawasan berharga dalam menyusun kebijakan berbasis bukti untuk membantu UMKM menghadapi berbagai tantangan.
BUMK dan Rumah Produksi Bersama: Strategi Pemerintah untuk UMKM
Dalam rangka mendukung UMKM, pemerintah melalui Kementerian UMKM bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sektor swasta untuk membentuk Badan Usaha Milik Kampus (BUMK). Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan wirausahawan muda yang mampu bersaing di pasar global.
Program Rumah Produksi Bersama (RPB) juga menjadi langkah strategis pemerintah dalam mendukung UMKM. Dengan 16 lokasi RPB yang tersebar di seluruh Indonesia, program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan UMKM dan menciptakan lapangan kerja di daerah. Selain itu, pemerintah terus mendorong digitalisasi sebagai solusi utama dalam menghadapi tantangan UMKM di era modern.
Kesimpulan: Kolaborasi Lintas Sektor untuk UMKM Berdaya Saing Global
Dukungan perguruan tinggi terhadap UMKM selaras dengan upaya menciptakan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Pendampingan akademisi dalam edukasi keuangan, akses pembiayaan, dan transformasi digital menjadi faktor utama dalam memperkuat daya saing UMKM. Keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada kapasitas internal, tetapi juga pada ekosistem pendukung yang melibatkan berbagai pihak.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri merupakan langkah strategis yang harus terus diperkuat. Dengan kebijakan yang tepat, tata kelola transparan, dan pemanfaatan teknologi, UMKM memiliki potensi besar untuk menjadi pilar utama ekonomi nasional yang berdaya saing global. Dukungan dari akademisi dan institusi pendidikan akan terus menjadi elemen kunci dalam mewujudkan visi besar ini, memastikan bahwa UMKM dapat berkontribusi maksimal dalam pembangunan ekonomi Indonesia. ***
Oleh: Mastur Jaelani (Peneliti dari Cahaya Harapan Bangsa Institute)
Editor : I Putu Suyatra