Memiliki Wawasan Glocal di Era AI: Think First, AI Later

I Putu Mardika • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 19:30 WIB
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Kita sedang memasuki zaman ketika memperoleh jawaban jauh lebih mudah daripada merumuskan pertanyaan. Cukup mengetik beberapa kalimat ke ChatGPT, Gemini, Claude, Copilot, atau berbagai mesin berbasis AI, dalam hitungan detik kita dapat memperoleh ringkasan buku, penjelasan konsep, rancangan tulisan, bahkan argumentasi yang tampak meyakinkan. Persoalannya, ketika mesin semakin pandai membaca, merangkum, dan menjawab, apakah manusia justru semakin malas membaca dan berpikir? 

Pertanyaan ini penting karena tantangan terbesar pendidikan di era AI mungkin bukan lagi kekurangan informasi. Kita justru hidup dalam kondisi dimana informasi sangat berlimpah. Tantangannya adalah kemampuan membedakan informasi yang penting dan tidak penting, fakta dan opini, bukti dan klaim, pengetahuan dan manipulasi, serta jawaban yang masuk akal dan jawaban yang sekadar terdengar meyakinkan. Karena itu, semakin canggih AI, semakin penting pula dua kebiasaan manusia yang sebenarnya sangat klasik, yaitu membaca dan berpikir kritis.

Untuk merespons hal ini, ada baiknya kembali ke kebiasaan membaca. Kegiatan ini sering dipahami terlalu sederhana, yakni melihat teks, memahami isinya, lalu dapat menjawab pertanyaan tentang bacaan tersebut. Padahal membaca yang sesungguhnya jauh lebih dalam. Membaca adalah proses berdialog dengan gagasan. Pembaca yang baik tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa isi tulisan ini?” Ia bergerak menuju pertanyaan yang lebih kritis, “Mengapa penulis mengatakan demikian?”, “Bukti apa yang digunakan?”, “Apakah sumbernya dapat dipercaya?”, “Perspektif siapa yang tidak muncul?”, “Apakah ada argumentasi lain?”, dan akhirnya, “Apa posisi saya setelah membaca berbagai perspektif tersebut?”

Di sinilah membaca bertemu dengan berpikir kritis. Pada masa sebelum internet, persoalan utama kita mungkin adalah sulitnya memperoleh informasi. Sekarang persoalannya terbalik. Informasi datang tanpa henti melalui media sosial, mesin pencari, video pendek, grup percakapan, dan AI generatif. Kita dapat merasa mengetahui banyak hal karena setiap hari mengonsumsi ratusan potongan informasi, padahal belum tentu memahami sesuatu secara mendalam.

Dalam era AI saat ini, kita bisa saja menjadi kaya informasi, tetapi bisa miskin pada aspek pemahaman. Budaya membaca tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak halaman atau buku yang dibaca. Yang lebih penting adalah kedalaman interaksi dengan bacaan. Satu artikel yang dibaca secara perlahan, dibandingkan dengan sumber lain, dipertanyakan argumentasinya, dan direfleksikan implikasinya dapat jauh lebih bermakna daripada puluhan tulisan yang hanya dilewati di layar telepon genggam.

AI membuat paradoks ini semakin menarik. Teknologi sekarang dapat membaca untuk kita. Kita dapat mengunggah artikel puluhan halaman dan meminta AI meringkasnya menjadi lima poin. Buku ratusan halaman dapat dipadatkan menjadi beberapa paragraf. Kita bahkan dapat bertanya, “Apa gagasan utama buku ini?” tanpa pernah membuka bukunya. Semua itu tentu sangat membantu. Namun, kemudahan tersebut menyimpan risiko ketika bantuan (assistance) berubah menjadi alat pengganti (replacement). 

Baca Juga: Prabowo Ungkap Satgas PKH Selamatkan Rp52 Triliun dan Ratusan Ribu Hektare Hutan

Saat ini, dalam konteks pembelajaran di level universitas, cara belajar seorang mahasiswa bisa saja sudah berbeda. Ketika mereka mendapat tugas membaca lima artikel penelitian, ia dengan mudah bisa memasukkan semuanya ke AI dan meminta, “Ringkas kelima artikel ini dan buatkan sintesisnya.” Beberapa menit kemudian tugas selesai. Secara administratif, ia mungkin telah menyelesaikan pekerjaan. Secara kognitif, belum tentu ia telah belajar. Ia kehilangan kesempatan berinteraksi secara kognitif dengan istilah yang sulit, menemukan kontradiksi antar penulis, mempertanyakan metodologi penelitian, membandingkan bukti, dan membangun sintesisnya sendiri. Padahal justru pergulatan intelektual itulah yang membentuk kemampuan berpikir.

Hal yang sama dapat terjadi pada siswa. Ketika diminta menulis argumentasi tentang perubahan iklim, misalnya, siswa langsung meminta AI membuat esai lengkap. Produk akhirnya mungkin bagus, tetapi proses berpikirnya hampir tidak terjadi. Inilah yang perlu kita waspadai,  jangan sampai kualitas produk meningkat karena AI, sementara kualitas berpikir manusia justru menurun.

Karena itu, posisi AI dalam pendidikan dan kehidupan perlu dibuat jelas. AI sebaiknya ditempatkan sebagai cognitive partner, bukan cognitive substitute. Sebagai cognitive partner, AI membantu memperluas kemampuan manusia. AI dapat membantu menemukan perspektif lain, menjelaskan konsep sulit, memberikan umpan balik, menantang argumentasi, membuat simulasi, membandingkan gagasan, atau membantu menemukan kelemahan dalam cara berpikir kita. Namun, keputusan intelektual terakhir tetap berada pada manusia. 

Baca Juga: Airlangga Soroti Vietnam, Indonesia Diminta Genjot Digitalisasi hingga AI

Sebaliknya, AI menjadi cognitive substitute ketika kita menyerahkan proses berpikir kepada mesin, misalnya membaca digantikan ringkasan AI, menganalisis digantikan analisis AI, menulis digantikan teks AI, dan mengambil posisi pun mengikuti rekomendasi AI. Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi implikasinya besar. Proses berpikirnya bukan meminta, “Buatkan esai tentang dampak AI terhadap pendidikan,” namun siswa diajak dan/ atau membaca beberapa sumber terlebih dahulu, menyusun argumentasinya, kemudian bertanya kepada AI, “Ini argumentasi saya. Apa kelemahan logikanya? Berikan tiga kemungkinan kontra-argumen.” Di sini AI tidak menggantikan berpikir, namun AI memprovokasi berpikir.

Setelah membaca sebuah artikel, mahasiswa juga dapat meminta AI, “Ajukan lima pertanyaan kritis terhadap artikel ini.” Ia kemudian mencoba menjawab sendiri pertanyaan tersebut berdasarkan teks asli dan sumber lain. AI berubah dari mesin pemberi jawaban menjadi teman berdialog. Proses belajar dan berpikir bergeser dari budaya berpikir kritis dan bertanya lebih penting daripada budaya menjawab atau menghafal. 

Selama bertahun-tahun pendidikan kita banyak memberikan penghargaan kepada kemampuan menemukan jawaban yang benar. Di era AI, orientasi tersebut perlu diperluas. Jawaban semakin mudah diperoleh. Kemampuan mengajukan pertanyaan yang bermutu justru semakin berharga. Ketika AI memberikan sebuah jawaban, siswa dapat dibiasakan bertanya. “Dari mana informasi ini berasal?”, “Apakah ada bukti yang mendukungnya?”, “Apakah ada perspektif yang berbeda?”, “Apakah informasi tersebut masih mutakhir?”, “Adakah bias dalam jawabannya?”, “Apa yang terjadi jika asumsi dasarnya diubah?” Dan seterusnya. Kebiasaan sederhana seperti ini dapat membangun literasi AI sekaligus literasi kritis. 

Baca Juga: Dugaan Pembuangan Limbah ke Drainase, Kementerian LH Ambil Sampel

Di kelas, guru bahkan dapat menggunakan jawaban AI sebagai bahan yang sengaja harus dibongkar atau didiskusikan lebih jauh dan dalam. Misalnya, guru meminta AI menjelaskan sebuah peristiwa sejarah. Siswa kemudian diminta memeriksa jawabannya menggunakan buku, artikel, arsip, atau sumber terpercaya lainnya. Mereka menandai informasi yang akurat, kurang lengkap, bias, atau keliru. Kegiatan seperti ini jauh lebih mendidik daripada sekadar melarang AI.

Kebiasaan membaca juga penting untuk membentuk wawasan terbuka. Dunia sekarang membutuhkan manusia yang mampu berpikir melampaui batas geografis tanpa kehilangan pemahaman terhadap konteks tempat ia berpijak. Inilah pentingnya perspektif glocal, dimana kita bisa berpikir global, memahami lokal, lalu menghubungkan keduanya secara kritis. Seorang guru di Bali, misalnya, dapat membaca perkembangan AI dalam pendidikan di Singapura, Jepang, Finlandia, Amerika Serikat, atau negara lain. Namun ia tidak harus menyalin praktik tersebut begitu saja. Ia perlu bertanya, “Apakah pendekatan tersebut sesuai dengan sekolah di Bali?”, “Bagaimana dengan fasilitas, bahasa, budaya, kemampuan guru, kondisi ekonomi keluarga, dan kearifan lokal?” 

Sebaliknya, praktik lokal juga dapat dibawa ke konteks global. Nilai gotong royong, filosofi lokal, praktik pendidikan inklusif, multilingualisme, pembelajaran berbasis komunitas, atau berbagai kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi dunia apabila dikaji, ditulis, dan dikomunikasikan dengan baik. Menjadi glocal berarti tidak inferior terhadap dunia, tetapi juga tidak tertutup terhadap dunia. Kita membaca dunia untuk memahami perubahan global, tetapi tetap membaca lingkungan sendiri agar solusi yang kita bangun memiliki akar.

Untuk membantu memiliki wawasan glocal di era AI saat ini, budaya membaca dan berpikir kritis sebenarnya dapat dimulai melalui kebiasaan yang sangat konkret. Pertama, terapkan prinsip “think first, AI later.” Sebelum menggunakan AI untuk membahas sebuah artikel, siswa atau mahasiswa harus membaca sumber aslinya terlebih dahulu dan mencatat gagasan utama, pertanyaan, serta hal yang belum dipahami, dan berpikir kritis untuk mendalami bacaan tersebut lebih jauh. Kedua, bangun kebiasaan membandingkan sumber. Jangan membentuk pendapat hanya dari satu artikel, satu video, satu unggahan media sosial, atau satu jawaban AI. Untuk isu penting, biasakan membaca beberapa perspektif. Ketiga, gunakan jurnal membaca. Setelah membaca, tuliskan tiga hal, yaitu apa yang saya pelajari, apa yang saya pertanyakan, dan bagaimana gagasan ini berhubungan dengan pengalaman atau pengetahuan saya sebelumnya. Hanya lima sampai sepuluh menit, tetapi kebiasaan ini melatih refleksi. 

Keempat, lakukan AI fact-checking challenge. Guru dapat memberikan jawaban AI dan meminta siswa mencari bukti yang mendukung atau membantahnya. Kelompok yang mampu menemukan sumber paling kredibel dan menjelaskan alasannya mendapat apresiasi. Kelima, bangun kebiasaan “one issue, multiple lenses.” Ambil satu persoalan, misalnya sampah plastik, penggunaan AI di sekolah, pariwisata, perubahan iklim, atau pendidikan inklusif, kemudian baca dari perspektif ilmiah, ekonomi, sosial, budaya, dan lokal. Keenam, adakan 15 menit membaca tanpa gawai sebelum pembelajaran atau diskusi tertentu. Hal ini penting agar da[at melatih kembali perhatian yang panjang (sustained attention) di tengah budaya digital yang terus memecah konsentrasi. Ketujuh, setelah menggunakan AI, tanyakan, “Apa yang tetap harus saya pikirkan sendiri?” Pertanyaan sederhana ini penting untuk menjaga agensi manusia.

Kondisi di atas memang memerlukan usaha pantang menyerah, kebijakan, dan budaya belajar yang bukan lagi sekedar mementingkan ranking, jawaban benar semata, mengedepankan kebiasaan bertanya dan rasa ingin tahu yang tinggi dan berproses panjang untuk mencapai pemahaman. Ada satu hal lain yang perlu dipertahankan, kesediaan mengalami tantangan dalam berproses atau belajar. Tidak memahami sebuah paragraf pada pembacaan pertama bukanlah kegagalan. Bergulat dengan buku yang sulit bukan pemborosan waktu. Menyusun argumentasi lalu menyadari bahwa argumentasi tersebut lemah bukan sesuatu yang harus dihindari. 

Justru dari proses itulah kapasitas intelektual berkembang. Jika setiap kesulitan segera diserahkan kepada AI, kita berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih daya tahan kognitif. Sama seperti otot yang membutuhkan beban untuk menjadi kuat, kemampuan berpikir membutuhkan persoalan yang harus diperjuangkan untuk dipahami. AI dapat membantu ketika kita mengalami kebuntuan. Tetapi sebelum bertanya kepada mesin, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah saya mencoba berpikir?” Hal ini sangat penting, karena masa depan membutuhkan manusia yang tetap membaca dan kemudian berpikir kritis dengan wawasan luas.

 

Kita tentu tidak perlu memusuhi AI. Sebaliknya, kita perlu menggunakannya secara cerdas. AI dapat menjadi salah satu teknologi pendidikan paling transformatif dalam sejarah apabila digunakan untuk memperluas, bukan mempersempit, kemampuan manusia. Namun, secanggih apa pun AI, manusia tetap membutuhkan kemampuan membaca secara mendalam, mempertanyakan informasi, menghubungkan gagasan, memahami konteks, mempertimbangkan nilai, dan mengambil keputusan. Karena itu, tantangan pendidikan kita bukan memilih antara membaca atau menggunakan AI. Bukan pula memilih antara kecerdasan manusia atau kecerdasan mesin. Tantangannya adalah membangun generasi yang membaca lebih luas, berpikir lebih dalam, bertanya lebih kritis, menggunakan AI lebih bijaksana, dan mampu melihat persoalan dari perspektif lokal sekaligus global.

Baca Juga: Paiketan Pemangku Tegallalang Gelar Pelatihan Perkuat SDM Pemangku dan Sarati Banten

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi mesin pintar, kemampuan manusia untuk berpikir justru menjadi semakin berharga. Jangan sampai kita memiliki AI yang semakin pintar, tetapi manusia yang semakin jarang membaca. Jangan sampai mesin semakin terampil menyusun argumentasi, sementara kita semakin kehilangan kemampuan mempertanyakan argumentasi. Dan jangan sampai karena jawaban tersedia dalam hitungan detik, kita kehilangan kesabaran untuk mencari makna. 

Di era AI, adalah penting semua individu harus menggunakan AI untuk memperluas pikiran, bukan menggantikannya. Masa depan pendidikan dan kualitas SDM suatu bangsa bukan ditentukan oleh seberapa banyak jawaban yang dapat diberikan AI kepada masing-masing individunya, melainkan oleh seberapa baik individu tersebut tetap mampu membaca, bertanya, berpikir, dan mengambil keputusan setelah mendengar jawaban AI.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

 

Editor : I Putu Mardika
ChatGPT Glocal Think First ai gemini