Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Pandangan Hindu Soal Fenomena LGBT

I Putu Suyatra • Kamis, 8 Maret 2018 | 14:12 WIB
Begini Pandangan Hindu Soal Fenomena LGBT
Begini Pandangan Hindu Soal Fenomena LGBT

BALI EXPRESS, DENPASAR - Lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) menurut sastra yang ada dalam Agama Hindu sangat tidak dibenarkan. Tapi, faktanya di hal itu tidak bisa dipungkiri memang ada. Sehingga, jika terlahir dan memiliki gen LGBT, jadikanlah tokoh dalam Itihasa Mahabharata sebagai panutan.


Itulah yang disampaikan Wakil Ketua PHDI Bali, Drs. Mangku Pasek Swastika saat menjadi pembicara dalam fokus group diskusi yang digelar Himpunan Jurusan Mahasiswa Fakultas Brahama Widya, IHDN Denpasar, Rab u (7/3).


Menurut Mangku Pasek Swastika, berdasarkan Kitab Manawa Dharma Sastra, LGBT tidak dibenarkan. “Menurut kitab-kitab rujukan yang saya baca, LGBT merupakan penyimpangan dan tidak sesuai dengan Sabda Tuhan. Seperti yang tertera dalam Manawa Dharma Sastra IX, 96,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Kampus IHDN Denpasar, Rabu (7/3).


Lanjutnya, pada kitab suci itu terdapat kata-kata  untuk menjadi ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah maka laki-laki itu diciptakan. Selain hal tersebut dia menjelaskan ketika terjadinya pernikahan merupakan mereka yang berjenis kelamin lelaki dan perempuan dengan aktivitas dan berkewajiban beragama. Di samping itu, Swastika mengaku pernikahan yang ideal adalah melibatkan laki-laki dengan perempuan, dan bukan sesama jenis.


Pasek Swastika menjelaskan LGBT juga dapat dikaitkan dengan hukum karma dari seseorang karena terdapatnya beberapa faktor yang mempengaruhi.


“Kalau orang seperti itu kan ada banyak faktor, yaitu bisa dari transgender maupun lingkungan. Kalau dari gender ya dapat dipermaklumi, dan sepanjang tidak mengganggu susila tidaklah menjadi permasalahan. Yang menjadi masalah ketika mereka dapat mengganggu ketentraman maka akan kena hukum adat atupun formal,” terang Pasek Swastika.


Pada kesempatan itu dia juga menguraikan manusia dengan segala sumber daya dan upaya akan berimprovisasi bernalar dan bernaluri. Selain itu, pada Itihasa Mahabharata terdapat penokohan Srikandi yang menurutnya dapat digolongkan pada sifat LGBT tersebut.


“Dalam cerita itu Srikandi dikisahkan lahir perempuan dan mengambil pekerjaan seperti laki-laki atau dapat diartikan menjadi seorang laki-laki. Di sana tak satu pun yang mengutuknya, bahkan namanya tetap harum sebagai pahlawan besar,” urai pria asli Jembrana tersebut.


Pada tempat yang sama, salah satu dosen yoga dan psikologi agama I Made Sugata mengatakan dari perspektif Hindu ketika menginginkan anak yang memang benar-benar suputra berawal dari kandungan. Supaya ketika lahir perempuan sesuai dengan sifatnya yang perempuan begitu juga sebaliknya. Sehingga tidak ada lagi lahir cewek namun sifatnya seperti lelaki terlebih jika suka dengan sesama perempuan. Dikarenakan dari dalam kandungan mempengaruhi juga psikolog cikal bakalnya ketika lahir.


“Ketika unsur laki dan perempuan yang dipertemukan oleh pasangan, maka lahirlah anak yang memiliki dua unsur. Sedangkan untuk menyesuaikan dengan fisiknya, itu semua tergantung dari aspek pendidikan yang secara Hindu memang sejak dari dalam kandungan sampai lahir,”  jelasnya.


Jadi menurutnya mencegah mendominasinya LGBT itu tidak hanya baru muncul sifat-sifatnya yang mengarah seperti itu baru direhabilitasi. Padahal itu semua dapat diakali dengan pendidikan, cara pendekatan sejak kecil jika perempuan diberikan mainan yang memang untuk anak perempuan. Ketika lelaki berikan ia mainan dan aspek pendidikan memang sebagai seorang laki-laki.


“Selain aspek itu, ada juga dalam proses pernikahan. Sebaiknya diupacarai terlebih dahulu baru melakukan hubungan. Karena hal itu juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak nantinya,” imbuh Sugata. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu