Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keberadaan Pule di Setra, Berawal dari Dewi Uma yang Diusir Dewa Siwa

I Putu Suyatra • Selasa, 24 September 2019 | 01:01 WIB
Keberadaan Pule di Setra, Berawal dari Dewi Uma yang Diusir Dewa Siwa
Keberadaan Pule di Setra, Berawal dari Dewi Uma yang Diusir Dewa Siwa


DENPASAR, BALI EXPRESS - Berbagai pohon di Bali dianggap memiliki manfaat dan memiliki nilai-nilai magis. Salah satunya adalah Pohon Pule yang selain kaya akan manfaat juga menyimpan nilai mistis. Oleh karena itu, di satu sisi masyarakat Bali menggunakan Pule untuk berbagai keperluan, namun di sisi lain Pule juga dianggap angker.


Pulai (Alstonia scholaris) atau yang dalam Bahasa Bali dinamakan Pule adalah sebuah pohon yang hidup di daerah tropis. Keberadaan pohon yang khas dengan daunnya yang berbentuk lonjong dan menjari ini tidak asing di Bali. Bahkan dari kejauhan masyarakat Bali bisa mengenalnya karena daun mudanya yang mengkilap ketika diterpa sinar mentari.


Pule dapat ditemukan di hampir seluruh tempat di Bali, namun umumnya di tempat yang dianggap sakral, seperti pura dan kuburan. Seperti pohon-pohon besar yang dianggap bertuah lainnya, biasanya pada batangnya dililitkan kain berwarna tertentu misalnya kain putih kuning atau kain poleng yang bercorak seperti papan catur. Hal ini menandakan bahwa pohon tersebut harus dilestarikan.


Dari kacamata penduduk Bali, Pule memiliki beberapa segi manfaat. Pertama, Pule memiliki manfaat dalam bidang kesehatan sebagai bahan baku obat-obatan tradisional. Mulai dari ujung akar hingga ke ujung daunnya sangat berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit.


Kedua, kayu Pule dimanfaatkan oleh masyarakat Hindu yang ada di Bali sebagai bahan dasar alat-alat yang berhubungan dengan seni sakral, seperti tapel (topeng), kulkul (kentongan), patung, dan lain-lain yang umumnya digunakan di pura atau upacara Hindu.


Ketiga, Pule adalah pohon yang cepat tumbuh dan berdaun lebat, sehingga menjadi pohon yang banyak menyumbang oksigen sekaligus sebagai pohon perindang.


Menurut I Made Adi Surya Pradnya, yang akrab disapa “Jro Dalang Nabe Roby” saat ditemui Bali Express pada Jumat (1/7/2016), keberadaan Pule di kuburan memiliki mitologi. Menurut versinya, diceritakan bahwa di masa lampau Dewi Uma diusir dari surga oleh Dewa Siwa karena melakukan kesalahan. Dewi Uma kemudian turun ke bumi dan tinggal di setra (kuburan). Dewi Uma yang marah dan sedih menunjukkan wajah menyeramkan. Bahkan beliau tidak lagi memperhatikan penampilannya, sehingga rambutnya dibiarkan awut-awutan dan badan yang tidak terurus sehingga disebut Durga.


 


Setelah sekian lama, Dewa Siwa mulai rindu kepada Dewi Uma dan turunlah Beliau ke mayapada dengan merubah wujud sebagai Barong. Dewa Siwa yang telah berwujud Barong tersebut kemudian menemukan Dewi Durga di kuburan. Singkat cerita, setelah Barong tersebut memperkenalkan dirinya diterimalah oleh Dewi Durga. Saking rindunya terjadi persenggamaan. “Jadi sebenarnya terjadi persenggamaan, mereka berkasih-kasihan. Tidak berkelahi seperti cerita Calonarang itu,” ungkapnya.


 


Doktor termuda IHDN Denpasar tersebut melanjutkan bahwa dari persenggamaan tersebut, lahirlah berbagai jenis pohon, yakni Pule, Kepah, Kepuh, Rangdu, dan sebagainya. Oleh karena itu, pohon-pohon tersebut tumbuh subur di kuburan. Dewa Siwa kemudian bersabda bahwa pohon-pohon tersebut dapat dimanfaatkan. Salah satunya adalah Pule yang bisa digunakan untuk tapel dan pengobatan.


“Tapi walaupun bunganya bagus, tidak diperkenankan digunakan sebagai sarana upacara,” lanjutnya.


Di samping itu, karena wujud fisik pohon Pule yang cenderung besar dan rindang tersebut menarik makhluk halus untuk tinggal di sana. Oleh karena itu, menurut dosen IHDN tersebut, tidak diperkenankan menyembah pohon Pule dan meminta sesuatu. Jika pun ada yang menghaturkan sesajen di sana, hanya sebatas menghormati dan berterima kasih karena telah mengambil manfaat serta bagian pohon tersebut.


Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa Pule tumbuh di areal pura. Menurutnya hal tersebut tidak masalah. Yang terpenting yang dipuja adalah Tuhan, bukan pohon Pule atau makhluk halus tersebut.


“Jadi kalau ada yang berdoa di pohon tersebut kemudian meminta sesuatu, itu yang tidak diperkenankan,” jelas praktisi spiritual kelahiran 1986 tersebut.


Ia menekankan bahwa di dalam Kitab Bhagavadgita sudah dijelaskan mengenai pemujaan. Jika seseorang memuja leluhur, ia akan mencapai alam leluhur. Jika memuja dewa akan sampai ke alam dewa, dan jika memuja Tuhan akan sampai pada Tuhan.


Lalu bagaimana jika pohon tersebut tumbuh di pekarangan? Ia mengatakan bahwa energi pohon Pule tidak bagus sehingga sebaiknya dipindahkan. Jika Pule tersebut sudah terlanjur besar, mungkin memerlukan beberapa sarana ritual. Di samping itu, secara logika apabila pohon besar tumbuh di pekarangan akan membatasi ruang gerak atau bahkan membahayakan penghuni rumah tersebut seperti risiko tertimpa dahan patah atau tumbangnya pohon tersebut.


 

Editor : I Putu Suyatra