Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Bisa Berkebun, Pengungsi Sewa Lahan

I Putu Suyatra • Sabtu, 30 Desember 2017 | 15:12 WIB
Tak Bisa Berkebun, Pengungsi Sewa Lahan
Tak Bisa Berkebun, Pengungsi Sewa Lahan

BALI EXPRESS, SEMARAPURA – Agar tak terus larut dalam keterpurukan pasca mengungsi, salah seorang warga asal Banjar Kesimpar, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem memutar otak untuk dapat melanjutkan hidup di tengah kondisi Gunung Agung saat ini.


 


I Nyoman Arta, 32, yang mengungsi di UPTD Pertanian Rendang pun menyewa lahan seluas 78 are di wilayah Desa Banjarangkan, Klungkung untuk ia tanami sebanyak 20 ribu batang bunga gemitir.


 


Menurutnya hal itu ia lakukan karena kebunnya di kampung halamannya sudah tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam mengingat kondisinya yang sudah tertutupi abu vulkanik. “Kebun saya di kampung sudah tidak bisa ditanami karena kena hujan abu,” ujarnya Jumat kemarin (29/12).


 


Maka dari itu ia memutar otak dengan menyewa lahan untuk ditanaminya bunga gemitir. Dengan alasan ia tidak mungkin hanya berdiam diri saja di pengungsian, dan ia ingin tetap produktif karena tidak pernah tahu sampai kapan akan mengungsi. “Pagi hari saya ke lokasi lahan yang saya sewa, sorenya kembali lagi ke pengungsian,” imbuhnya.


 


Arta menambahkan, dirinya menghabiskan biaya sekitar Rp 35 juta untuk menanam bunga gemitir tersebut, biaya itu sudah termasuk sewa traktor, plastik polibag, bibit hingga membayar tenaga untuk mengolah lahan tersebut. Dengan harga sewa lahan per arenya adalah Rp 50 ribu sekali panen. “Dan dari menanam untuk bisa dipanen butuh waktu 50 hari,” pungkasnya.


 


Ia pun berharap nantinya panen bunga gemitir miliknya mendapatkan hasil yang maksimal sehingga ia tetap memiliki bekal selama di pengungsian. 

Editor : I Putu Suyatra
#gunung agung