BALI EXPRESS, DENPASAR –Lebih gamblang Guru Mangku Hipno mengatakan, jika ada orang karasukan, tidak semestinya semua permintaan orang tersebut dipenuhi. Pola seperti itu harus distop.
Untuk menyadarkan orang tersebut, lanjut Guru Mangku Hipno, ada beberapa cara yang paling sederhana. Pertama, umat harus paham bahwa tubuh manusia terdiri dari unsur api di bagian tubuh sebelah kanan, unsur air di tubuh sebelah kiri, dan unsur angin di tengah-tengah. Saat orang karasukan, maka yang tinggi adalah unsur apinya, sehingga perlu didinginkan dengan air.
“ Untuk menyadarkan adalah dengan menyiramnya dengan air yang agak dingin dan tubuh sebelah kanannya diurut mengarah ke bawah atau turun,” ujarnya.
Selanjutnya, kalau karauhan, yang tinggi adalah unsur anginnya. “Untuk menyadarkannya, urut pada tulang belakang dan tekan pada bagian tulang menonjol di tengkuk,” jelasnya.
Bisa pula dengan mohon tirtha kepada Ida Bhatara. Tirtha tersebut nantinya diberikan kepada yang bersangkutan. Sedangkan kalau penyakit psikosomatis, unsur airnya banyak. “Gunakan media berupa dupa, pasepan, atau yang hangat-hangat. Urut pada bagian tubuh sebelah kiri mengarah ke bawah atau turun,” bebernya.
Di samping itu, jika ingin menggunakan mantra, maka yang paling sederhana adalah mantram Gayatri. Paling mudah menurutnya adalah untuk mengembalikan kesadaran yang bersangkutan, diminta duduk, tenangkan, suruh atur nafas dan melemaskan diri, pasti hilang. Dalam metafisika disebut pengembalian kesadaran disebut termination.
“Kalau ditampanin (dituruti), dipancing-pancing, pasti makin menjadi-jadi,” ujarnya.
Cara lainnya untuk menyadarkan karasukan yang mengamuk, perlu orang yang stratanya lebih tinggi. Misalnya pamangku, maka yang menyadarkan adalah Ida Pandita. Kalau anak-anak atau remaja, perlu orang dewasa atau orang tua.
“Intinya yang membuat ia merasa segan. Tapi yang paling penting adalah menenangkannya. Karena fenomena karauhan, kerasukan, dan penyakit kejiwaan itu sama. Selain itu, baru ditambahkan unsur air atau api seperti di awal,” ujarnya.
Terakhir, Guru Mangku Hipno mengajak masyarakat untuk lebih cerdas menanggapi fenomena karauhan dan karasukan. “Dalam Weda kan sudah dijelaskan bahwa unsur upakara terdiri dari pattram (dedaunan), puspam (bunga), phalam (buah), dan toyam (air). Nah kalau ada yang meminta di luar itu, berarti ada unsur bhuta yang masuk ke dalam pikiran seseorang,” tandasnya. Selain itu, Guru Mangku Hipno juga mengimbau agar masyarakat senantiasa meningkatkan sraddha (keyakinan) dan bhakti (kesetiaan) kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan yang berlandaskan ajaran Dharma.
Editor : I Putu Suyatra