Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Sisi Lain Tukang Undang Leak Saat Pentas Calonarang

I Putu Suyatra • Senin, 2 Oktober 2017 | 16:19 WIB
Begini Sisi Lain Tukang Undang Leak Saat Pentas Calonarang
Begini Sisi Lain Tukang Undang Leak Saat Pentas Calonarang

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pementasan Calonarang identik dengan adanya barong dan rangda, yang melambangkan rwa bhineda (baik dan buruk) dalam kehidupan. Di samping itu, juga ada beberapa tarian pendukung pementasan. Yang membuat pementasan menjadi masyarakat tertarik menonton, salah satunya adalah adanya juru undang, yang tentunya berbarengan dengan keluarnya watangan. 

Melakoni sebagai juru undang yang bertugas mengundang dan menantang orang yang melaksanakan Aji Ugig (Ilmu Hitam), punya tantangan tersendiri. Komang Indra Wirawan yang  sampai detik ini menjadi juru undang, tak menampik kenyataan tersebut.
Spesialisasi yang dilakoninya ini, berawal  dari menjadi penari rangda.
Dari pengalaman yang dilewati, Wirawan yang ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Pasraman Gases Sesetan, Denpasar, kemarin, mengaku pernah merasakan adanya gangguan sekala dan niskala ketika mengundang  tokoh leak untuk diajak beradu kawisesan, sekaligus agar mengacaukan prosesi Calonarang.  Gangguan  seperti itu sangat wajar, karena selain menantang, juga biasa dilakukan di Pura Dalem atau tempat suci lainnya untuk kemudian dilaksanakan di pemakaman atau setra.
Proses Indra Wirawan menjadi 'tukang nantang' orang yang menjalankan Aji Ugig, juga cukup panjang. Ia mengaku memulainya dari menjadi  matah gede hingga  penari rangda .
Dalam melakoni sebuah penokohan tersebut, lanjutnya, harus ada kesiapan jasmani dan rohani. "Harus adanya dasar, mengetahui tentang budaya, pengetahuan yang luas dan mempunyai multitalenta dalam penokohannya," terang pria yang menyandang gelar doktor tersebut. 
Sementara watangan (orang hidup jadi mayat) yang dimaksudkan, adalah pemeran yang meninggal karena sakit akibat Desti Teranjana Aji Ugig (ilmu yang disalahgunakan),berdasar cerita rakyat pada Calonarang. 
Dikatakannya, keberadaan Calonarang di Bali, tidak lepas dari sakralisasi dari sebuah pura. Di mana dengan adanya sasuhunan berupa barong dan rangda. Ketika dua unsur itu masih ada, maka Calonarang akan tetap eksis di Bali. Dikarenakan ada tradisi nyolahan (menarikan) Ida Bhatara berupa barong dan rangda tersebut.
Indra Wirawan juga menjelaskan, bahwa ketika tahun 1980, pementasan Calonarang dilakukan dengan baik dan benar, sesuai pakem yang berlaku. Baik yang dimaksudkan adalah belajar dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu, belajar mendengar dari orang yang berpengalaman, dan mawinten ketika mau menggeluti seni tersebut. Namun, sekarang kadang proses itu banyak yang menganggapnya sepele, terkadang juga ditiadakan. Pada tahun itu pula proses ngundang tidak ada, karena sudah masuk kesatuan di dalam pementasan.
Namun saat ini, ngundang dilakukan sebagi daya tarik penonton. Terlebih dalam pementasan Calonarang. Sebab, jika zaman sekarang tidak adanya juru undang, apa lagi watangan, pentas Calonarang  tidak ada  daya tarik bagi masyarakat yang akan menontonnya. Dikarenakan hal yang bersifat gaib dan sakral diemban oleh juru undang. "Pertama, juru undang sebagai pelengkap dari pementasan Calonarang, kedua sebagai penyampaian pesan dari arti dan makna Calonarang itu sendiri, dan ketiga sebagai media untuk menutupi kekurangan pementasan," bebernya. 
Soal prosesnya, Indra Wirawan menjawab hanya melalui tiga dasar kerangka Agama Hindu yang terdiri dari tattwa, susila, dan upacara. Terpenting ia katakan adalah susila, berupa etika dalam pementasan. "Jika pentas Calonarang dibarengi dengan merasa diri paling sakti dan paling ririh (pintar), maka akan menyebabkan hal yang tidak baik. Seperti rangda tertusuk, dan gangguan lainnya," terang salah satu juru undang termuda tersebut. 
Ia menerangkan jika hal itu terjadi, bukan seolah sasuhunan tidak menganugerahkan power pada saat ngayah. Namun, seharusnya introspeksi kedalam diri  terlebih dahulu, apakah sudah  melaksanakan prosesi dengan baik dan benar, seperti  upakara, mantra, dan mengisi diri dengan ilmu pengetahuan. Ditanya soal sastra, ia mengaku hanya mendalami sastra Tutur Sang Hyang Aji Saraswati yang berisi tentang sasuluk dan etika menjadi seorang penari dalam pementasan Calonarang.
Tak disanggahnya, ia sering mengalami beberapa hambatan berupa gesekan secara niskala  yang dirasakan saat pentas. Namun, semua gangguan itu dapat diatasi. " Saya hanya berpikir bahwa masolah untuk ngayah. Dengan menjalankan dharma dan swadharma secara baik dan benar." jelas dosen Fakultas Seni  IKIP PGRI Bali ini.
Ketika pementasan ngundang, lanjutnya,  tak jarang pula gangguan secara nyata  seolah-olah sengaja memancingnya agar emosi. Kerap ada yang nyeletuk saat ngundang leak bahwa tidak ada apa apa. "Sing ada apa ditu. Sing ada kene ditu, " ujarnya.
Semua itu dilakukan dengan tujuan agar melemahkan polularitasnya di pementasan. 
Akan tetapi Indra  Wirawan tidak terpancing dengan gangguan model seperti itu, bahkan semangatnya ngayah  kian bangkit. Apa sesungguhnya makna dari ngundang saat pentas Calonarang tersebut?
Ditegaskannya, terkait yang diundang dalam Calonarang adalah  yang ada di sekala dan niskala, yakni bhuta kala,  bhuta bhuti, raksasa-raksasi, dan leak desti ngelaran Aji Ugig (ilmu yang disalahgunakan), meskipun dari panganugerahan Ida Bhatara.  Sebab, jika ilmu yang disalahgunakan, terlebih untuk hal yang negatif, ilmu tersebut tidak ada gunanya. 
Ngundang secara sekala, lanjutnya,  yakni dengan adanya media upakara berupa bebantenan tawas sari, tawas daun, segehan, dan lain sebagainya.  Dengan tujuan, agar mereka datang untuk diberi makan dan kembali ke Bhuwana Agung atau ke unsur alam semesta. (Putu agus adegrantika) 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #denpasar