Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Waspada Radikalisme di Bulan Ramadan: Aparat Ingatkan Ancaman Teror Kini Menyebar Lewat Media Sosial

I Putu Suyatra • Minggu, 8 Maret 2026 | 13:06 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

BALIEXPRESS.ID – Bulan suci Ramadan menjadi momentum sakral bagi umat Muslim untuk memperkuat iman, meningkatkan ibadah, dan mempererat kebersamaan. Namun di tengah suasana yang penuh kedamaian tersebut, aparat keamanan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap ancaman radikalisme dan terorisme yang kini semakin berkembang di era digital.

Satuan anti-teror dari Detasemen Khusus 88 Anti-Teror Polri mengungkap adanya perubahan signifikan dalam metode penyebaran paham radikal. Jika pada periode 1980-an hingga awal 2010 proses perekrutan dilakukan secara tatap muka dan membutuhkan waktu lama, kini penyebaran ideologi radikal dapat terjadi dengan sangat cepat melalui media sosial dan platform digital.

Kanit Densus Cegah Satgaswil Bali Hadinata Kusuma menjelaskan bahwa paparan radikalisme di era internet berlangsung jauh lebih cepat dan masif dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang paparan bisa terjadi hanya dalam waktu satu bulan. Kami bahkan menemukan kasus anak usia 13 tahun di Bali yang terpapar karena masifnya konten digital,” ungkapnya.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa konten radikal masih cukup mendominasi sebagian ruang digital. Sekitar 33 persen atau setara dengan 4.100 konten teridentifikasi sebagai materi yang berisi propaganda dan inspirasi radikal dari kelompok teror.

Fakta ini menjadi peringatan serius bahwa ruang digital belum sepenuhnya aman, terutama bagi generasi muda yang aktif mengakses informasi secara daring setiap hari.

Menurut Hadinata, peran orang tua sangat penting dalam mendeteksi dini potensi paparan radikalisme pada anak. Beberapa perubahan perilaku seperti sikap yang tiba-tiba menjadi eksklusif, mudah tersulut emosi, hingga menunjukkan sikap intoleransi ekstrem dapat menjadi tanda awal yang perlu diwaspadai.

Ia juga menegaskan bahwa radikalisme dan terorisme tidak berkaitan dengan agama atau negara tertentu, melainkan merupakan penyimpangan ideologi yang harus dilawan bersama tanpa menimbulkan stigma terhadap kelompok mana pun.

Sebagai langkah antisipasi selama Ramadan, Densus 88 terus meningkatkan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Pengawasan terhadap aktivitas digital anak dinilai menjadi langkah penting agar mereka tidak terjerumus pada konten yang menyesatkan.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan pencegahan, terutama kepada generasi muda yang bebas mengakses informasi online. Fokus kami adalah membanjiri ruang digital dengan lebih banyak konten positif untuk memperkuat ketahanan ideologi bangsa,” jelasnya.

Upaya ini sejalan dengan nilai-nilai Ramadan yang menekankan kedamaian, toleransi, dan persaudaraan antar sesama. Karena itu, menjaga keamanan bukan hanya menjadi tugas aparat, tetapi juga membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, pendidik, tokoh agama, hingga komunitas lokal.

Editor : I Putu Suyatra
#radikalisme