Baca Juga: Berkembang Sejak 1935, Tari Telek Desa Jumpai Punya Pakem Tersendiri, Ada Gerakan Tari Kambing Buang
"Yang pasti, kalau buat saya, dibandingkan dengan Gibran kalau jadi maju, ya saya pilih Ganjar dan Mahfud lah, karena lebih teruji. Ini ngurus negara lho, jadi presiden," ujar Ahok kepada wartawan, Jumat (20/10) dikutip dari Jawa Pos.
Ditambahkan Ahok, kalau belum pernah berpengalaman di legislatif tingkat nasional atau DPR RI, dan menjadi eksekutif di tingkat provinsi, siapapun itu, pasti belum cukup memahami kerja sebagai presiden yang mengurus satu negara.
"Ini bukan soal belajar-belajar coba-coba lho, ini negara dipertaruhkan untuk 2045, sebentar lagi 300 juta penduduk kita, ngapain dikasih orang coba-coba," tegas pria yang kini menjabat Komisaris PT Pertamina itu.
Baca Juga: Tiba di RSPAD, Pasangan Anies-Muhaimin Nyatakan Siap Jalani Pemeriksaan Kesehatan Sekitar 8-10 Jam
Menurut Ahok, dibutuhkan nyali besar untuk menjadi pemimpin Indonesia. Sebab, masalah yang digadapi sangatlah besar, khususnya memberantas korupsi.
"Ini bicara nyali. Akar semua masalah di negeri ini kan korupsi. Mungkin dia (Gibran) jujur, tapi yang dibutuhkan tidak hanya jujur, melainkan jujur dan berani," tegasnya.
Oleh karena itu, Ahok meyakini pasangan Ganjar-Mahfud sangat ideal. Keduanya merupakan sosok yang berani untuk membereskan akar persoalan bangsa, yakni korupsi untuk bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Editor : Nyoman Suarna