Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sudut Pandang Hobi Lari Dalam Ilmu Ekonomi

Putu Resa Kertawedangga • Sabtu, 13 Desember 2025 | 01:49 WIB

Ilustrasi tren running yang kini mulai muncul di sejumlah kota Indonesia.
Ilustrasi tren running yang kini mulai muncul di sejumlah kota Indonesia.

Tren olahraga lari atau running mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir. Aktivitas yang dahulu dipandang sebagai olahraga sederhana kini telah menjadi fenomena budaya, gaya hidup, dan sarana pengembangan komunitas yang sangat luas. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran kesehatan, kemajuan teknologi sportwear, serta pengaruh media sosial yang semakin dominan.

Salah satu kekuatan utama yang membuat olahraga lari populer adalah sifatnya yang mudah diakses oleh semua kalangan. Tidak membutuhkan fasilitas khusus, pelari bisa memulai aktivitas di mana saja, seperti jalan raya, taman kota, atau area perumahan. Kemudahan akses ini membuat running menjadi olahraga yang inklusif dan tidak membatasi usia, tingkat ekonomi, atau jenis kelamin.

Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan menjadi faktor pendorong yang sangat kuat. Banyak orang mulai memahami pentingnya menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan stamina, serta mencegah berbagai penyakit kronis melalui aktivitas fisik yang konsisten. Running dianggap sebagai aktivitas yang efektif karena mampu melatih hampir seluruh tubuh dan memberikan manfaat kesehatan baik secara fisik maupun mental.

Baca Juga: Strategi Pemerintah Prabowo Dorong Pemerataan Ekonomi Desa Melalui Kopdes Merah Putih dan MBG

Komunitas lari juga menjadi kekuatan besar dalam perkembangan tren ini. Komunitas-komunitas seperti Indo Runners, Runhood, dan berbagai komunitas lokal memberikan dukungan moral bagi para pelari, baik pemula hingga atlet. Mereka menyediakan wadah berbagi pengalaman, pengetahuan, serta memberikan motivasi kolektif yang sering kali membuat seseorang bertahan dalam rutinitas lari.

Tidak hanya itu, perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang memperkuat tren ini. Kehadiran smartwatch, aplikasi pelacak aktivitas, dan inovasi teknologi sepatu menghadirkan pengalaman berlari yang lebih menyenangkan dan informatif. Aplikasi seperti Strava, Nike Run Club, dan Garmin Connect memungkinkan pelari memantau perkembangan performa, berdiskusi dengan komunitas global, serta mengikuti challenge yang meningkatkan motivasi.

Terlepas dari popularitasnya, tren running tetap memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan yang paling sering muncul adalah risiko cedera. Banyak pemula yang belum memahami teknik lari yang baik, pemilihan sepatu yang tepat, atau prinsip latihan bertahap sehingga rentan mengalami cedera seperti shin splint, cedera lutut, atau keseleo. Cedera ini dapat menghambat perkembangan dan bahkan menghentikan rutinitas lari seseorang.

Baca Juga: KUHAP Baru: Memperkuat Hak Masyarakat & Mendorong Reformasi Hukum di Indonesia

Selain cedera, biaya perlengkapan running yang terus meningkat menjadi kelemahan lain. Meskipun lari dikenal sebagai olahraga murah, pada kenyataannya tren penggunaan sepatu berteknologi tinggi, pakaian olahraga premium, serta aksesoris seperti jam pintar membuat running menjadi aktivitas yang cukup mahal. Hal ini dapat membatasi partisipasi individu yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Infrastruktur yang kurang memadai juga menjadi kendala. Banyak kota di Indonesia tidak memiliki jalur lari yang aman dan nyaman bagi pelari. Minimnya ruang terbuka hijau, pencahayaan yang kurang, serta kondisi jalan yang tidak merata dapat mengurangi kenyamanan pelari dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain itu, tren lari yang banyak dipengaruhi media sosial kadang menimbulkan tekanan sosial atau motivasi yang kurang sehat. Banyak pelari merasa harus membagikan aktivitas mereka agar mendapatkan pengakuan dari lingkungan digital, alih-alih berlari demi kesehatan. Akibatnya, motivasi intrinsik dapat tergantikan oleh motivasi eksternal yang tidak selalu membawa manfaat jangka panjang.

Baca Juga: Pembangunan Papua Kian Inklusif: Komitmen Pemerintah Hadirkan Pemerataan & Keadilan Sosial

Meski demikian tren running membuka peluang besar bagi industri olahraga, teknologi, maupun sektor ekonomi lainnya. Industri sepatu dan apparel adalah salah satu sektor yang paling diuntungkan. Permintaan akan sepatu dengan teknologi terbaru seperti carbon plate, superfoam, dan cushioning inovatif terus meningkat. Brand internasional maupun lokal dapat memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan berbagai segmen pelari.

Selain itu, penyelenggaraan event lari berkembang sangat pesat. Marathon, half-marathon, fun run, night run, hingga virtual run menjadi aktivitas yang sangat diminati. Event-event ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga peluang bisnis yang besar. Industri pariwisata pun mendapat manfaat melalui konsep sport tourism, di mana pelari sengaja datang ke kota tertentu untuk mengikuti lomba.

Teknologi digital juga memiliki peluang besar dalam dunia running. Aplikasi pelatihan, platform coaching online, serta fitur analisis data berbasis kecerdasan buatan membuka peluang inovasi yang luas. Perusahaan dapat mengembangkan layanan berlangganan yang memberikan program latihan personal, analisis stride, serta rekomendasi sepatu berdasarkan gaya berlari.

Peluang lain yang tak kalah besar adalah dalam hal community building. Komunitas lari dapat menjadi ekosistem pemasaran bagi brand secara jangka panjang. Brand dapat menciptakan program loyalitas, kolaborasi event, sponsorship, hingga kampanye sosial yang memperkuat identitas brand sekaligus meningkatkan kedekatan dengan konsumen.

Di balik potensi besar yang ditawarkan, tren running juga menghadapi beberapa ancaman. Salah satu ancaman terbesar adalah persaingan industri yang sangat ketat. Brand-brand besar terus berlomba menciptakan inovasi baru, sehingga produk cepat menjadi usang. Perusahaan yang lambat beradaptasi dapat tertinggal dari pesaing yang lebih inovatif.

 Faktor lingkungan juga menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Polusi udara, suhu ekstrem, atau cuaca buruk dapat mengurangi frekuensi pelari dalam melakukan latihan. Hal ini terutama terjadi di kota besar yang memiliki tingkat polusi tinggi.

Selain itu, kejenuhan pasar dapat menjadi ancaman serius. Ketika terlalu banyak event berkonsep sama, atau terlalu banyak challenge digital yang berbayar, pelari dapat merasa jenuh dan kehilangan minat. Budaya berlari yang awalnya menyenangkan dapat berubah menjadi aktivitas yang dianggap membebani.

Ketergantungan pada teknologi juga dapat menjadi ancaman. Ketika pelari terlalu mengandalkan gadget untuk memotivasi diri, gangguan teknis pada perangkat dapat memengaruhi semangat mereka. Hilangnya data, kerusakan smartwatch, atau aplikasi yang tidak stabil berpotensi menurunkan motivasi pelari. ***

 

Oleh: Mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha, I Wayan Mastika Arsa Wibawa

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#tren #running #olahraga #lari #gaya hidup