Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Boleh Dicoba! Sensasi Petik dan Makan Durian Langsung di Tabanan Bali

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 6 Desember 2023 | 13:38 WIB
Wisatawan yang datang ke wisata kebun di Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali tinggal petik sendiri durian yang diinginkan.
Wisatawan yang datang ke wisata kebun di Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali tinggal petik sendiri durian yang diinginkan.

 

TABANAN, BALI EXPRESS- Jika di kawasan Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali ada wisata petik strawberry dan langsung bisa dinikmati oleh wisatawan, di Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan juga ada satu destinasi wisata petik durian dan manggis. Seperti apa?

Ketut Budiarta, pemilik kebun durian di Desa Dalang menyebutkan sebenarnya, aktivitas wisata petik durian menyebutkan, sebenarnya ide untuk aktivitas wisata ini muncul ketika masa pandemi Covid-19 lalu. 

Pada saat itu banyak masyarakat di Desa Dalang yang dirumahkan dan tidak punya pekerjaan, sehingga pihaknya merancang konsep wisata kebun, dengan memanfaatkan kebun durian yang memang sudah ada.

"Pada saat itu, kelompok kami beranggotakan sebanyak 15 orang. konsep ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas harga buah ketika musim panen tiba. Sehingga para petani tetap bisa merasakan keuntungan dari hasil panen dan masyarakat yang tidak bekerja bisa memiliki penghasilan," jelas Budiarta Selasa, 5 Desember 2023.

Melalui wisata kebun ini, Budiarta ingin memberikan tempat bagi orang-orang yang ingin menikmati buah-buah tropis seperti durian dan manggis bisa datang ke kebun.

Jadi konsumen bisa mendapatkan harga langsung dari petani, memetik buahnya sendiri, sekaligus menikmati suasana alam terbuka. 

Ini disebutkannya karena pohon durian yang tersedia di Desa Dalang merupakan jenis durian yang pohonnya tidak terlalu tinggi, sehingga mudah dijangkau oleh wisatawan yang datang.

Untuk harga, Budiarta mematok mulai dari Rp30 ribu -Rp40 ribu per kilogram untuk jenis durian kane dan musang king.

"Sedangkan untuk durian lokal, mulai dari Rp20 ribu -Rp25 ribu per kilogram untuk durian lokal. Sementara untuk buah manggis mengikuti harga pasaran. Jadi setelah di petik, durian di timbang dahulu,baru kemudian dibuka dan jika tidak habis, durian bisa dibawa pulang,” lanjutnya.

Saat ini, dilanjutkan Budiarta, wisatawan yang datang sudah cukup banyak untuk wisatawan lokal, selain masyarakat Bali.

Ada juga wisatwan dari luar Bali yang datang ke lokasi wisata kebun ini. Seperti dari Surabaya, Jakarta dan beberapa kota lainnya. 

Sedangkan untuk wisatawan asing baru beberapa kali saja, rata-rata yang datang adalah wisatwan Eropa dan tamu dari Tiongkok yang datang dalam group kecil.

"Untuk wisatawan asing ini biasanya diantar oleh pemandu. Selama ini kami memang melakukan promosi di media sosial," ungkapnya.

Meskipun sudah mampu mendatangkan wisatawan, namun Budiarta mengaku jika pengembangan wisata kebunnya tidak berkembang dengan baik. Sebab mereka kekurangan SDM generasi muda.

"Dulu sewaktu pandemi banyak generasi muda yang kerja di pariwisata kehilangan mata pencaharian. Kemudian mereka terjun jadi petani. Namun ketika pariwisata mulai pulih, mereka kembali lagi ke dunia pariwisata," urainya.

Itu bisa dilihat dari kelompoknya yang dulu 15 orang, saat ini yang aktif tersisa tiga orang.

Sementara lainnya kembali bekerja di dunia pariwisata, terutama kapal pesiar. Padahal menurutnya, usaha di bidang pertanian hortikultura, seperti pengembangan buah manggis dan durian, memiliki potensi pendapatan jangka panjang.

"Satu pohon manggis kalau sekali panen itu bisa menghasilkan 3 sampai 4 kuintal. Sementara durian dengan metode tanam organik bisa berbuah sepanjang tahun," tambahnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #durian #tabanan