Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketika Tumbler Jadi Primadona: Antara Gaya Hidup dan Strategi Bisnis

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 15 Desember 2025 | 01:02 WIB

Ilustrasi penggunaan tumbler pengganti botol plastik sekali pakai.
Ilustrasi penggunaan tumbler pengganti botol plastik sekali pakai.

Beberapa tahun terakhir, kita melihat perubahan menarik dalam kebiasaan masyarakat. Tumbler, yang dulu hanya dianggap sebagai wadah minuman biasa, kini menjelma menjadi simbol gaya hidup ramah lingkungan. Kesadaran akan bahaya plastik sekali pakai mendorong banyak orang untuk membawa tumbler sendiri. Langkah sederhana ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang bisnis yang tak terduga.

Masalah plastik memang bukan hal sepele. Jutaan ton plastik berakhir di lautan setiap tahun, merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia. Indonesia pun termasuk negara dengan konsumsi plastik tinggi. Tak heran, gerakan membawa tumbler mendapat dukungan luas, bahkan diperkuat oleh kebijakan pemerintah daerah yang mendorong pengurangan plastik sekali pakai. Namun, fenomena ini kini berkembang lebih jauh: tumbler bukan sekadar alat, tapi juga bagian dari strategi bisnis yang menguntungkan.

Lihat saja Starbucks. Brand ini memelopori tren dengan merilis koleksi tumbler edisi terbatas bertema kota dan musim. Produk-produk ini bukan hanya fungsional, tetapi juga bernilai koleksi, menciptakan kesan eksklusif bagi pelanggan. Coffee shop lokal pun tak mau ketinggalan.

Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Fore, hingga Toko Kopi Tuku ikut meramaikan pasar dengan desain menarik dan harga terjangkau, mulai Rp 100.000 hingga Rp 450.000. Bahkan, ada yang berani berinovasi dengan kolaborasi unik, seperti Tomoro Coffee yang menghadirkan tumbler bertema Genshin Impact.

Tak hanya soal desain, teknologi juga ikut bermain. Kini banyak tumbler dilengkapi fitur vacuum insulated double-wall yang mampu menjaga suhu minuman hingga 12–48 jam. Ada juga yang menambahkan sensor suhu dan indikator LED untuk mengingatkan kita minum. Tren modular pun muncul, memungkinkan tumbler dilengkapi infuser teh atau wadah camilan. Praktis, stylish, dan multifungsi, siapa yang tidak tertarik?

Kolaborasi dengan desainer dan artis terkenal semakin memperkuat daya tarik pasar. Di luar negeri, fenomena kolaborasi Stanley dengan selebriti membuat penjualan tumbler melonjak drastis. Di Indonesia, coffee shop mulai menggandeng ilustrator lokal untuk menciptakan desain eksklusif yang memikat konsumen muda. Strategi ini bukan hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat citra brand sebagai pelopor gaya hidup ramah lingkungan.

Pasar tumbler sendiri terus tumbuh pesat. Secara global, nilainya diproyeksikan mencapai US$12 miliar pada 2032, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6,18 persen. Faktor pendorongnya jelas kesadaran lingkungan, gaya hidup sibuk, dan permintaan akan produk yang stylish. Di Indonesia, tumbler bahkan menjadi pilihan utama untuk merchandise perusahaan, hadiah loyalitas, hingga souvenir event olahraga.

Menariknya, tumbler kini juga menjadi media promosi dan CSR. Banyak perusahaan memproduksi tumbler custom dengan logo sebagai hadiah untuk karyawan atau pelanggan loyal. Strategi ini efektif meningkatkan brand awareness sekaligus mendukung kampanye pengurangan plastik sekali pakai. Dengan demikian, tumbler bukan hanya produk, tetapi juga alat komunikasi nilai perusahaan.

Namun, di balik tren ini, muncul pertanyaan apakah fenomena tumbler benar-benar mencerminkan kesadaran lingkungan, atau sekadar budaya konsumsi baru ? Banyak orang membeli tumbler bukan untuk mengurangi plastik, tetapi karena desainnya keren atau demi status sosial. Jika tidak diimbangi edukasi, gerakan ini berisiko kehilangan makna dan hanya menjadi ajang gaya hidup.

Membawa tumbler seharusnya menjadi komitmen, bukan sekadar tren. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama agar kebiasaan ini mengakar. Edukasi tentang dampak plastik dan manfaat tumbler harus terus digencarkan. Jika setiap individu berkomitmen, jutaan ton sampah plastik dapat dihindari setiap tahun, menciptakan bumi yang lebih bersih dan sehat.

Sudah saatnya kita memandang tumbler bukan hanya sebagai produk komersial, tetapi sebagai simbol perubahan perilaku. Perusahaan boleh menjadikannya peluang bisnis, tetapi nilai keberlanjutan harus tetap menjadi inti. Dengan kolaborasi dan kesadaran bersama, tumbler dapat menjadi gerakan nyata menuju masa depan yang lebih hijau. ***

 

Oleh: Mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha, Gusti Ayu Kadek Tutik Agustyari

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#bisnis #gaya hidup #tumbler