Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia di Balik Program Makan Bergizi Gratis 82 Juta Anak: Teknologi Digital Jadi Kunci Keberhasilan Nasional?

I Putu Suyatra • Minggu, 20 Juli 2025 | 03:42 WIB

Penerapan program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Banjar, Buleleng untuk siswa TK, SD, SMP hingga SMA.
Penerapan program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Banjar, Buleleng untuk siswa TK, SD, SMP hingga SMA.

BALIEXPRESS.ID – Siapa sangka, di balik ambisi besar pemerintah untuk memberi makan 82 juta anak Indonesia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada teknologi digital yang memegang peranan krusial!

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, secara tegas menyatakan bahwa digitalisasi adalah satu-satunya cara efektif untuk memastikan program kolosal ini berjalan sukses hingga akhir 2025.

Pernyataan ini tentu memicu rasa penasaran: bagaimana sebenarnya teknologi digital bisa menjadi penyelamat program sebesar MBG?

Nezar Patria menjelaskan, dengan cakupan yang sangat luas, tanpa digitalisasi, mustahil mengelola data dan informasi secara efisien, apalagi memantau program dari hulu hingga hilir.

"Saya kira intervensi digital atau digitalisasi dalam proses pelaksanaan makan bergizi gratis ini, ini satu keniscayaan karena kita akan memberi makan kurang lebih 82 juta di akhir 2025 ini," ungkap Nezar.  

Dari Dapur Hingga Piring Anak: Pengawasan Real-Time Anti-Boros!

Mungkin Anda membayangkan program ini hanya sekadar masak dan bagi-bagi. Tapi, Nezar Patria membocorkan detail penting: keberhasilan MBG sangat bergantung pada pengelolaan data secara digital.

Bayangkan, mulai dari rantai pasokan bahan makanan, pengawasan standar gizi, hingga distribusi dan pelaporan, semuanya harus terintegrasi secara digital.

"Mungkin kelihatannya seperti cuma sekadar masak kemudian dibagikan. Tetapi sebenarnya untuk menyiapkan makanan tepat waktu, itu harus disiapkan dari hulu sampai hilir," jelasnya.

Dengan sistem terintegrasi, pemantauan harga bahan pokok, waktu pengiriman, hingga kualitas makanan bisa dilakukan secara real-time. Hasilnya? Potensi kesalahan dan pemborosan anggaran bisa diminimalisir.

Selain itu, digitalisasi juga menjamin transparansi penuh dalam pengadaan logistik dan pemantauan kualitas makanan.

Jika ada keluhan masyarakat soal kualitas makanan, sistem monitoring yang dibangun akan langsung merespons.

MBG akan menjadi model layanan publik yang berbasis data, akuntabel, dan berdampak nyata bagi masa depan bangsa.  

Investasi Jangka Panjang untuk Indonesia Emas 2045: SDM Unggul Siap Bersaing!

Program MBG bukan hanya soal perut kenyang, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas.

Nezar Patria menekankan bahwa program ini bertujuan menyiapkan generasi yang siap menghadapi bonus demografi dan berkontribusi pada ekosistem ekonomi digital yang terus berkembang.

"MBG ini nanti dampaknya adalah pada kesiapan labor forces kita, tenaga kerja kita, generasi kita dalam membangun satu ekosistem ekonomi yang kita tahu akan diwarnai oleh ekonomi digital juga nantinya," tandas Nezar.

Dengan konektivitas digital yang kini menjangkau 97% wilayah berpenghuni, digitalisasi MBG memastikan keadilan akses bagi seluruh lapisan masyarakat, bahkan di daerah terpencil.

"Semua wilayah punya kesempatan yang sama untuk memperoleh manfaat dari program ini," tegas Nezar.

Meskipun menyadari bahwa program MBG mungkin terlambat dilaksanakan, Nezar Patria optimis.

"Walaupun kita terlambat, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali. Dan ini langkah strategis dari Presiden Prabowo saya kira untuk memajukan nutrisi anak-anak," pungkasnya.

Jadi, bisakah teknologi digital benar-benar menjadi pahlawan dalam mewujudkan mimpi besar ini? Bagaimana menurut Anda, apakah digitalisasi akan menjamin setiap anak Indonesia mendapatkan gizi terbaik? ***

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Makan Bergizi Gratis