Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pentingnya Kulkul dalam Budaya Bali: Makna, Jenis, dan Ritual

I Putu Suyatra • Kamis, 13 Juli 2017 | 02:21 WIB
Photo
Photo

DENPASAR, BALI EXPRESS - Kulkul, juga dikenal sebagai kentongan, adalah salah satu alat komunikasi tradisional yang masih digunakan secara luas di Bali hingga saat ini. Alat ini memiliki makna khusus dan keberadaannya sangat sakral dalam budaya Bali.

Kulkul di Bali adalah sebuah benda sakral yang didirikan di tempat tinggi, sehingga suaranya dapat terdengar ke berbagai arah mata angin. Tingginya ini mencerminkan tingkat kesakralan dan kebersuciannya.

Gede Anom Ranuara, seorang Budayawan Kota Denpasar, menjelaskan, "Kulkul berfungsi sebagai tanda, penyampai pesan, dan pemanggil, sesuai dengan kesepakatan masyarakat yang menggunakannya."

Jenis Kulkul di Bali dibagi menjadi beberapa kategori, termasuk kulkul pura, kulkul bale banjar, kulkul puri, dan kulkul sekaa seperti seka subak, sekaa teruna, dan sekaa tuak.

Kulkul pura digunakan di pura untuk upacara keagamaan, sedangkan kulkul puri lebih berfokus pada kegiatan kemasyarakatan di puri atau upacara adat. Dahulu, kulkul di puri digunakan sebagai alat pengumuman penting seperti serangan musuh, perang, atau penobatan seorang raja.

Kulkul bale banjar memiliki peran yang lebih umum dalam kehidupan sosial dan adat.

Alat ini digunakan untuk memberitahu warga banjar tentang peristiwa seperti kebakaran, banjir, kerusuhan, dan sejenisnya.

Kulkul sekaa, di sisi lain, digunakan secara lebih khusus, seperti kulkul subak yang dipakai untuk mengumpulkan petani untuk rapat.

Bentuk kulkul bisa bervariasi, tetapi yang paling penting adalah bunyi yang dihasilkan, bukan bentuk fisiknya.

Ada dua jenis kulkul berdasarkan jenis suaranya: kulkul lanang (laki-laki) dan kulkul wadon (perempuan).

Kulkul lanang biasanya lebih besar dan menghasilkan suara yang lebih berat, sementara kulkul wadon lebih ramping dengan suara yang lebih tinggi.

Ini mencerminkan konsep keberimbangan dalam budaya Bali, di mana dua hal yang sejatinya satu.

Dalam filosofi Hindu Bali, kulkul memiliki dewa pelindung yang dikenal sebagai Sang Hyang Iswara, Dewa Suara atau Bunyi.

Dewa ini dipuja sebagai pemberi kekuatan pada kulkul dalam berbagai peran, seperti Sang Kala Genter untuk kulkul lanang dan Sang Kala Gentar untuk kulkul wadon.

Sebelum kulkul dibuat, diawali dengan mencari hari baik, kemudian diikuti dengan upacara penyucian dan permohonan kekuatan gaib dengan upacara pasupati. Oleh karena itu, kulkul adalah benda sakral yang memancarkan kekuatan gaib.

Bahan kulkul juga bervariasi, dengan kayu ketewel, kayu nangka, dan kayu intaran sebagai pilihan umum.

Kayu ketewel lebih umum digunakan karena mudah ditemukan, meskipun suaranya mungkin kurang baik dan memerlukan waktu untuk disesuaikan.

Kayu intaran, sementara itu, lebih sulit ditemukan, tetapi menghasilkan suara yang lebih jelas dan stabil.

Tata cara membunyikan kulkul, yang dalam bahasa Bali disebut "nepak kulkul," harus sesuai dengan tujuan pengumuman.

Bunyi kulkul mengikuti pola tertentu, dan tanda-tanda seperti garis bawah dan cetak miring tebal memiliki makna khusus dalam pengumuman.

Apabila ada peristiwa khusus seperti kebakaran, bunyi kulkul akan berbeda dan lebih cepat untuk memanggil bantuan.

Untuk kejadian lain seperti gempa bumi, gunung meletus, dan banjir, kulkul juga digunakan untuk memperingatkan masyarakat.

Acara-acara adat seperti upacara odalan di pura atau berbagai kegiatan sosial juga memiliki bunyi kulkul khusus.

Masyarakat Bali memandang kulkul sebagai simbol penting dalam budaya mereka, dan pemahaman tentang jenis suara kulkul dan cara penggunaannya sangat mendalam.

Kulkul bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian integral dari identitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang kaya akan budaya dan tradisi.

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #denpasar #tradisi #kulkul #kentongan