Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Harmonisasi Panca Mahabutha Agar Bisa Nerang

I Putu Suyatra • Rabu, 4 Oktober 2017 | 17:55 WIB
Harmonisasi Panca Mahabutha Agar Bisa Nerang
Harmonisasi Panca Mahabutha Agar Bisa Nerang

BALI EXPRESS, TABANAN - Secara teoritis, orang yang mampu melakukan ritual Nerang adalah orang yang mampu menyeimbangkan unsur Buana Agung dan Buana Alit.
Ketua PHDI Tabanan I Wayan Tontra, mengatakan Buana Agung dan Buana Alit ada kesamaan unsur, yakni unsur Panca Mahabutha (Pertiwi, Apah, Bayu, Teja, Akasa). Manakala orang sudah berhasil memainkan Panca Mahabutha, maka selanjutnya dihubungkan ke Buana Agung. “Jadi, Buana Alit dulu dikuasai permainan Panca Mahabuthanya, setelah itu baru dihubungkan dengan Buana Agung. Jika ini sudah dikuasai, maka akan bisa Nerang dan tentu juga bisa membuat hujan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, seperti misalnya Panca Mahabutha dalam Buana Alit, jika unsur Teja terlalu besar, maka dapat menyebabkan seseorang mengalami demam. Namun, apabila orang sehat, hal itu membuktikan jika ia sudah mampu menyeimbangkan, menetralisasi dan mengharmoniskan kelima unsur tersebut. “Dan, dalam ritual Nerang, seseorang harus mampu mengadaptasikan atau mengkorelasikan kelima unsur tersebut ke alam besar (Buana Agung). Unsur Bayu  dihubungkan ke Buana Agung, sehingga timbul angin, kemudian unsur Teja  dimainkan akan timbul panas. "Kerjasama antara angin dan panas inilah yang menyebabkan mendung terbakar sehingga hujan tidak jadi turun,” paparnya.
Maka dari itu, lanjutnya, seseorang yang melakukan ritual Nerang tidak mandi selama Nerang berlangsung agar tubuhnya tidak sampai dingin, karena dari tubuhnyalah mengeluarkan panas. “Kalau tubuhnya dingin, maka akan turun hujan, satu bulan Nerang satu bulan juga  bisa tidak mandi-mandi, itu uniknya,” lanjut pria yang juga sering kali dimintai bantuannya untuk Nerang.
Tontra menyebutkan, Dewa yang dipuja dalam lontar Nerang adalah Dewa Agni (Api) dan Dewa Bayu yang disimbolkan dengan Hanoman. Maka, saat Nerang juga menggunakan sarana berupa kober dengan lukisan Hanoman dan dibawahnya Dewa Agni. Karena menurutnya, kedua kekuatan inilah yang akan menghalau mendung dan turunnya hujan tersebut. “Kita mohonkan agar Dewa Agni membakar mendung, Dewa Bayu agar menghempaskan mendung, begitu juga kita mohonkan kepada Dewa Indra (Dewa Hujan) agar berkenan untuk menunda turunnya hujan. Dewa Gnistawa, Bayuastawa, Indraastawa, Suryaastawa, Siwaastawa,” tegasnya.
Sedangkan untuk upakaranya, yang menjadi pokok adalah Banten Pajati, namun jika lebih besar ditambahkan Suci, serta segehan barak, segehan putih, dan segehan mancawarna.
Namun, Tontra menegaskan, yang paling penting dalam ritual Nerang adalah ridho, restu, atau asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Menurutnya, bagaimana saktinya orang dan bagaimana pun ritual yang dilakukan untuk Nerang, apabila tanpa restu Tuhan, maka hujan akan tetap turun. “Biar  pontang-panting Nerang, jika Ida tidak berkenan dan tidak merestui, dipastikan akan tetap turun hujan. Jadi, itu tergantung juga dengan kedekatan orang tersebut terhadap beliau. Harus juga didasari niat tulus dan ikhlas,” paparnya.
Dan tak jarang, dalam ritual Nerang ada orang iseng yang ingin mencoba atau mengetes sejauh mana kemampuan orang yang bisa melakuakn ritual Nerang tersebut. Ada juga orang yang dengan sengaja membuatkan hujan. Tontra mengatakan, hal itu akan langsung diketahuinya ketika baru Ngastawa. Namun, apabila hal itu tidak direstui oleh Ida, maka si pembuat hujan akan celaka sendiri. “Itu sama saja seperti kita melempar batu, bisa kembali ke diri kita sendiri. Makanya, untuk apa kita mengambil pekerjaan seperti itu,” ungkapnya.
Di tengah gempuran modernisasi berupa laser untuk memecah mendung, pria yang juga Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Tabanan ini, berpendapat jika Nerang masih tetap eksis di Bali. Terlebih menurutnya, semua kembali pada kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sejatinya, orang yang bisa Nerang hanya sebagai sarana, bukanlah orang yang dapat mengatur hujan. “Kita tidak bisa mengatur hujan, hanya saja orang yang Nerang akan memohon agar hujan reda pada waktu-waktu tertentu, misalnya saat prosesi Natab, atau saat tamu mulai datang. Setelah itu, silakan Ida turunkan hujan. Jangan manusia sampai mengatur beliau, beliaulah yang mengatur kita. Kalau kita mengatur hujan, sama saja dengan menentang hukum alam, nanti kita bisa yang sakit dikasi panas membara,” sambungnya lagi, sembari mengatakan jika Nerang sudah dikenal sejak zaman Bali Kuna. 

Editor : I Putu Suyatra
#tabanan