Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Viral! Surat Terbuka Komunitas Madura Tantang Carok Etnis Papua di Yogyakarta, Konflik Memanas?

I Putu Suyatra • Rabu, 12 Februari 2025 | 02:57 WIB

ebuah surat terbuka dari komunitas Madura di Yogyakarta kepada etnis Papua viral di media sosial. (IST)
ebuah surat terbuka dari komunitas Madura di Yogyakarta kepada etnis Papua viral di media sosial. (IST)

BALIEXPRESS.ID – Sebuah surat terbuka dari komunitas Madura di Yogyakarta kepada etnis Papua mendadak viral di media sosial.

Surat ini memicu perdebatan luas dan kekhawatiran mengenai potensi konflik antarkelompok.

Dalam surat tersebut, komunitas Madura mengungkapkan keluhan atas dugaan pemalakan dan penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang dari etnis Papua terhadap tempat usaha warga Madura di Yogyakarta.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Mengerikan! Pengendara Motor Hantam Truk Parkir di Sidoarjo, Diduga dalam Kondisi Mabuk

Kondisi ini disebut telah menciptakan keresahan hingga muncul tantangan carok, yaitu duel tradisional khas Madura, jika tidak ada solusi konkret untuk menghentikan tindakan tersebut.

Isi Surat yang Memicu Kontroversi

Surat ini ditandatangani oleh RB. Jucil Adiningrat, S.H. dan M. Fahri Hasyim, S.H., M.H. Dalam salah satu bagian surat, tertulis pernyataan tegas:

“Jika saudara tidak memberikan solusi jaminan yang bergaransi bagi kami untuk tidak melakukan lagi gangguan terhadap masyarakat Madura di Yogyakarta, maka kami menantang saudara untuk CAROK terbuka antara etnis Papua Yogyakarta dan etnis Madura Yogyakarta.”

Baca Juga: Rahasia Gol Salto Spektakuler! Rahmat Arjuna Bersinar Saat Bali United Taklukkan PSS Sleman

Tantangan ini sontak memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk masyarakat Yogyakarta yang menginginkan perdamaian agar ketegangan tidak semakin memanas.

Ketegangan atau Peluang Dialog?

Menanggapi situasi ini, Imron Rosyadi, dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang pernah tinggal di Madura dan Yogyakarta, menilai bahwa surat ini adalah bentuk pertahanan diri komunitas Madura yang merasa tidak aman.

“Biasanya, masyarakat Madura tidak memberi kesempatan dialog jika merasa terancam. Namun, agaknya mereka di Yogyakarta sedikit banyak terpengaruh budaya Jawa yang mengedepankan prinsip ‘menang tanpa ngasorake’ atau menang tanpa merendahkan, sehingga masih membuka ruang musyawarah,” jelasnya.

Sikap menahan diri juga disuarakan oleh Surokim, S.Sos., S.H., M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Alumni UTM.

Ia menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan silaturahmi agar konflik ini tidak berkembang menjadi perpecahan lebih luas.

“Semua pihak harus menahan diri, tidak terprovokasi, dan mempercayakan penyelesaian kepada pihak keamanan jika memang ada pelanggaran hukum. Kita harus menjaga situasi tetap kondusif demi persatuan dalam bingkai NKRI,” tegasnya.

Solusi Damai atau Bentrokan?

Pihak kepolisian kini tengah berupaya mencari solusi damai agar situasi ini tidak berkembang menjadi bentrokan terbuka. Dialog dan mediasi diharapkan menjadi langkah terbaik untuk meredakan ketegangan.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak terprovokasi dan tetap menjaga stabilitas di Yogyakarta agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis tanpa meninggalkan dendam.

Akankah konflik ini terselesaikan dengan damai? Atau tantangan carok benar-benar akan terjadi? Pantau terus perkembangan kasus ini! *** 

Baca Juga: Abiansemal dan Petang Dirancang Sebagai Kota Agropolitan, Fraksi Golkar Minta Kaji Ulang

 

Editor : I Putu Suyatra
#carok #papua #madura #yogyakarta