BALIEXPRESS.ID-Meski Indonesia telah memasuki musim kemarau, hujan yang terus turun di berbagai wilayah menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Langit mendung nyaris setiap hari, gerimis siang bolong, dan suara rintik hujan saat malam menjadi pemandangan tak lazim pada musim yang seharusnya kering dan cerah.
Baca Juga: Tragis! Remaja 13 Tahun Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas, Ditemukan di Saluran Irigasi
Fenomena ini dikenal sebagai kemarau basah, kondisi unik ketika musim kemarau tidak diiringi cuaca panas dan kering, melainkan tetap dibarengi hujan dengan intensitas dan frekuensi yang cukup tinggi.
Fenomena ini mulai terasa sejak awal Mei 2025 dan terus berlanjut hingga kini, menyebabkan genangan air di sejumlah wilayah, termasuk area pertanian, pemukiman, dan fasilitas umum.
Penyebab Kemarau Basah
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena kemarau basah dipicu oleh berbagai faktor atmosfer dan perubahan iklim global.
Deputi Bidang BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa pemanasan suhu permukaan laut di perairan sekitar Indonesia—seperti Laut Jawa, Laut Banda, dan Samudera Hindia—meningkatkan proses penguapan, yang pada akhirnya membentuk awan hujan, meskipun secara kalender berada dalam musim kemarau.
“Kemarau basah adalah fenomena tidak biasa yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak stabil,” ujar Guswanto.
Selain itu, gangguan iklim global seperti La Nina serta perubahan sirkulasi angin di atmosfer juga turut memengaruhi.
Angin dari Australia yang biasanya membawa udara kering ke Indonesia tergantikan oleh angin lembap dari Samudera Pasifik, sehingga memperbesar potensi hujan.
Dampak yang Mulai Terasa
Dampak dari kemarau basah cukup nyata, terutama di sektor pertanian.
Di daerah seperti Kediri dan sekitarnya, banyak petani terpaksa menunda musim tanam palawija seperti jagung dan kedelai yang memerlukan kondisi tanah kering.
Tanah yang becek menyulitkan proses tanam dan meningkatkan risiko tanaman busuk karena kelembapan tinggi.
Di wilayah perkotaan, genangan air mulai muncul di beberapa titik, meningkatkan risiko kerusakan infrastruktur ringan dan memperburuk sanitasi lingkungan.
Penyakit tropis, seperti demam berdarah, juga dikhawatirkan meningkat seiring dengan tingginya kelembapan udara.
Baca Juga: Kemarau Tapi Hujan Deras? BMKG Jelaskan Fenomena Tak Biasa Ini!
Imbauan kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi cuaca terkini. Pemerintah daerah diminta menyesuaikan langkah antisipatif, seperti perbaikan saluran drainase, kesiapsiagaan bencana, serta penyuluhan kepada petani untuk mengatur ulang strategi tanam sesuai cuaca yang tidak menentu.
Fenomena kemarau basah memang bukan hal baru, namun tetap menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh lapisan masyarakat. Menjaga kewaspadaan dan kesiapan menjadi kunci untuk menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa ini.
Editor : Wiwin Meliana