Perayaan ini tidak hanya kaya akan makna spiritual, tetapi juga diwarnai berbagai tradisi unik yang memperkuat kebersamaan dan identitas budaya masyarakat Hindu di Nusantara.
Galungan tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam, yaitu kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan), atau secara lebih luas, kemenangan kecerdasan (buddhi) melawan kebodohan (awidya).
Baca Juga: Ribuan Kartini Masa Kini Ikuti Edukasi Safety Riding, Fokus pada Keselamatan di Persimpangan
Galungan mengajarkan umat Hindu untuk senantiasa mengedepankan kebijaksanaan, kebaikan, dan kesadaran dalam menghadapi tantangan hidup.
Hari Suci Galungan memiliki landasan filosofis dan mitologis yang tercatat dalam beberapa lontar (naskah tradisional Bali), seperti Lontar Purana Bali, Lontar Dharma Kauripan, dan Lontar Sri Jayakasunu.
Salah satu kisah paling terkenal yang melatarbelakangi perayaan Galungan adalah kisah kekalahan Raja Mayadenawa, seorang raja yang angkuh dan menolak keberadaan Ida Shang Hyang Widhi Wasa.
Secara mitologis, Galungan dipercaya sebagai hari kemenangan umat Hindu melawan kekuatan jahat yang diwakili oleh Raja Mayadenawa.
Kisah ini melambangkan pertarungan abadi antara kecerdasan spiritual dan kebodohan yang membelenggu manusia.
Dalam konteks kehidupan saat ini, Galungan menjadi pengingat bagi umat manusia untuk senantiasa memerangi kebodohan, baik dalam bentuk ketidaktahuan, keserakahan, maupun perilaku merusak lainnya.
Baca Juga: Wisatawan Dilarang Masuk ke Pura Lempuyang Selama Lima Hari: Begini Alasan Bendesa Adat Purwayu
Kebodohan (awidya) dalam filosofi Hindu mengandung makna mendalam. Kebodohan juga ketidakmampuan membedakan yang benar dan salah. Awidya berasal dari bahasa sansekerta, “a” berarti tidak dan “vidya” berarti pengetahuan.
Jadi, avidya dimaknai sebagai kegelapan batin yang mengaburkan pemahaman tentang Ida Shang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan Atman (diri sejati).
Kebodohan juga dimaknai sebagai ilusi (maya) yang membuat manusia terjebak dalam identitas palsu (ego) dan mengira dunia material sebagai satu-satunya realitas.
Baca Juga: Mantap!Program Tukar Sampah Jadi Buah Tekan Belasan Ton Sampah Plastik Masuk TPA
Ketidaktahuan akan hukum dharma, sehingga manusia terperangkap dalam siklus samsara (kelahiran kembali).
Yoga Sutra Patanjali II.5 menjelaskan; Di balik awidya, manusia mengira yang fana sebagai abadi, yang tidak murni sebagai murni, penderitaan sebagai kebahagiaan, dan yang bukan-diri sebagai diri.
Galungan mengajarkan bahwa kecerdasan (buddhi) adalah alat utama untuk melawan kebodohan dan mencapai pencerahan.
Umat Hindu merayakan Galungan dengan melakukan persembahyangan, introspeksi diri, dan memperkuat tekad untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Galungan hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai sebuah perayaan atau pesta semata.
Baca Juga: Buleleng Bergerak! Siapkan Jurus Rahasia Tekan Kemiskinan dan Dongkrak IPM dalam 5 Tahun!
Galungan harus diaktualisasikan lebih mendalam dan kontemplatif untuk meningkatkan kualitas diri untuk selalu berusaha berbhakti dan mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta.
Dengan demikian, Galungan menjadi momentum untuk mengasah kecerdasan spiritual dan intelektual agar terhindar dari pengaruh negatif.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, kebodohan masih menjadi ancaman dalam bentuk hoaks, radikalisme, dan degradasi moral.
Galungan menginspirasi kita untuk selalu waspada dan menggunakan akal sehat serta kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai persoalan.
Perayaan ini juga mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kemajuan material dan perkembangan spiritual agar manusia tidak terjebak dalam keserakahan dan kehancuran.
Hari Suci Galungan bukan sekadar tradisi, tetapi simbol perjuangan abadi manusia melawan kebodohan dan kejahatan.
Baca Juga: Sekda dan DPRD Bersatu Bahas Peta Baru Masa Depan Badung 20 Tahun Mendatang!
Dengan merayakan Galungan, umat Hindu diingatkan untuk senantiasa mengembangkan kecerdasan, kebajikan, dan kesadaran diri.
Kemenangan dharma atas adharma harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pikiran yang jernih, hati yang suci, dan tindakan yang bijaksana.
Dengan demikian, esensi Galungan akan terus relevan sebagai penuntun umat manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. (*)
Oleh: Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd
Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Editor : I Putu Mardika