Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pengantin dan Layon Lewat Jaba Pura, Upacara Bisa Berantakan

I Putu Suyatra • Kamis, 21 Juni 2018 | 15:00 WIB
Pengantin dan Layon Lewat Jaba Pura, Upacara Bisa Berantakan
Pengantin dan Layon Lewat Jaba Pura, Upacara Bisa Berantakan

BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain diyakini sebagai nunas taksu, maupun tamba di Pura Luhuran Bingin yang terletak di Jalan Letda Made Putra, Denpasar juga memiliki beberapa pantangan. Salah satunya yang terpenting bagi tiga banjar sekitar pura tersebut adalah tidak diperkenankan melewati depan pura bagi pengantin dan jenazah. Ketika hal itu dilanggar maka diyakini bahwa dalam prosesi upacaranya tidak akan lancar bahkan bisa tidak karuan. 


Hal tersebut terungap saat pemangku pura, Jero Mangku I Wayan Ari Budiasa ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di jeroan Pura Luhuran Bingin, Rabu (13/6). Dirinya juga menjelaskan bahwa tujuh hari menjelang piodalan dilaksanakan upacara matur mapikeling. Sehingga dalam waktu senggang menjelang piodalan tersebut dimanfaatkan untuk mempersiapkan segala yang harus dipersiapkan untuk piodalan berlangsung.


“Tepat tujuh hari menjelang odalan kita haturkan sesajen mapikeling, karena besok dan seterusnya pengamong akan ngayah ada yang naik ke palinggih masang wastra dan sejenisnya,” papar Mangku Ari. 


Sedangkan piodalan di sana berlangsung selama tiga hari yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia. Sehingga pemedek biasanya yang datang dari Bukit Pecatu, Gulingan Mengwi, bahkan di beberapa daerah di Bali lainnya yang memang secara turun-temurun  sembahyang di sana.


Hal itu kemungkinan ia katakan pada zaman terdahulu leluhurnya memiliki ikatan persaudaraan sehingga sampai saat ini tidak berani memutuskan hubungan kekeluargaan yang telah lama terjalin tersebut. 


“Biasanya warga tiga banjar yang ada di sini yaitu Banjar Abasan, Kayumas Kelod dan Kayu Mas Kaja tidak berani membawa pengantin dan jenazah melewati pura. Karena ketika itu lewat niscaya prosesi upacaranya tidak akan berjalan mulus. Pasti ada saja hambatan sehingga menjadi tidak karuan,” ungkapnya. 


Sedangkan ketika pantangan itu dilanggar secara tidak sengaja dan prosesi berantakan, pihak keluarga diharapkan agar memohon maaf ke pura. Yaitu dengan banten seadaanya untuk mohon guru piduka, lantaran melanggar pantangan yang ada. Di samping itu guru piduka juga bertujuan untuk menanggulangi kekacauan yang ada di dalam keluarga tersebut.


 


Di samping hal tersebut, di Pura Luhuran Bingin juga tak jarang pemedek yang nangkil untuk memohon kelancaran dalam pemilihan umum. Baik yang akan nyaleg atupun seseorang yang akan mohon kelancaran dalam mencari sebuah jabatan dalam instansi pemerintahan. Sehingga pura  yang terletak di pusat kota itu nampak seperti pura biasa namun di dalamnya memiliki sebuah pengaruh yang sangat besar bagi pemedek.


 


Jero Mangku Ari juga mengungkapkan pura tersebut luasnya sekitar 20 are, dengan bentuk wilayahnya yang persegi empat memanjang  terdiri atas tiga Pura Ibu. Yaitu terdapat palinggih dari kalangan Pasek Gel-gel, Pura Trah Kerajaan Majapahit yang dominan dari kalangan puri setempat, dan  palinggih dari Sasuhunan yang malinggih di Pura Luhuran Bingin itu sendiri. 


 


“Makanya tak jarang pemedek yang pertama ke sini sangat kaget, karena pas dari luar kelihatan puranya sangat kecil sekali. Padahal di dalamnya luasnya bisa dilihat sendiri, berbeda jauh dari nampak dari jaba pura yang kelihatan sangat kecil,” imbuhnya. (habis) 


 

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #pura #sejarah pura