BALIEXPRESS.ID– Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena remaja yang terjerumus ke dalam pergaulan negatif akibat konflik keluarga.
Hal ini terungkap dalam dialog Dedi dengan seorang remaja perempuan berkerudung yang saat ini sedang menjalani pembinaan di salah satu Rindam (Resimen Induk Kodam).
Baca Juga: AWK Sarankan Bali Tiru Langkah Dedi Mulyadi Hadapi Ormas Meresahkan
Dalam postingan percakapan yang di unggah oleh akun @dedimulyadi71 pada, Selasa 6 Mei 2025 yang memperlihatkan remaja yang mengaku sering mengonsumsi minuman keras bersama teman-temannya hingga "tidak terhitung" jumlahnya.
Ketika ditanya lebih lanjut, remaja ini menyebutkan bahwa ia tergabung dalam grup WhatsApp bernama "Wartsat" (singkatan dari "orang susah") yang beranggotakan sembilan orang dengan latar belakang berbeda.
"Saya menemukan fakta menarik bahwa remaja ini ternyata berasal dari keluarga yang utuh, namun sering terjadi pertengkaran antara kedua orang tuanya. Konflik keluarga inilah yang membuatnya jenuh dan memilih jalan menyimpang," ujar Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Ramai Isu GRIB di Bali, Arya Wedakarna Sebut Ormas Meresahkan Bisa Ditolak Pemda dan Adat
Remaja tersebut mengaku bahwa aktivitas bersama kelompoknya tidak hanya minum minuman keras, tetapi juga keluyuran hingga larut malam, nongkrong, dan bolos sekolah.
Pola tidurnya pun tidak teratur, biasanya tidur pukul 01.00 dini hari dan bangun sekitar pukul 10.00 siang.
"Yang lebih memprihatinkan, meskipun ibunya sering memarahi, remaja ini sudah berani melawan karena merasa kecanduan," tambah Dedi Mulyadi.
Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal tersebut, remaja itu menjawab bahwa ia mencari "ketenangan" dan "kebahagiaan" yang tidak ia dapatkan di rumah karena sering menyaksikan pertengkaran orang tuanya.
Baca Juga: Kronologi Lengkap: Pria Diduga Maling Tewas Dikeroyok Tiga Oknum TNI di Denpasar
Menanggapi hal ini, Dedi Mulyadi menawarkan solusi berupa program pendidikan khusus yang diinisiasi Pemprov Jabar, yaitu kelas khusus bagi remaja dengan kondisi serupa, dilengkapi dengan pelatihan kedisiplinan oleh TNI dan keterampilan praktis.
"Saya menawarkan program ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan mereka. Remaja-remaja ini sebenarnya membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan arahan yang tepat. Mereka bukan tidak bisa berubah, tapi mereka membutuhkan lingkungan yang mendukung perubahan positif," tutup Dedi Mulyadi.
Remaja tersebut menyambut baik tawaran Dedi Mulyadi dan menyatakan kesediaannya untuk mengikuti program rehabilitasi dan pendidikan tersebut, sebagai langkah awal untuk melepaskan diri dari jerat minuman keras dan membangun masa depan yang lebih baik.
Editor : Wiwin Meliana