FOMO: Ketika Kebahagiaan Diukur dari Kehidupan Orang Lain

I Putu Mardika • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:00 WIB
Dosen IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Putu Sanjaya, S.Ag, M.Pd.H
Dosen IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Putu Sanjaya, S.Ag, M.Pd.H

BALIEXPRESS.ID-Istilah FOMO (Fear of Missing Out) adalah singkatan yang memiliki definisi sebagai suatu perasaan yang mengandung kecemasan atau ketakutan terhadap ketertinggalan momen, hal-hal yang sedang menjadi tren, terhadap informasi, termasuk pula terhadap pengalaman baru yang dialami oleh orang lain. 

FOMO pada dasarnya bukan sekadar keinginan mengikuti tren. Ia merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa harus selalu terlibat, memiliki, atau mengalami sesuatu agar dirinya tidak dianggap tertinggal. Persoalannya menjadi lebih serius ketika ukuran kebahagiaan dan keberhargaan diri mulai ditentukan oleh apa yang dimiliki atau dilakukan orang lain.

Bayangkan sebuah ruang kelas. Beberapa siswa menggunakan sepatu atau tas dengan merek yang sedang populer. Barang tersebut menjadi simbol pergaulan sekaligus penanda status sosial. Siswa yang tidak memilikinya kemudian merasa berbeda.

Ia mulai berpikir bahwa dirinya tertinggal. Keinginan untuk memiliki barang yang sama pun muncul, bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk mendapatkan pengakuan.

Misalnya, ketika beberapa teman di kelas menggunakan sepatu atau tas yang mereknya sedang popular dan booming saat itu, salah seorang siswa di kelas itu mengalami FOMO. Ia dengan berbagai daya upaya terus berusaha supaya ikut punya sepatu atau tas dengan merek yang sama, bagaimanapun caranya.

Jika ekonomi orang tuanya mampu memenuhi keinginan siswa tersebut, rasanya tidak terlalu masalah. Namun yang memprihatinkan adalah keadaan sebaliknya, kondisi tersebut dapat saja memaksa si siswa melakukan perbuatan negative untuk bisa membeli barang dengan tujuan agar tidak tertinggal oleh teman-temannya.

Baca Juga: Setahun Berlalu, Bonus Atlet Bangli Porprov Bali 2025 Belum Cair

Perkara yang sama ketika Ani (sebut saja begitu) bercerita saat acara makan siang di kantin, bahwa ia kemarin diajak jalan-jalan ke sebuah lokasi wisata yang memiliki hamparan sawah luas dan memukau mata.

Cerita tersebut membuat Nia jengah, dan meluangkan waktu untuk ikut memposting foto berdiri di tengah hamparan sawah meskipun lokasi pesawahan itu berbeda. Semua demi labelitas bahwa saya juga ada dalam level yang sama.

Kecenderungan perilaku ini (FOMO) sangat membuka kekhawatiran dan keprihatinan terhadap perilaku yang mengarah pada anti kesederhanaan. Perilaku FOMO berpotensi mengarah kepada keangkuhan eksistensial sekalipun tanpa didukung finansial.

Kondisi ini bisa saja mengarah kepada mindset untuk menjadi high class sosial tanpa moral. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus seseorang terjerat judol, pinjol, bahkan korupsi hanya demi sebuah pengakuan semu dan tepuk tangan hampa.

Masalah muncul ketika seseorang membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan potongan kehidupan terbaik orang lain.

Dalam perspektif psikologi sosial, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain merupakan bagian dari social comparison. Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain.

Dalam konteks digital, ruang perbandingan itu menjadi jauh lebih luas karena media sosial memungkinkan seseorang menyaksikan kehidupan orang lain hampir tanpa batas.

FOMO kemudian bekerja melalui mekanisme yang sederhana: melihat, membandingkan, merasa kurang, menginginkan, mengejar, lalu kembali membandingkan.

Baca Juga: Proyek LPJU Rp7,8 Miliar di Karangasem Batal, Terganjal Administrasi Aset Daerah

Dalam perspektif nilai Hindu, persoalan ini dapat dibaca melalui filosofi Tri Kaya Parisudha. Pikiran yang baik (manacika), perkataan yang baik (wacika), dan perbuatan yang baik (kayika) menjadi fondasi agar manusia tidak diperbudak oleh dorongan sesaat. FOMO yang bermula dari pikiran dapat berubah menjadi perkataan dan tindakan. Karena itu, pengendalian pertama harus dimulai dari pikiran.

Ambisi membuat seseorang bergerak menuju tujuan. FOMO membuat seseorang berlari mengejar bayangan orang lain. Ambisi dapat melahirkan prestasi. FOMO dapat melahirkan kelelahan. Ambisi berangkat dari kesadaran diri. FOMO sering berangkat dari perbandingan sosial.

Karena itu, persoalan terbesar bukanlah bagaimana menghilangkan FOMO sepenuhnya. Sebagai manusia sosial, membandingkan diri dengan orang lain merupakan sesuatu yang sulit dihindari. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan untuk mengelolanya.

Kita perlu belajar mengatakan: tidak semua yang sedang populer harus saya miliki, tidak semua yang dimiliki orang lain harus saya kejar, dan tidak semua yang terlihat membahagiakan orang lain harus menjadi ukuran kebahagiaan saya.

Kesederhanaan bukan berarti kemunduran. Tidak mengikuti tren bukan berarti ketinggalan zaman. Hidup tanpa kebutuhan untuk selalu dipuji bukan berarti hidup tanpa prestasi.

Pertanyaan mendasar dalam masalah ini adalah, kebahagiaan seperti apa yang diperoleh dalam hidup yang dibayangi oleh pencapaian orang lain? Adakah kedamaian yang diperoleh dengan hati yang selalu terburu-buru untuk memenuhi keinginan? Kesejahteraan batin macam apa yang diraih apabila keinginan-keinginan untuk menyamai orang lain itu tergapai?

Mungkinkah FOMO akibat dari iri atau ambisi? Atau sekedar sebuah keikhlasan hati untuk menjadi budak materi-materi tak berujung yang menggerus dari hari ke hari? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.

Oleh:

Dr. I Putu Sanjaya, S.Ag, M.Pd.H

Penulis adalah Dosen IAHN Mpu Kuturan

 

 

Editor : I Putu Mardika
tren fomo hindu mpu kuturan