Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Evakuasi Juliana Marins: Agam Rinjani Ungkap Tekanan Internasional hingga Medan Maut di Rinjani

Putu Ayu Aprilia Aryani • Selasa, 1 Juli 2025 | 15:13 WIB

Agam Rinjani Ungkap Tekanan Internasional hingga Medan Maut di Rinjani
Agam Rinjani Ungkap Tekanan Internasional hingga Medan Maut di Rinjani

BALIEXPRESS.ID-Misi evakuasi jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang ditemukan meninggal dunia di jurang Gunung Rinjani, tak hanya menjadi operasi penyelamatan biasa.

Agam Rinjani, pemimpin tim penyelamat yang kini menjadi sorotan, mengungkap bahwa di balik medan ekstrem dan ancaman cuaca, ada tekanan moral dan internasional yang menyertai setiap langkah tim di lapangan.

Baca Juga: Evakuasi Jenazah Juliana Marins, Cerita Agam Rinjani dan Tim Tidur Miring di Jurang 600 Meter

Dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube YIM OFFICIAL yang diunggah Sabtu, 28 Juni 2025, Agam menjawab pertanyaan host mengenai apa yang terlintas dalam pikirannya saat menghadapi situasi kritis dengan risiko nyawa di depan mata.

"Ya begitulah, namanya juga tim rescue bang, apalagi ini persoalan negara, bahwa kami lihat di tempat live itu semua komennya itu bahwa tim rescue lambat, dan lain-lain," ujar Agam merespons tudingan publik soal lambatnya proses evakuasi, dikutip Senin, 30 Juni 2025.

Namun, menurut Agam, persoalan di lapangan tidak sesederhana asumsi publik.

"Bukan persoalan lambat dan lain-lain, karena memang kondisi medannya yang tidak memungkinkan," jelasnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan evakuasi menjadi pertaruhan nama baik Indonesia di mata dunia.

Baca Juga: Detik-Detik Evakuasi Jenazah Juliana Marins di Rinjani: Strategi Rahasia Agam Rinjani Terbongkar

Bahkan, demi menjaga semangat tim yang mulai kelelahan di hari keempat operasi, Agam melakukan satu hal simbolis yang menyentuh.

"Saya bawa bendera merah putih. Sebelum kami turun, itu kami kasih keluar bendera merah putih untuk menyemangati teman-teman. Karena sudah pada loyo semua," imbuhnya dengan nada emosional.

Ketika ditanya apa yang membuat tim tetap percaya diri menjalankan misi berisiko tinggi tersebut, Agam dengan tenang menjawab bahwa itu merupakan sisi kemanusiaan dirinya.

"Kalau dari saya pribadi itu karena sisi kemanusiaan. Masak orang jatuh tidak kita evakuasi." Ujar Agam.

Tak hanya didorong oleh nurani kemanusiaan, Agam juga menyebut adanya dukungan dari pemerintah.

Sebagai orang yang telah lebih dari sembilan tahun menangani berbagai evakuasi di Rinjani, Agam mengakui bahwa ini adalah misi tersulit sepanjang kariernya.

Baca Juga: Dokter Tim Bali United Ungkap Kondisi Made Tito, Siap Comeback Musim Ini?

"Medan yang membuat evakuasi sulit. Saya sudah 9 tahun kurang lebih di Rinjani, berbagai kejadian dan insiden evakuasi sudah saya lalui. Nah ini (evakuasi Juliana) adalah evakuasi tersulit dari puluhan kasus evakuasi yang ada di Rinjani," ungkapnya.

Ia bahkan membandingkan dengan insiden serupa yang pernah terjadi sebelumnya.

"Waktu tahun 2023 itu ada bule dari Israel yang jatuh dari puncak itu 180 meter, tapi ini (Juliana) lebih sulit. Sempat ada longsor batu, karena teman-teman naik, jadinya ada tekanan di atas," ujarnya.

Pengakuan Agam Rinjani ini sekali lagi menegaskan bahwa di balik keberhasilan misi evakuasi tersebut, terdapat nyawa-nyawa yang dipertaruhkan, dedikasi tanpa batas, dan semangat kemanusiaan yang layak diacungi hormat.

Editor : Wiwin Meliana
#evakuasi #Juliana Marins #agam rinjani #maut #gunung rinjani