BALIEXPRESS.ID - Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung kini berupaya memperluas pasar penyerapan gabah petani.
Perusahaan plat merah ini pun bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta, yakni PT Food Station Tjipinang Jaya.
Kerja sama yang dilakukan untuk menampung kelebihan produksi beras di Badung sekaligus memperkuat rantai pasok pangan di Bali.
Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha mengatakan, kerja sama ini bukan untuk mengirim beras ke Jakarta.
Namun dalam kerjasama ini akan mengisi kebutuhan pasar Food Station yang ada di Bali.
"Jadi bukan Badung mengirim beras ke Jakarta, jadi kebetulan food station punya market ada di Bali, kita mengisi marketnya itu. Jadi konteksnya, sementara market yang ada di Bali yang hampir sekitar Rp 1 miliar per bulan kita yang isi," ujar Pasek Wedha, saat ditemui Kamis (5/2).
Pihaknya menyebutkan, potensi produksi dari Rice Milling Unit (RMU) yang dikelola perumda cukup besar.
Jika beroperasi optimal selama 24 jam, kapasitas produksi dapat mencapai ratusan ton per bulan.
“Kalau kami hitung, secara kasar, mungkin kalau beroperasi full, optimal 24 jam, itu kemungkinan bisa sampai 600 ton per bulan,” ungkapnya.
Dalam kerjasama ini, Pasek Wedha menerangkan, tahap awal ditargetkan penyerapan beras sekitar 500 ton per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan dari petani Badung dan wilayah sekitarnya.
“Sementara mencukupi, karena sementara kami mau coba 500 ton per bulan, kebutuhannya 1.000 ton gabah per bulan, itu kondisi memang surplus,” terangnya.
Sementara Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo mengaku, Bali sebagai pasar potensial karena kebutuhan beras masih tinggi.
Apalagi selama ini pasokan sebagian masih dipenuhi dari luar daerah. Sebab dalam data BPS di tahun 2024 kebutuhan beras di Bali mencapai 500 ribu ton.
“Saat ini kan Kami ada penjualan senilai kurang lebih Rp 1-2 miliar per bulan itu bukan hanya beras tapi juga ada gula juga,” ungkapnya.
Dodot pun berharap, kerja sama ini mampu meningkatkan penjualan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kolaborasi antar BUMD ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga gabah, memperluas penyerapan hasil panen petani, serta memastikan kebutuhan pangan Bali tetap terpenuhi secara berkelanjutan.
Food Station juga melihat Badung sebagai lokasi strategis karena memiliki pasar besar dari sektor hotel, restoran, dan katering.
“Kenapa memilih Badung, karena Badung ini kan marketnya memang besar kemudian hotel banyak di sini,” imbuhnya.
Editor : Putu Resa Kertawedangga