Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Two Fat Monks Asian Bistro, Meeting Point di Tengah Kota

I Putu Suyatra • Selasa, 20 Februari 2018 | 23:23 WIB
Two Fat Monks Asian Bistro, Meeting Point di Tengah Kota
Two Fat Monks Asian Bistro, Meeting Point di Tengah Kota

BALI EXPRESS, DENPASAR - Mencari tempat pertemuan di Kota Denpasar tidak terlalu sulit.  Beragam pilihan tempat, tema, dan menu sudah tersedia. Salah satunya di Two Fat Monks di Jalan Letda Tantular No 7 Renon.



Two Fat Monks  yang dikonsep Asian Bistro ini, memang layak direkomendasikan menjadi tempat nongkrong, selain  menjadi salah satu tempat pertemuan formal alias meeting point yang nyaman dengan konsep yang unik. 



Owner Two Fat Monks, Putra Prabawa, mengatakan, Two Fat Monks  bisa menjadi salah satu alternatif tempat bagi masyarakat, baik untuk melakukan pertemuan atau sekadar untuk bersantai sambil menikmati makanan. “Ide awalnya kami ingin menyediakan alternatif meeting point bagi masyarakat di Denpasar,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (19/2) lalu.



Karena merupakan Asian Bistro, lanjut Putra,  maka  konsepnya  didominasi interior khas Asia, mulai dari bagian depan, Bar Area yang terinspirasi dari geladak kapal dagang China yang pertama kali berlabuh di Bali sekitar abad IX. Meskipun sederhana dan terkesan vintage dengan material kayu dan logam, namun Bar Area ini tetap terlihat modern, karena ada sentuhan teknologi modern pada peralatan yang digunakan.
Selanjutnya untuk produk furniture , mantan chef di sebuah restoran di Australia ini menjatuhkan pilihannya era tahun 1920-an, namun tetap memberikan sentuhan modern dan klasik pada furniture yang digunakannya. “Tema tempat ini bisa dikatakan Vintage Industrial, namun tanpa meninggalkan kesan modernnya,” tambahnya.



Lantas, bagaimana dengan jenis makanannya? Sesuai dengan tema Asian Bistro, maka  makanan yang dihidangkan di Two Fat Monks adalah jenis makanan Asia dan lebih spesifikasinya adalah jenis makanan dengan cita rasa wilayah Asia Tenggara.



Sehingga tidak heran, jika satu porsi makanan yang dihidangkan di restoran ini memiliki perpaduan taste antara satu negara dengan negara lain yang ada di kawasan Asia Tenggara. Salah satu contohnya adalah Crispy Pork Belly, yang menjadi menu favorit di restoran ini.



Crispy Pork Belly, salah satu jenis hidangan modifikasi yang dihidangkan di Two Fat Monks. Modifikasi yang dilakukan adalah memadukan citarasa dua negara, yakni citarasa khas Hongkong dan Thailand.
Citarasa khas Hongkong dapat dirasakan dalam sauce yang digunakan pada Crispy Pork Belly ini. Sedangkan untuk citarasa Thailand, dapat diperoleh dari teknik memasak daging babi yang digunakan. "Saat memasak daging babi ini, kami menggunakan teknik yang biasa digunakan oleh masyarakat Thailand ,” jelasnya.
Sehingga hidangan ini memiliki tekstur yang renyah di luar dengan daging yang juicy, karena daging babi yang dimasak dalam saus rempah. Setelah empuk, daging babi yang masih berisi lemak ini dipotong tipis-tipis dan kemudian digoreng untuk mendapatkan rasa crispy-nya.



Selain menu tersebut, Two Fat Monk masih memiliki beragam jenis menu yang mampu memanjakan para pelanggannya, tentunya dengan perpaduan citarasa khas Asia yang sudah disesuaikan dengan selera lidah masyarakat Nusantara.



Dipilihnya menu khas Asia ini, lanjut  Putra, selain mampu memberikan nuansa baru bagi industri kuliner di Bali,  juga menjadi salah satu kelebihan dari Two Fat Monks. “Selama ini kan konsep resto dengan jenis menu western sudah banyak, sehingga kami memilih citarasa Asia untuk  memberi warna baru pada industri kuliner di Bali,” tambahnya.


 



Tersedia Spot Outdoor untuk Acara Santai



Sebagai meeting point di tengah kota, Two Fat Monk tidak saja menyediakan ruang meeting  indoor, namun juga memiliki area outdoor yang bisa dimanfaatkan untuk  beragam jenis acara. Mulai  dari  gatrhering, arisan, acara ulang tahun dengan tema santai.



Di areal outdoor yang terletak di halaman belakang restoran utama, Two Fat Monk sudah menyediakan beragam fasilitas. Bahkan  sudah didekorasi dengan lampu-lampu cantik dan bantal santai. “ Ketika hari cerah, pelanggan yang ingin bersantai di spot ini bisa melakukannya dengan nyaman,” ungkapnya.



Sementara itu, untuk ide memadupadankan makanan, Putra mengaku  seluruh jenis makanan yang dihidangkan di Two Fat Monk adalah jenis makanan hasil kreasinya sendiri.



Hal ini tidak terlepas dari pengalaman Putra yang sudah cukup lama berkecimpung di industri kuliner.
Selain itu,  hobi melakukan wisata kuliner memberikannya ide dalam meracik jenis makanan yang dihidangkan di Two Fat Monk. “Untuk citarasa makanan, saya lakukan sendiri, kebetulan saya suka wisata kuliner dan traveling, sehingga memberikan  inspirasi untuk memasak dan menciptakan jenis makanan,” jelasnya. 

Editor : I Putu Suyatra