BALI EXPRESS, DENPASAR - Mendengar nama Bhineka Djaja mungkin tidak begitu dikenal. Namun, jika menyebut nama Kupu-Kupu Bola Dunia, sebagian warga pasti terbayang sebuah merek untuk kopi kemasan. Kenapa terjadi seperti itu ?
Kopi kemasan merek Kupu-Kupu Bola Dunia ini dipasarkan oleh toko Bhineka Djaja yang beralamat di Jalan Gajah Mada No 80 Denpasar. Selain sebagai tempat menjual kopi kemasan, ternyata toko Bhineka Djaja ini menjadi salah satu tempat nongkrong legendaris tidak saja bagi penikmat kopi di Kota Denpasar, namun menjadi salah satu tempat ngopi wajib bagi wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung ke Bali.
Tasya Denissa, salah seorang wisatawan asal Jakarta yang Senin siang kemarin ditemui di Bhineka Djaja mengatakan, memang sengaja datang ke Bhineka Djaja untuk menikmati kopi. “Saya tahu tempat ini dari media sosial. Selain itu, ada beberapa teman yang sudah pernah datang, yang mengatakan kopinya enak. Saya penasaran ingin mencicipi kopi di tempat ini,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Diakui Tasya, rasa Bali Coffeenya memang benar-benar mantap. Rasa yang nikmat ini, lanjut Tasya, karena kopi yang digunakan untuk meracik minuman pesanannya ini memang kopi kualitas premium. Selain kualitas kopi yang premium, panas air serta takaran air yang digunakan juga tepat, sehingga rasa Bali Coffee memiliki komposisi rasa yang tepat.
“Untuk kualitas rasa, rasa kopi di sini memang benar-benar enak, tidak menyesal saya datang kemari,” ungkap Barista di salah satu coffee shop di Jakarta Pusat ini.
Selain sebagai tempat ngopi bagi wisatawan domestik, Bhineka Djaja juga menjadi salah satu destinasi wisata bagi wisatawan asing yang sedang berlibur ke Bali. Selain datang untuk minum kopi, wisatawan asing ini juga sering membeli kopi untuk oleh-oleh ketika pulang ke negaranya.
Melody, seorang wisatawan asal Belanda yang berwisata ke Bali sejak akhir Desember lalu, mengaku sudah beberapa kali datang ke warung kopi ini. “Awalnya saya datang karena diajak oleh pemandu wisata yang menemani saya di Bali. Dia bialng kopi di sini memang enak, setelah beberapa kali ke Bali, akhirnya saya datang bersama dengan suami saya,” jelasnya.
Melody mengaku juga membeli kopi untuk oleh-oleh pulang ke negaranya. " Warung kopi ini juga memiliki kopi kemasan yang mudah dibawa dan tentunya dengan harga yang terjangkau," urainya.
Bhineka Djaja diakui beberapa pelanggannya tidak saja sebagai tempat ngopi, tetapi juga sebagai tempat pertemuan yang mudah dijangkau.
Seperti diakui owner Bhineka Djaja, Wirawan Tjahjadi. Menurut Wirawan, yang datang untuk menikmati kopi di warungnya ini berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang profesi. “Pelanggan kami disini tidak saja berasal dari satu generasi saja, namun berasal dari semua kalangan, mereka datang kemari untuk minum kopi dan ngobrol tentang banyak hal,” ungkapnya.
Ditambahkannya, setiap akhir pekan warung kopinya sering digunakan sebagai tempat berkumpul oleh berbagai komunitas yang ada di Kota Denpasar, seperti komunitas fotografi, komunitas sketsa, dan beragam komunitas lainnya.
Konsisten Gunakan Kopi Premium, Tidak Sediakan Snack
Dikatakan Wirawan, Warung Kopi Bhineka Djaja sudah ada sejak tahun 1930-an silam. Sejak awal, warung kopi ini memang menjual kopi bubuk, di samping untuk kopi siap minum. “Dulu kopi seduh yang disediakan adalah kopi seduh manual, seperti kopi tubruk atau kopi yang tidak menggunakan mesin,” jelasnya.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, akhirnya menyediakan coffee machine dengan beberapa jenis menu, seperti espresso, double espresso, capucino, Bali Coffee serta Picollo. Untuk jenis minuman berbahan dasar kopi yang disediakan, memang sangat terbatas pada jenis kopi yang sederhana dalam penyajiannya.
Jenis kopi yang digunakan adalah kopi Arabika Bali. Wirawan mengatakan, pihaknya tetap konsisten untuk menggunakan jenis kopi premium karena ingin para pelanggan bisa menikmati kopi dengan harga terjangkau.
Yang unik , warung kopi in hanya menyediakan kopi tanpa menyediakan snack sebagai teman minum kopi. “Jika mau snack, pelanggan yang bawa sendiri beragam jenis camilan, dan sampai di sini biasanya dibagi dengan pelanggan lain,” tambah Wirawan.