Tarian dibuka dengan penampilan satu orang penari yang tampil lebih dulu. Stakato tarian beriringan dengan gamelan yang ditata apik Ketut Pany Riyandhi. Lima menit kemudian penari lainnya muncul. Dengan formasi 5 orang penari perempuan, Tari Pancasila terlihat menawan.
Perlahan lima orang penari itu membentuk formasi-formasi menyerupai lambing sila dalam Pancasila. Seperti, bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng serta padi dan kapas.
Konon tarian ini diciptakan oleh Maestro Tari asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu. Tetapi tarian tersebut diciptakan dan dipopulerkan di wilayah desa Kalisada, Kecamatan Seririt. Kesenian itu digarap oleh beberapa seniman. Mereka memilih berkarya lewat seni daripada turut berpolitik pada jaman setelah kemerdekaan RI. “Penciptanya Ketut Merdana. Ide dasarnya Pak Ketut itu mengajak teman-teman seniman pada jaman kemerdekaan untuk tidak berpolitik, tapi berkesenian. Jadi diciptakanlah tari Pancasila ini, atas kecintaannya terhadap Pancasila dan rasa nasionalisme saat kemerdekaan, untuk mengisi kemerdekan. Itu sekitar tahun 1950an,” ujar Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan, Kabupaten Buleleng, Wayan Sujana.
Proses penyelarasan gerak dan tabuh tentu mengalami jalan berliku. Ingatan penari yang menarikan tarian ini sebelumnya telah lama mengendap. Usia yang sudah matang pun membuat mantan penari harus dibimbing kembali melalui tabuh agar ingatan gerak tari kembali. Usaha Dinas Kebudayaan Buleleng dengan menggandeng Sanggar Seni Wahana Santhi pun membuahkan hasil. Tari Pancasila serta Tari Tani berhasil direkonstruksi. “Karena ini sudah lama sekali tidak pernah dipentaskan. Bahkan tidak ada penerusnya. Penari yang lawas juga terkendala ingatan. Tapi kami bersyukur ini bisa diselesaikan sesuai harapan,” terang Ketut Pany Riyandhi, penata tabuh Tari Pancasila, Sanggar Seni Wahana Santhi, Umejero.