BALI EXPRESS, DENPASAR - Menikmati ikan bakar di Pulau Serangan sudah lumrah. Kalau mau yang beda dan istimewa, coba olahan Toro ( Bulu Babi) atau Landak Laut jika berkunjung ke Serangan.
Selain sudah sulit didapat, rumah makan yang menyediakan menu masakan berbahan Bulu Babi ini hampir tidak ada. Satu-satunya warung makan di Serangan yang menyediakan menu berbahan Toro adalah Warung Tepi Pasih yang berlokasi di Jalan Tukad Punggawa Nomor 18 Serangan.
Pemilik warung Tepi Pasih, Wayan Miyasti ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu, menceritakan, olahan Bulu Babi atau Toro yang disediakan di Warung Tepi Pasih merupakan olahan khas Serangan yang sudah lama ditinggalkan. “Bukan karena tidak disukai oleh masyarakat, namun karena ketersediaan Bulu Babi ini sudah sangat menipis, dan nelayan yang mencari juga sudah sangat sedikit. Saat ini hanya ada dua ornag nelayan yang masih mencari bulu babi,” jelasnya.
Sebagai bahan makanan, Bulu Babi ini diakui Miyasti memang memiliki tampilan yang cukup menyeramkan, karena di sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bulu yang tajam dan beracun. Namun, di balik wujudnya yang mengerikan dan cangkangnya yang keras ini, bagian dalamnya memiliki kandungan protein tinggi, juga kaya akan vitamin yang tentunya sangat baik untuk tubuh.
Meskipun dikenal sangat sulit untuk diolah, namun di Warung Tepi Pasih ini, Bulu Babi diolah menjadi beberapa jenis masakan yang lezat. Mulai dari Nasi Goreng Toro, Toro Goreng hingga Kuah Toro, khusus untuk Toro Kuah ini, diakui Miyasti pelanggan harus melakukan pemesanan lebih dulu, karena ketersediaan Toro segar yang masih ada cangkangnya tidak tersedia setiap hari.
Untuk membuat Nasi Goreng Toro, daging Bulu Babi ini digoreng terlebih dahulu agar tidak amis. Setelah itu, barulah dicampurkan ke dalam Nasi Goreng. “Meskipun daging Toro tidak terlalu terlihat di dalam Nasi Goreng, namun rasa daging Toronya sangatlah kuat dan terasa sekali nikmatnya,” lanjutnya.
Selain Nasi Goreng Toro, Warung Tepi Pasih ini juga menyediakan banyak jenis menu makanan khas daerah pesisir, seperti cumi-cumi, udang, ikan bakar hingga ranjungan. Untuk menu lainnya, Warung Tepi Pasih juga memiliki beberapa jenis menu lain, salah satunya adalah Buah Lamun Urab.
Sama halnya dengan Toro, Buah Lamun ini, juga menjadi salah satu menu langka di Pulau Serangan, karena ketersediaan Buah Lamun di laut Serangan yang saat ini sudah sangat jarang. “Menu ini sangat langka. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas. Jika sudah ada, pasti langsung habis,” tambahnya.
Sensasi Bersantap Layaknya di Atas Laut
Berkunjung ke Warung Tepi Pasih Serangan, wisatawan tidak saja disajikan menu makanan khas Pulau Serangan yang sudah langka, namun wisatawan benar-benar diajak menikmati makanan di pinggir laut Serangan.
Karena tempat makan warung ini ada di anjungan yang sengaja dibuat menjorok ke laut, sehingga seolah-olah wisatawan bersantap di atas laut. “Selain bisa melihat biota laut dan hutan Bakau, bersantap di warung kami, wisatawan juga bisa menikmati angin laut yang sejuk,” ungkapnya.
Selain wisatawan lokal, Warung Tepi Pasih juga menjadi salah satu destinasi kuliner yang dikunjungi oleh wisatawan asing, khususnya wisatawan asal China dan Jepang. Karena wisatawan dari kedua negara ini sangat senang mengonsumsi Bulu Babi. “Tamu Tiongkok dan Jepang menjadi tamu asing yang paling sering datang, mereka benar-benar suka makan di warung kami, khususnya menu Toro ini,” paparnya.
Miyasti mengatakan harga makanan yang disajikan di Warung Tepi Pasih ini cukup terjangkan mulai dari Rp 10 ribu per porsi.