Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lauk Serangga di Menu Makan Gratis? Ide Berani yang Picu Pro Kontra! Berikut Beberapa Faktanya

I Putu Suyatra • Jumat, 31 Januari 2025 | 15:10 WIB

Lauk dari serangga yang kini kian populer. (Pixabay)
Lauk dari serangga yang kini kian populer. (Pixabay)

BALIEXPRESS.ID - Usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, untuk memasukkan lauk serangga dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.

Sementara sebagian pihak menilai serangga kaya nutrisi dan ramah lingkungan, banyak yang masih ragu dan mempertanyakan keamanan serta kelayakannya untuk dikonsumsi.

Namun, benarkah serangga layak menjadi sumber protein utama di masa depan?

Serangga: Superfood yang Mulai Mendunia

Meski terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, konsumsi serangga sebenarnya telah menjadi bagian dari pola makan di berbagai belahan dunia, seperti Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

Bahkan, serangga mulai dilirik sebagai alternatif sumber protein yang lebih efisien dibandingkan daging konvensional.

Menurut penelitian dalam jurnal Biotechnological Advances, kandungan protein dalam serangga bisa mencapai 75% dari berat keringnya—lebih tinggi dibandingkan ikan tuna (30%) dan dada ayam (21%).

Selain itu, serangga juga kaya akan omega-3, zat besi, serat alami, serta memiliki tingkat kecernaan protein yang sangat tinggi, mencapai 98%.

Beberapa jenis serangga yang telah terbukti kaya gizi antara lain:
Jangkrik – Tinggi protein, omega-3, dan zat besi
Belalang – Kaya asam amino esensial dan rendah lemak jenuh
Ulat Tepung – Alternatif daging dengan kandungan protein tinggi

Dari Pewarna Makanan hingga Protein Bar: Serangga di Industri Pangan

Mungkin tanpa disadari, kita sudah sering mengonsumsi produk berbahan dasar serangga.

Misalnya, pewarna merah alami dalam permen, yogurt, dan minuman berasal dari ekstrak kumbang Cochineal.

Di beberapa negara, tepung jangkrik mulai digunakan sebagai campuran dalam pembuatan biskuit sehat dan protein bar.

Bahkan, perusahaan-perusahaan rintisan mulai mengembangkan inovasi berbasis serangga untuk makanan masa depan.

Sumber Protein Ramah Lingkungan, Benarkah?

Dibandingkan peternakan konvensional, budidaya serangga menawarkan berbagai keunggulan:

- Lebih Efisien – Serangga bisa menghasilkan lebih banyak protein dengan konsumsi pakan yang jauh lebih sedikit.
- Ramah Lingkungan – Produksi serangga menghasilkan gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan peternakan sapi dan unggas.
- Daur Ulang Limbah – Serangga dapat dikembangbiakkan dengan limbah organik, membantu mengurangi sampah makanan.

Menurut penelitian dari Technical University of Berlin, serangga seperti jangkrik dapat bertelur hingga 1.500 butir dalam sebulan, sehingga lebih mudah dibudidayakan dengan risiko gagal panen yang rendah.

Kendala Besar: Apakah Masyarakat Siap?

Meskipun kaya manfaat, konsumsi serangga masih menghadapi berbagai tantangan, di antaranya:

⚠️ Faktor Psikologis dan Budaya
Bagi banyak orang, serangga lebih sering dianggap sebagai hama ketimbang makanan.

⚠️ Risiko Alergi
Beberapa orang yang alergi terhadap makanan laut juga berisiko mengalami reaksi alergi terhadap serangga.

⚠️ Keamanan Pangan
Tidak semua jenis serangga bisa dikonsumsi. Beberapa di antaranya mengandung racun atau mikroorganisme berbahaya jika tidak diolah dengan benar.

Oleh karena itu, jika ide lauk serangga dalam MBG benar-benar direalisasikan, pemerintah harus memastikan ada standar keamanan yang ketat dan edukasi yang luas bagi masyarakat.

Bagaimana menurut Anda? Apakah serangga bisa menjadi makanan masa depan atau tetap sulit diterima oleh masyarakat? ***

Editor : I Putu Suyatra
#makan siang bergizi #jangkrik #serangga #Belalang