BALI EXPRESS, GIANYAR - Ashram Shri Radha Madhava melaksanakan festival unik untuk bermain dan menyenangkan 'anak ajaib' Krisna dengan perahunya. Kisah kehebatan Krisna si anak ajaib ini, sudah tak asing lagi. Dalam kisah Mahabarata dan kisah unik ketika kecil, sampai saat ini masih diceritakan. Seperti apa Festival Perahu Krisna dan makna yang tersembunyi di baliknya?
Ashram Shri Radha Madhava yang terletak di Jalan Siangan, Banjar Lokaserana, Gianyar terlihat riuh pekan kemarin. Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) tiba, ibu – ibu tengah sibuk menyiapkan beragam hidangan dalam beberapa nampan besar di depan gerbang ashram. Di depan pintu masuk, sejumlah pria dengan penampilan khasnya menyambut tamu yang datang.
Ashram terbilang cukup luas, dengan sebuah dapur besar, ada aula pertemuan. Ada juga kolam dengan patung bunga teratai besar serta sebuah pondok doa di tengah halaman, yang membuat tempat terlihat sangat indah. Apalagi, acara dipusatkan di kolam dengan patung teratainya. Tampak pula sebuah sampan kecil yang bergoyang di antara patung teratai itu. Hiasan lampu gantungnya yang berpendar biru menambah indah dekorasi Ashram Shri Radha Madhava malam itu. Tiga buah patung Krisna dan Radha terlihat dipajang di sudut halaman dalam sebuah altar persembahan. Beberapa anak kecil sibuk berlarian mengitari kolam teratai, sementara yang lainnya sibuk menghias perahu kecil dengan rangkaian bunga.
Prabu Kishora Krishna Das, salah satu pengurus asram memaparkan kisah Sang Krisna yang diwujudkan dalam Festival Perahu tersebut. “Candana Yatra Festival atau yang disebut juga Festival Perahu Krisna ini diselenggarakan setiap setahun sekali, selama 21 hari. Namun, di Asram Shri Radha Madhava hanya merayakannya selama tiga hari berturut – turut,” ujarnya. Menurutnya, festival ini terinspirasi dari salah satu kisah Sang Krishna di kitab Bhagawad Gita. “Dalam Bhagawad Gita terdapat sebuah kisah Shri Krisna yang menyamar sebagai tukang perahu. Ia bertugas menyeberangkan orang – orang melewati sebuah sungai yang besar. Nah, dari kisah tersebut, diadakanlah sebuah festival untuk menyenangkan beliau,” ungkap Prabu Kishora.
Dalam Kitab Bhagawad Gita diceritakan Krisna menyamar sebagai tukang perahu di Vrindavan, India. Ia bertugas menyeberangkan orang – orang yang ingin menuju kota. Dikisahkan, seorang saudagar kaya bersama keluarga dan anak buahnya menyewa Krisna dan perahunya untuk menyeberang. Mereka membawa makanan serta pakaian dan perhiasan untuk dijual ke kota. Krisna menyanggupi untuk menyeberangkan mereka dengan syarat diberikan imbalan, berupa seluruh makanan yang mereka bawa. Singkat cerita, saudagar kaya menerima syarat tersebut dengan lapang dada.
Di tengah perjalanan, Shri Krisna merasa lelah dan mogok untuk mendayung perahunya. Seluruh penumpang keheranan dan bertanya. Shri Krisna kembali mengajukan syarat untuk memijat seluruh tubuhnya agar ia tak merasa kelelahan. Syarat tersebut diterima sang saudagar dengan senyum, ia meminta seluruh penumpang untuk memijat seluruh tubuh Krisna secara bersama – sama.
Setelah letihnya hilang, Krisna kembali mendayung perahunya. Beberapa meter berjalan, Krisna kembali berhenti. Ia meminta seluruh penumpang untuk membuang seluruh perhiasan yang dibawa ke dalam sungai. Merasa permintaan tersebut tak masuk akal, mereka menolaknya dengan tegas. Tiba – tiba air sungai mendadak bergemuruh, perahu tersebut bergoyang. Mereka panik melihat banyak air yang menggenangi perahu yang mereka tumpangi. Suara jerit histeris terdengar di antara sayup sayup gemuruh air. Dengan terpaksa mereka membuang semua perhiasan dan barang berharga yang mereka bawa ke dalam sungai. Anehnya, seketika air menjadi tenang. Air yang menggenang di perahu dibersihkan kembali. Merasa curiga, sang saudagar membuka mantel si tukang perahu. Alangkah terkejutnya ia, ketika melihat Shri Krisna dengan serulingnya tengah mengayuh sampan itu untuk mereka.
“Dengan senyum jenaka Shri Krisna mengingatkan kepada kita semua, bahwa tak ada benda apapun di dunia ini yang benar – benar berharga kecuali karma dan budi baik,” ungkap Prabu Kishora.
Festival yang berlangsung dalam dua sesi ini, dimulai dengan pembacaan Kitab Bhagawad Gita di pelataran halaman ashram. Para pengikut Krisna tampak memadati halaman asram malam itu. Mereka duduk berhimpitan mengitari kolam teratai. Usai pembacaan Kitab Bhagawad Gita, Prabhu Kishora memimpin perayaan festival. Ia bersama tiga brahmana lainnya tengah sibuk mempersiapkan patung Shri Krisna di altar persembahan. Ketika Patung Shri Krisna tengah dipersiapkan, seluruh pengikut yang malam itu hadir berdiri sembari bernyanyi. Dengan alunan musik India, beberapa orang bahkan bernyanyi sambil menggerakan tubuhnya. Dan, ketika patung Shri Krisna diturunkan ke dalam perahu, semua orang berebut untuk dapat memegangnya. Ketiga patung tersebut disusun rapi di atas perahu kecil di kolam teratai. Patung Shri Krisna tampak dihisasi begitu banyak bunga. Perahu tersebut dituntun tiga orang brahmana mengelilingi kolam.
“Perahu itu mengelilingi kolam sebanyak 11 kali putaran. Dan, setiap kali berputar masing – masing gopi (pengikut Shri Krisna) akan menarik tali sampan itu secara bergiliran,” ujar Prabu Kishora.
Benar saja, ketika sampan tersebut dibawa berputar oleh ketiga brahmana, para pengikut Krisna yang berkerumun mengelilingi kolam berebut untuk dapat giliran menarik sampan tersebut agar tetap berputar. Bahkan, banyak di antara mereka melemparkan bunga serta buah ke dalam sampan ketika melewati mereka. “Ya mereka melemparkan bunga ke dalam sampan itu, tak hanya bunga banyak juga yang memberi uang. Itu hanya perwujudan persembahan kami kepada Shri Krisna, perwujudan cinta kami kepada beliau. Beliau memiliki segalanya, apalah arti persembahan kecil kami itu, tak seberapa,” ungkapnya.
Salah satu pengikut Krisna, Made Juliantara mengungkapkan, dalam aliran Krisna terdapat lima ajaran inti, yaitu Kala Tatwa (pengetahuan tentang waktu), Karma Tatwa (Pengetahuan tentang karma), Prakirti Tatwa, Jiwa Tatwa, dan Iswara Tatwa. “Dalam kitab Bhagawad Gita dijelaskan tentang intisari kehidupan yang disebut Sanatana Dharma. Keliama inti ajaran tersebut menjelaskan pada kita apa sesungguhnya tujuan kita hidup di dunia. Bagaimana cara kita agar dapat terlepas dari lingkaran punarbawa,” ungkap Juliantara.
Dalam Bhagawad Gita, ajaran Kala Tatwa mengajarkan tentang pengetahuan waktu dalam kehidupan. Karma Tatwa mengajarkan pengetahuan tentang adanya karma yang merupakan buah perbuatan. Prakerti Tatwa mengajarkan arti unsur badan material sebagai kekuatan kebendaan. Jiwa Tatwa berisi bekal kehidupan tentang asal muasal jiwa, dan bagaimana jiwa menyatu dengan Yang Kuasa untuk mencapai moksa. Sedangkan Iswara Tatwa merupakan ajaran yang berisi tentang adanya Tuhan dan kuasa beliau di dunia.
Juliantara juga menambahkan, Festival Perahu Krisna ini menyiratkan banyak makna kehidupan. “Setiap kegiatan yang dilakukan dalam festival ini banyak maknanya, contohnya ketika perahu dibawa berputar, itu mencerminkan kehidupan selalu berputar. Ketika beliau memberikan buah kepada semua gopi yang hadir, itu mencerminkan beliau memberi berkah kepada semua kehidupan berupa makanan dan penghidupan,” ungkapnya.