BALIEXPRESS.ID – Pakar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Prof. Telisa Falianty mengapresiasi kinerja pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka selama sekitar dua tahun terakhir. Menurutnya, stabilitas ekonomi tetap terjaga, namun pengawasan program pemerintah di lapangan perlu diperkuat agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
“Program-program pemerintah untuk masyarakat, khususnya kalangan menengah dan menengah ke bawah, sudah baik. Namun, perlu ada penguatan pengawasan di lapangan agar lebih terarah dan dirasakan masyarakat hingga tingkat bawah,” ujar Prof. Telisa saat berdialog di salah satu televisi swasta nasional di Jakarta.
Menurut Telisa, dari sisi makroekonomi, pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu indikator yang perlu diapresiasi di tengah berbagai tekanan ekonomi global.
“Secara makro pemerintah bisa menjaga stabilitas ekonomi minimal di 5 persen. Kita cukup apresiasi pemerintah bisa menjaga itu, bahkan lebih dari 5 persen,” ungkapnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, Telisa menilai pemerintah juga mampu menjaga inflasi. Menurut dia, tekanan terhadap perekonomian tetap ada, termasuk dampak El Nino dan gangguan rantai pasok di kawasan Selat Hormuz.
“Inflasi kita terjaga. Dulu inflasi rata-rata 7-8 persen, 6 persen, sekarang rata-rata inflasi di angka 3 persen. Memang naik turun, ada harga-harga yang naik, tetapi tidak setinggi dulu,” tuturnya.
Telisa menambahkan, harga kebutuhan pokok secara umum masih relatif stabil meski terdapat sejumlah komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan akibat faktor musiman.
“Secara umum relatif lebih stabil. Jadi masih bisa menjaga harga kebutuhan pokok dan inflasi pada tingkat yang stabil di tengah supply chain disruption yang sedang bergejolak,” jelasnya.
Pengangguran dan Kemiskinan
Dari sisi ketenagakerjaan, Telisa menyebut tingkat pengangguran terbuka terus menurun hingga sekitar 4,65 persen. Menurutnya, kondisi tersebut bersama pertumbuhan ekonomi dan inflasi menjadi sejumlah indikator makro yang menunjukkan perkembangan positif.
“Tingkat pengangguran terbuka itu sebenarnya terus turun di angka 4,65. Sehingga secara makro tiga variabel utama yang konvensional itu bisa dibilang baik,” katanya.
Pada sisi mikro, Telisa juga menyoroti perkembangan kemiskinan dan ketimpangan. Ia menyebut tren keduanya dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan.
“Overall tingkat kemiskinan kita itu trennya memang menurun. Kemudian ketimpangan juga dilihat koefisiennya secara tren itu menurun. Secara keseluruhan tren dalam lima tahun terakhir itu masih oke,” ucapnya.
Meski demikian, Telisa menilai pemerintah masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Salah satunya mendorong masuknya investasi, menjaga tarif listrik agar tidak meningkat tajam, serta memastikan kondisi fiskal tetap stabil sehingga program-program prioritas pemerintah dapat berkelanjutan.
“Saat ini kebijakan pemerintah telah menyentuh masyarakat bawah. Namun, perlu ada upaya lebih untuk mendatangkan investasi, kemudian tarif listrik ditahan agar tidak naik, dan menjaga fiskal agar program prioritas ini bisa terus berjalan,” katanya.
Kelas Menengah Jadi Perhatian
Telisa juga menyoroti kondisi kelas menengah yang dinilai membutuhkan perhatian lebih. Menurutnya, kelompok tersebut ikut terdampak berbagai gejolak geopolitik sehingga stimulus yang diberikan pemerintah perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
“Kelas menengah perlu dipikirkan oleh pemerintah dengan stimulus yang tepat. Kelompok ini yang semakin terhimpit dari guncangan geopolitik. PR pemerintah bagaimana kebijakan dirasakan oleh kelas menengah, agar dalam ekonomi kita bisa menciptakan optimisme dan trust. Namun, harus ada kerja bersama,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra