Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Topeng Prembon Tugek Carangsari Sisipkan Pesan Bahaya Hoax

I Putu Suyatra • Kamis, 4 Juli 2019 | 15:35 WIB
Topeng Prembon Tugek Carangsari Sisipkan Pesan Bahaya Hoax
Topeng Prembon Tugek Carangsari Sisipkan Pesan Bahaya Hoax


BALI EXPRESS, DENPASAR - Kendati berakar pada tradisi, bukan berarti seni pertunjukan yang berkembang di Bali tidak mampu beradaptasi dengan situasi kekinian. Khususnya dari sisi cerita. Ini dibuktikan dengan penampilan Topeng Prembon Tugek Carangsari di Kalangan Ratna Kanda yang menjadi salah satu panggung PKB ke-41, Rabu (3/7) pagi kemarin.


Penampilan yang disuguhkan Sanggar Tugek Carangsari, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung ini menyisipkan pesan, agar kita selalu berhati-hati menerima informasi. Jangan sampai informasi yang diterima itu ternyata palsu. Seperti hoax yang belakangan ini banjir di kehidupan sehari-hari.


Pesan itu disisipkan dengan mengangkat kisah Pusaka Ki Panglipur. Judul prembon itu diangkat dari Babad Mengwi.


Jalan ceritanya bermula saat seorang raja bernama I Gusti Agung Made Agung memiliki seorang patih setia bernama I Gusti Namblang yang lebih akrab dengan sapaan I Keruwa. Sayangnya, kesalahpahaman pun terjadi antara sang raja dengan patihnya itu. Kesalahpahaman itu dipicu soal keberadaan keris pusaka.


Sang raja berkata kepada I Keruwa untuk menjaga keris pusaka itu. Jangan pernah memberikannya kepada orang lain. Kecuali raja sendiri yang datang kepadanya.


Singkat cerita, I Gusti Ngurah Tangeb yang merupakan utusan sang raja meminta pusaka keris itu untuk dibawa ke puri. Tapi I Keruwa satyaning ring semaya atau setia akan janji. Sehingga dia tidak memberikan pusaka itu kepada sang utusan.


Akhirnya, sang utusan pulang dengan tangan kosong dan mengadu pada sang raja. Tapi sang raja yang lupa akan pesannya terdahulu justru marah dengan sikap I Keruwa.


Pada suatu ketika, I Keruwa pun merasa bahwa dirinyalah yang mesti menyerahkan pusaka itu kepada sang raja. “Setelah sampai di puri, sang raja yang baru teringat akan janjinya terdahulu merasa bersalah, dan memberikan I Keruwa penghargaan berupa sebuah pengakuan, bahwa I Keruwa berhak menyamai atribut yang ada di puri,” tutup I Gusti Ngurah Artawan selaku Koordinator Prembon Badung.


Menurutnya, kisah tersebut diangkat sebagai bahan pelajaran bagi masyarakat dewasa ini. Di tengah banjir informasi, kewaspadaan untuk menelaah informasi itu sangat diperlukan. “Kesalahpahaman itu sejatinya dapat dihindari dengan mendalami informasi dan mengolah emosi,” imbuhnya.


Prembon itu sendiri dimainkan oleh para seniman muda Badung. Dan seperti ditegaskan Ngurah Artawan, topeng prembon yang disajikan tetap bernafaskan pada pakem Badung. Kiblatnya terletak pada pakem pementasan topeng Tugek Carangsari yang sempat jaya di era 70-an.


Dalam pakem topeng prembon khas Badung, ada sedikit perbedaan dengan daerah lainnya. Seperti penokohan seorang raja, Badung lebih condong pada sosok menteri. Sedangkan kabupaten lain lebih condong ke sosok dalem.


Keterlibatan anak muda dalam pementasan Prembon tersebut menuai apresiasi dari Tjokorda Raka Tisnu. Sosok yang tidak asing di dunia seni topeng Bali.


Menurutnya, sekalipun tidak tepat dengan pakem, baginya tidak terlalu menjadi persoalan. Yang terpenting, pemainnya mau dan berani matembang. “Jarang anak muda mau menekuni ini,” komentarnya di sela-sela pertunjukan.


Dia hanya mengingatkan agar seniman-seniman topeng Badung, begitu juga dengan daerah lainnya, agar memperhatikan porsi. “Memang topeng prembon itu, topengnya mesti dominan. Ini kan perimbuhannya yang dominan,” terang Tisnu.


Meski demikian, dia melihat ekspresi bahagia para penampil adalah suatu penghargaan tersendiri. Sebab baginya, di era globalisasi dan modern seperti sekarang, tidak banyak anak muda Bali yang mau belajar menari. Sekaligus matembang.

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #pkb