BALI EXPRESS, MENGWI - Agama Hindu dan budaya Bali seolah menjadi satu hal yang tidak bisa dipisahkan. Inilah yang membuat keduanya menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang ke Bali. Lalu bagaimana caranya menyaksikan ragam budaya dan ritual tersebut, disaat tak setiap hari ritual itu dilangsungkan?.
Melihat dan menyaksikan ragam kegiatan budaya dan ritual secara langsung memang tidak mudah dilakukan, apalagi bagi wisatawan yang tidak tinggal lama di Bali. Karena meski aktivitas dan ritual budaya maupun keagamaan itu rutin dilakukan umat Hindu Bali, namun pelaksanaannya sebatas pada pada hari-hari tertentu saja.
Karena itu, bagi wisatawan yang ingin menyaksikan aktivitas ritual di Bali. Satu tempat wajib mereka kunjungi. Tempat tersebut tak lain Museum Yadnya, museum yang berlokasi di Jalan Ayodya Taman Ayun, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Di museum ini, wisatawan yang datang tidak saja bisa melihat sarana upakara yang digunakan dalam kegiatan ritual masyarakat Hindu di Bali. Tetapi wisatawan juga bisa mendapat pengetahuan tentang aktivitas ritual yang ada.
Kepala UPT Museum Yadnya Mengwi Gede Sujana ketika ditemui beberapa waktu lalu mengatakan, keberadaan Museum Yadnya pada dasarnya bertujuan sebagai media untuk memperkenalkan ragam budaya Bali kepada masyarakat Bali. Karena itulah, pengunjung yang datang ke museum ini seolah diantarkan menyaksikan sebuah prosesi maupun ritual budaya dan agama Hindu Bali.
“Museum ini sudah dirintis sejak tahun 1974 dan merupakan bagian dari pembangunan Mandala Wisata Provinsi Bali,” jelasnya.
Dijelaskan, ada lima jenis ritual yang diperkenalkan di Museum Yadnya. Mulai dari ritual upacara manusa yadnya, dewa yadnya, pitra yadnya, butha yadnya dan rsi yadnya. Kelima jenis ritual ini disebutkan Sujana dalam masyarakat Hindu di Bali lebih dikenal dengan istilah Panca Yadnya.
Dari kelima jenis ritual tersebut, ritual manusa yadnya dikatakan Sujana, menjadi ritual yang paling lengkap. Hal ini seperti penjelasannya, karena ritual manusa yadnya merupakan jenis ritual yang berkaitan dengan proses dan jalan kehidupan manusia.
Manusa yadnya dilakukan untuk menyempurnakan kebajikan dalam diri seorang manusia. “Yang termasuk dalam ritual ini, ada rangkaian tahapan yang dilalui manusia sepanjang hidupnya. Mulai dari kehamilan, kelahiran, pubertas, menjelang kedewasaan, hingga kematian,” lanjutnya.
Salah satu upacara yang diadakan dalam proses kehidupan seseorang dalam masyarakat Bali, seperti upacara kelahiran (otonan/pawetonan). Upacara ini diadakan 210 hari setelah bayi dilahirkan. Memasuki usia pubertas, diadakan upacara akil balig (ngaraja sewala), serta upacara mengasah gigi (mapandes), yang memiliki makna pembersihan diri dari hawa nafsu.
Memasuki usia dewasa, ritual penting lain yang harus dilalui adalah pernikahan, dan perjalanan hidup seseorang akan ditutup dengan upacara kematian, yang dapat berupa penguburan atau kremasi (ngaben).
Di museum ini, para pengunjang dapat memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan ritual-ritual tersebut, beserta maksud yang terkandung di dalamnya. Berbagai peralatan yang berkaitan dengan rangkaian ritual tersebut ditata berurutan sesuai alur kehidupan manusia.
Setelah melihat bagian ritual manusa yadnya, wisatawan yang berkunjung selanjunya diajak untuk melihat bagian yang memamerkan mengenai ritual upacara pengabenan. “Upacara ngaben ini merupakan rangkaian upacara pembakaran mayat sesuai dengan budaya Bali,” terangnya.
Dalam bagian ini, wisatawan akan diajak untuk melihat rangkaian sarana upacara yang digunakan dalam upacara pengabenan, yang terdiri dari peralatan puspasarana yang terbuat dari bunga, daun beringin dan kelapa. Sarana ini dijelaskan Sujana menjadi simbol roh orang yang sudah meninggal dunia.
Untuk sarana upakara yang ada di Museum Yadnya, berupa beranekaragam jenis sesajen yang digunakan dalam aktivitas ritual manusa yadnya dan pitra yadnya. “Seluruh sesajen ini dibuat sama dengan aslinya dengan menggunakan bahan-bahan yang tahan lama. Ini kami lakukan karena kami ingin menghadirkan replika dari sarana upacara yang ada,” ungkapnya.
Tempat Favorit Penelitian Mahasiswa Asing
Selain sebagai destinasi wisata di Bali, Museum Yadnya ini juga dikenal sebagai salah satu pusat informasi, khususnya mengenai aktivitas budaya Hindu di Bali. “Sehingga museum ini juga menjadi tempat penelitian bagi ratusan mahasiswa dari dalam maupun dari luar negeri,” jelasnya.
Rata-rata dari mahasiswa asing tersebut dikatakan Sujana, adalah masiswa yang sedang melakukan proses pertukaran pelajar di beberapa kampus yang ada di Bali. “Tetapi dari sekian banyak mahasiswa ada juga yang sedang menempuh pendidikan di negaranya dan mengambil study tentang budaya Bali,” ungkapnya.
Selain menjadi tempat penelitian bagi banyak mahasiswa asing, Museum Yadnya ini juga sering menjadi tempat wisata bagi anak-anak TK internasional yang ada di Denpasar dan Ubud. Rata-rata dari murid sekolah internasional tersebut dikatakan Sujana datang untuk melihat sarana ritual yang digunakan masyarakat Hindu di Bali.
Untuk berkunjung ke Museum Yadnya ini, pengunjung dikatakan Sujana tidak dikenakan biaya. Hal ini karena Pemkab Badung masih menggratiskan biaya retribusi.
Editor : I Putu Suyatra