Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fenomena Menghebohkan Buyuk Muncul di Pantai Jepara, Warga Setempat Gelar Tradisi Mapak Buyuk, Ini Tujuannya

I Putu Suyatra • Sabtu, 23 Maret 2024 | 17:02 WIB

 

DOA: Pemerintah dan warga setempat menggelar doa di samping Buyuk/Duyuk yang telah bersandar pada sekitar 2020/2022. (FOTO LAMA: PEMDES TELUKAWUR UNTUK JAWA POS RADAR KUDUS)
DOA: Pemerintah dan warga setempat menggelar doa di samping Buyuk/Duyuk yang telah bersandar pada sekitar 2020/2022. (FOTO LAMA: PEMDES TELUKAWUR UNTUK JAWA POS RADAR KUDUS)

BALI EXPRESS - Masyarakat di sepanjang pesisir Jepara dihebohkan dengan munculnya duyuk atau buyuk baru-baru ini. Fenomena alam ini dianggap sebagai tanda akhirnya musim hujan oleh penduduk setempat.

Menurut penduduk sekitar, kedatangan duyuk atau buyuk sering kali disambut dengan doa.

Tradisi doa ini, yang dikenal sebagai mapak buyuk/duyuk, telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu contohnya adalah saat warga Desa Telukawur, Kecamatan Tahunan, berkumpul pada tahun 2020/2022 ketika duyuk/buyuk sandar di pantai Telukawur.

Petinggi Desa Telukawur, Rohman, menjelaskan bahwa setelah duyuk/buyuk muncul dan bersandar di Telukawur, masyarakat segera berkumpul di pinggir pantai untuk membaca tahlilan.

"Ini merupakan bentuk penyambutan atas kedatangan duyuk/buyuk yang dianggap memiliki kaitan dengan Dewi Sri atau Dewi Kehidupan, Dewi Padi," kata Rohman.

"Jika telah bersandar, kami mengadakan acara sebagai bentuk syukur karena musim hujan telah berlalu," ungkap Rohman.

Tradisi serupa juga terjadi di Desa Semat, Kecamatan Tahunan, dimana puluhan tahun lalu masyarakat setempat merayakan kedatangan duyuk/buyuk dengan acara doa bersama.

Sofa, perangkat desa setempat, mengungkapkan bahwa pada saat itu, warga mengadakan selametan sebagai ungkapan syukur karena ombak laut telah mereda.

"Kami menyajikan bubur abang merah putih dan jajanan pasar. Ketika duyuk/buyuk sudah bersandar, kami membuat mainan anak-anak (ncot-ncotan) dari bagian pohon yang terbawa ombak," katanya.

"Meskipun akhirnya pohon tersebut habis, namun kami percaya ini merupakan siklus alamiah," jelas Sofa.

Meskipun munculnya duyuk/buyuk dianggap sebagai mitos oleh sebagian masyarakat, namun bagi mereka, ini adalah bagian dari keyakinan untuk memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa agar terhindar dari bencana.

Dengan demikian, kedatangan duyuk/buyuk di pesisir Jepara tidak hanya menjadi peristiwa alamiah, tetapi juga menjadi momen spiritual bagi masyarakat setempat dalam menyambut pergantian musim dan memperkuat ikatan dengan alam. *** 

 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#dewi sri #buyuk #pesisir #tradisi #pantai jepara #doa