Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Retribusi DTW Kintamani Bocor Tinggi, Data Kunjungan Tak Sesuai Fakta di Lapangan

I Made Mertawan • Sabtu, 10 Januari 2026 | 09:02 WIB
Kintamani Coffee - Eco Bike Coffee menjadi salah satu destinasi favorit untuk menikmati kopi dengan latar belakang alam yang memukau.
Kintamani Coffee - Eco Bike Coffee menjadi salah satu destinasi favorit untuk menikmati kopi dengan latar belakang alam yang memukau.

BALIEXPRESS.ID- Kebocoran pencatatan kunjungan wisatawan di Daya Tarik Wisata (DTW) Kintamani, Bangli diperkirakan mencapai 60 persen. 

Jumlah wisatawan yang tercatat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah riil di lapangan. Hal ini berimbas terhadap potensi pendapatan retribusi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bangli, I Wayan Dirga Yusa, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 kunjungan wisatawan yang tercatat di DTW Kintamani sebanyak 445 ribu kunjungan.

Berdasarkan hasil survei langsung yang dilakukan pihaknya, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan tersebut diperkirakan jauh lebih besar.

“Kebocoran ini kami ketahui dari hasil survei langsung di lapangan. Baru di 15 kafe saja, jumlah orang yang ada tidak sebanding dengan data kunjungan yang tercatat,” ungkap Dirga Yusa.

Menurutnya, kebocoran pencatatan terjadi akibat banyaknya jalur alternatif atau jalur tikus yang digunakan wisatawan untuk masuk ke kawasan Kintamani.

Banyak pengunjung memilih jalur tersebut karena mengikuti petunjuk Google Maps, bahkan ada pula yang sengaja menghindari pos tiket agar tidak membayar retribusi.

“Ini yang menyebabkan pencatatan tidak maksimal. Wisatawan masuk lewat jalur tikus tanpa melalui pos retribusi,” jelasnya.

Selain itu, kebocoran juga terjadi dari aktivitas pendakian Gunung Batur pada malam hari.

Saat ini, pemerintah daerah belum melakukan pemungutan retribusi pada malam hari, sehingga pendaki yang naik di luar jam operasional pos retribusi tidak tercatat sebagai kunjungan resmi.

“Ke depan, kami rencanakan akan menempatkan petugas untuk pemungutan retribusi pada malam hari,” katanya.

Untuk menekan kebocoran akibat jalur tikus, Pemkab Bangli memastikan akan membuka loket tambahan di lima jalur alternatif yang selama ini kerap dilalui wisatawan.

Meski demikian, pemerintah tetap mengupayakan agar wisatawan diarahkan melalui pos retribusi utama yang sudah ada sekarang.

Sebisa mungkin wisatawan  tetap diarahkan lewat pos yang ada sekarang, infrastruktur di  jalur tikus  tidak memadai, misalnya jalan sempit.

Kondisi ini bisa mengganggu masyarakat sekitar. “Kalau disuruh balik ke pos tiket, jaraknya terlalu jauh. Jadi kita pungut di sana,” pungkasnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#retribusi #kunjungan wisatawan #Kintamani #bangli