BALIEXPRESS.ID - Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menegaskan pentingnya penguatan kearifan lokal sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam seminar nasional “Ketahanan Pangan sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal” di Universitas Indonesia (UI).
Dalam paparannya, Sanjaya menekankan sistem subak sebagai strategi peningkatan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal di Bali.
Ia menjelaskan bahwa subak telah menjadi fondasi kehidupan petani Bali selama berabad-abad sebagai sistem irigasi tradisional yang memadukan rekayasa pertanian dengan nilai spiritualitas.
“Subak merupakan organisasi tata kelola air berbasis gotong royong yang hingga kini masih dipegang teguh. Tradisi ini tetap dijaga melalui awig-awig dan hukum adat sehingga ketahanan pangan di Kabupaten Tabanan dapat dipertahankan secara berkelanjutan,” urainya.
Menurut Sanjaya, nilai-nilai kearifan lokal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional.
Dengan potensi alam yang subur, bentang alam yang lengkap dari gunung, danau, hingga laut, Tabanan disebut telah mencapai kedaulatan pangan dan berperan sebagai lumbung pangan Bali.
Lebih lanjut, Sanjaya menghubungkan nilai-nilai subak dengan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara Tuhan, alam lingkungan, dan sesama manusia.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari ajaran leluhur yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali.
“Ajaran ajaran kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur berkorelasi terhadap ketahanan pangan yang memang menjadi kebijakan nasional saat ini,” jelas Sanjaya.
Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali, Bupati Sanjaya menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk tetap berpijak pada sektor pertanian sebagai prioritas utama.
Ia bahkan mengajak generasi muda untuk kembali mencintai pertanian sebagai profesi mulia.
“Tetap berpijak kepada sektor pertanian, sektor pertanian adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, sebuah persembahan kepada alam semesta, sehingga nantinya pariwisata adalah bonus. tetapi pariwisata adalah bonus” tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan