BALIEXPRESS.ID- KPU Bangli telah memperoleh gambaran mengenai tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Bangli 2024, yang mengalami penurunan dibandingkan pilkada sebelumnya maupun Pemilu 2024.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pemilih di Bangli tidak menyalurkan hak pilihnya pada 27 November 2024.
Hal ini terungkap dalam focus group discussion (FGD) terkait penyampaian hasil kajian publik terhadap pelaksanaan pemilihan bupati dan wakil bupati Bangli 2024 di Kantor KPU Bangli pada Jumat (14/3/2025).
Kajian tersebut melibatkan dua kampus di Bangli, yakni ITP Markandeya dan Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa.
Tim dari ITP Markandeya memaparkan bahwa faktor utama pemilih tidak menggunakan hak pilihnya adalah karena terkendala jadwal kerja.
Mereka tetap bekerja pada hari pencoblosan. Secara lebih spesifik, disebutkan bahwa mereka bekerja di sektor formal maupun informal, baik di dalam maupun luar negeri.
Selain itu, ada juga responden, khususnya dari generasi X yang golput karena tidak mengetahui kandidat kepala daerah.
Sementara itu, responden berusia 61 tahun ke atas tidak datang ke TPS dengan alasan kesehatan dan faktor usia.
Di sisi lain, hasil kajian UHN Sugriwa menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyalurkan hak pilihnya.
Hanya tiga responden yang tidak memilih, dua di antaranya karena terkendala jarak TPS yang jauh dari tempat tinggal mereka.
Ketua KPU Bangli I Kadek Adiawan mengatakan bahwa hasil riset dari pihak kampus akan dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pemilu maupun pilkada pada tahun berikutnya. Tentunya, hal ini perlu didukung oleh berbagai pihak terkait.
Ia mencontohkan alasan pemilih yang golput karena terkendala jadwal kerja.
Menurutnya, perusahaan seharusnya mematuhi surat edaran pemerintah yang menegaskan bahwa hari pemungutan suara merupakan hari libur dan diliburkan.
“Ke depan, hasil riset ini akan menjadi acuan dalam menentukan metode sosialisasi di daerah dengan tingkat partisipasi pemilih yang rendah. Pihak ITP Markandeya sudah memaparkan metode apa saja yang bisa digunakan,” ujar Adiawan.
Adiawan menyebutkan bahwa pada Pilkada 2024, tingkat partisipasi pemilih mencapai 78,4 persen.
Persentase ini mengalami penurunan dibandingkan Pilkada 2020 yang mencapai 83,03 persen serta Pemilu 2024 yang melebihi 83 persen. (*)
Editor : I Made Mertawan